
Ibu dan mama pun saling toleh "kalau aku menolak maka wanita ini akan menertawai aku" ucap ibu dalam hatinya.
"Kalau aku menolak maka wanita norak ini akan cantik sendiri dan mengejek aku" ucap mama dalam hati.
Mereka pun berdua berbarengan berkata "okey."
Dokter pun tersenyum puas dan memperkenalkan mereka berdua dengan karyawan yang akan membantu mereka untuk berolahraga.
Aku yang selesai mengantar Hito ke sekolah pun segera pulang ke rumah untuk menjemput kakek "kebetulan mereka semua tidak ada jadi tidak akan ada banyak pertanyaan" celoteh ku namun dari belakang ku.
"Hiara" aku pun menoleh ternyata ayah yang memanggil ku.
"Bukannya ayah keluar untuk menjalankan rencana bisnis kita membuka nasi Padang" ucapku yang membuat ayah tersenyum.
"Ayah sudah menemukan lokasi yang pas, ayah mau pulang karena ingin membicarakan dengan kamu tapi kamu sudah ada rencana sendiri" ucap ayah yang membuat aku tidak bisa menyimpan rahasia apa pun di hadapannya.
Ayah pun mendengarkan apa yang aku katakan sehingga Ayah memelukku dan berkata "apapun itu Ayah percaya kepada putri Ayah" aku pun segera masuk ke rumah bersama ayah untuk menjemput Kakek.
Kami pun berangkat bersama-sama ke kantor Perkasa Jaya milik kakek yang di CEO oleh Roberto Kurniawan papa mertua ku, di dalam kantor semua mata tertuju kepada kami dan semua orang sangat menghormati kakek sehingga semuanya tersenyum dan menyapa.
Kami pun masuk ke dalam ruangan CEO, Papa mertua yang duduk sepertinya tahu dengan kehadiran kami sehingga menyambut kami dengan tersenyum, kami pun duduk bersama-sama "Terima kasih ya Hiara kamu sudah datang" ucap papa "ini" papa pun memberikan satu buah map kepadaku.
Saat aku menoleh kakek pun hanya mengangguk agar aku mengambilnya, setelah aku melihat ke arahnya aku membuka isi dari map itu "sekarang tanda tangan Hiara" ucap kakek kepadaku.
"Tapi ada satu yang ingin kakek pinta darimu cucuku " aku pun dengan senang berkata.
"Apapun permintaan kakek akan aku kabulkan" ucapku sehingga membuat Kakek yakin untuk mengatakannya "kamu cucu kesayanganku Hiara tapi Feri juga cucuku, kakek mau kamu memberikan kebebasan kepada Feri walaupun hanya sebentar. Yang terpenting bagi kakek keluarga kakek berkumpul bersama walaupun tidak satu rumah" aku yang melihat kakek sedih karena sangat menyayangi cucu laki-lakinya itu.
Tetapi aku juga sangat menyayangi kakek sehingga membuat aku menarik nafas dalam-dalam, papa pun ikut berkata "Iya Hiara Papa tahu kesalahan Feri sangat besar bahkan tidak bisa di maafkan dari kata maaf, Papa hanya bisa memohon kepadamu dan tidak ingin minta lebih apapun itu. Biarkan dia bebas serta mencari jalannya sendiri."
Ayahku menyambung ucapan papa "Tiara kamu adalah Putri kesayangan Ayah apapun keputusan yang kamu ambil Ayah percaya kepada kamu, tapi ayah tidak mengajarkan dendam kepada kamu kita boleh marah serta kesal. Tapi kita juga tidak bisa melakukan apa yang orang itu lakukan kepada kita karena kita akan di cap sama-sama jahat seperti orang itu" ucapkan Ayah pun aku mengerti apa yang harus aku ambil.
"Kakek dan papa tidak perlu memohon kepadaku, kalian adalah orang yang aku sayangi. Baiklah aku akan membebaskan Feri dari penjara tapi papa, kakek dan ayah dengan satu syarat Feri harus menyetujui dan menandatangani surat perceraian kami. Walaupun dari segi agama kami sudah bercerai tetapi dari segi pengadilan kami belum bercerai karena aku masih hidup dan belum pernah mengucapkan talak kepada ku" mendengar ucapan ku Ayah pun tersenyum dan langsung memegang tanganku.
"Tapi papa walaupun aku dan Feri sudah bercerai papa harus tetap ikut aku dan walaupun ini semua atas nama ku papa yang aku percaya untuk mengelolanya apapun itu" papa hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa pa" tanyaku penasaran melihat papa menolak ucapanku.
"Berobat" aku pun kaget mendengar ucapan papa.
"Ahhh" aku menoleh ke arah kakek, kakek yang menjawab "Papa mertuamu ini mengalami kanker lambung makanya dia selalu keluar negeri untuk berobat, kalau kakek mu ini sudah sering pikun jadi sering lupa penyakit anak sendiri" tawa kakek setelah mengucapkan kata-kata itu.
Aku pun mengerti apa yang kakek katakan "Baiklah aku akan ambil ahli Semua perusahaan ini papa fokus saja berobat di luar negeri, tapi kalau papa sudah sembuh aku ingin papa yang mengambil ini semua" papa hanya tersenyum mendengar ucapanku.
"Ayah" tunjuk ku kesal berarti hanya aku yang tidak tahu penyakit papa ini.
"Papa mohon jangan bicarakan ini pada mamamu karena selama ini papa merahasiakan penyakitnya kepada Mama, Meri dan Feri. Hanya kakek mu yang tahu tapi karena kakek mu sering pikun jadi percuma saja apapun yang ia katakan mama, Meri dan Feri juga tidak akan percaya dengan ucapannya" papa pun tertawa.
"Kakek ini sehat cuma sering lupa kadang-kadang saja" ucapkan kakek itu pun membuat kami tertawa bersama-sama.
"Maaf ya Hiara, ayah baru tahu juga penyakit papa mertua mu karena tidak sengaja membantunya" ayah menceritakan kejadian 2 hari yang lalu saat malam hari mengobrol di teras rumah tiba-tiba penyakit papa kambuh, papa memegang perutnya dengan tubuh yang gemetaran sehingga ayah panik dan saat ayah hendak berteriak papa memegang erat tangan ayah untuk diam.
Ayah yang bingung saat itu hanya diam serta mengambil sesuatu di kantong celana papa yang ternyata ada 5 butir obat, papa memberikan obat itu pada papa serta masuk ke rumah mengambil air minum dan memberikannya kepada papa.
Di saat itu papa menceritakan penyakitnya sehingga ayah tidak berani mengatakan sepatah kata pun tentang itu kepada kami, papa selalu berangkat pagi pulang malam untuk menghindari makanan yang di masak karena papa sudah punya koki sendiri di luar untuk ke perluan lambungnya.
Papa selalu menyiapkan obat saat makan di rumah karena dia tahu lambungnya tidak menerima masakan rumah, karena aku ada di rumah papa berusaha makan agar bisa berkumpul bersama ku di meja makan.
Mendengar cerita itu aku pun menangis langsung memeluk papa, kakek yang saat itu ikut memeluk kami di sertai oleh ayah yang selalu sedih apabila putrinya menangis.
"Papa kuat, kalian tidak boleh sedih" ucap papa membalas pelukan kami semua.
Di ruangan itu kami mengalami hal sedih sehingga dering telepon berbunyi pun kami tidak mendengarnya sama sekali.
Hari sudah pukul 17.00 sore hari kami pun bersama-sama pulang ke rumah.