
Saat kami hendak masuk kedalam rumah aku melihat mama mertua dan Ibu sedang duduk di kursi ruang tamu dengan posisi terlentang seperti sangat capek, dengan itu pun aku menanyakan "Ibu kenapa?"
Ibu pun segera berdiri dan menjewer telingaku "tanya kenapa-kenapa" marah ibu dan ibu pun juga menjewer telinga Ayah "sakit" teriak Ayah.
Mama yang saat itu pun berdiri kesal langsung menjutekkan papa mertua "kamu kenapa sih" ucap papa mertua.
Hito pun yang melihat dari jauh tertawa terbahak-bahak, aku mendengar suara tawa itu sehingga berjalan cepat ke arah Hito dan aku pun menjewer telinganya sampai dia berteriak "sakit kak, sakit" memegang tanganku, Ayah yang melihat itu segera melepaskan tanganku hingga aku melepasnya.
Akhirnya Ibu pun menceritakan kejadian saat dia di klinik dokter mereka berolahraga sekaligus melakukan kegiatan-kegiatan lain di klinik dokter sampai selesai kegiatan itu hari sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Dokter pun mengajak ibu dan mama mertua untuk pulang bersama tetapi Ibu pun "tidak usah menantu, nanti anakku yang akan jemput" ucap ibu menolak sehingga dokter pun pergi meninggalkan ibu dan mama.
Pada saat 30 menit Ibu menunggu tidak ada satu orang pun yang menjemput sehingga Ibu menelepon, Ibu yang menelpon ku pun tidak diangkat akhirnya ibuku menelpon ayah percuma juga ayah juga tidak mengangkat telepon.
Dengan kesal mama mertua pun mencoba menelpon Papa mertua namun itu pun tidak diangkat sama sekali hingga akhirnya Mama mertua menelpon sopir pribadi keluarga, sopir pribadi itu mengatakan tidak bisa menjemput karena lagi di bengkel dan masih juga menunggu aku yang berada di suatu tempat.
Mendengar ucapan sopir itu mama pun kesal
"Ini semua karena kamu kenapa sih harus menolak padahal tadi enak-enakan kita bisa pulang bareng sama dokter Nando, kita akan diantar depan rumah yang tidak perlu menunggu seperti ini dasar norak" tunjuk mama mertua.
Mendengar celotehan mama mertua pun Ibu juga kesal "Hei aku ini orang baik aku tidak mungkin merepotkan mantuku bukan seperti kamu yang selalu merepotkan anakku, bisanya suruh ini itu akhirnya anakku kamu jadikan pembantu" kesal Ibu.
Mama pun tidak kalah marah "ah hey aku itu orang baik yah, mana mungkin aku memperlakukannya Hiara seperti itu yang ada itu kamu yang sering menyakiti Ara" mendengar ucapan Mama mertua pun Ibu kesal dan segera membuka tasnya saat ibu membuka tas mengambil dompetnya ibu melihat ada uang lima ribu 2 lembar di dalam tas itu "uangku ada sepuluh ribu" celoteh ibu.
Sehingga mama mertua yang melihat itu pun tertawa terbahak-bahak menunjuk ke arah ibu "dasar norak masa pergi keluar bawa uang sepuluh ribu, udah miskin dari dulu sampai sekarang tetap aja jiwa miskin nya selalu ada" Ibu pun hanya diam mendengar ejekan Mama mertua.
Mama mertua pun akhirnya membuka tasnya melihat dompetnya semua uang di dompetnya pun kosong "mana uangku" sambil membuka satu persatu isi dompetnya.
Mama mertua pun mengingat kejadian pagi hari saat uangnya diambil semua oleh Meri saat berangkat kuliah.
Ibu yang melihat itu semua pun tertawa terbahak-bahak sambil mengejek "hahaha sukurin sekarang kamu tahu siapa yang norak dan miskin itu, ya itu kamu masa keluar rumah enggak bawa uang. Capek deh masih mending aku ada uang nih, uang ini digunakan dari sini naik angkot sampai rumah ongkosnya lima ribu berarti sisa uangku ku ada lima ribu lagi udah deh aku naik angkot aja dari pada nunggu di sini lama keburu gelap. Lagian Hiara ke mana sih masa lupa sama ibu sendiri dasar anak nyebelin, kalau sampai rumah nanti ya akan aku cubit dia" selesai berceloteh panjang lebar seperti itu mama mertua pun segera mendekati ibu dan mengambil 1 lembar uang lima ribu di tangan ibu.
Hingga ibu berteriak "kamu apa-apaan, kenapa kamu ambil uangku" ibu menarik kembali uang lima ribu yang diambil oleh mama mertua.
"Kamu kan mau pulang ya aku juga mau pulang jadi aku pinjam dong uang lima ribu, tenang aku kembaliin aku pinjam bukannya mau minta sama kamu" Ibu pun tersenyum.
"Pinjam, pinjam aja uangku. Aku mau pulang naik angkot" Ibu pun berjalan secepat mungkin, mama pun mengikuti Ibu "Hey aku pinjam aku kembaliin banyak, aku akan kembaliin 10 kali lipat dari uang kamu" ucap Mama mertua.
"Iya" jawab Mama mertua.
"Enggak, Aku mau 20 kali lipat" teriak Ibu.
Mama mertua yang kesal pun "enak aja uang lima ribu kembalinya 20 kali lipat dasar mata duitan" mendengar celotehan itu ibu menyimpan kembali uang lima ribu miliknya.
"Ya udah kalau gitu kamu jalan kaki aja biar aku pulang naik angkot sendirian" ucap Ibu pada saat itupun angkot berhenti di depan mereka. Mama mertua yang saat itu bingung "aku akan kembalikan 20 kali lipat" ucap Mama mertua.
Dengan senyum Ibu mengeluarkan lagi uang di dalam tasnya itu dan memberikannya kepada Mama mertua "oke" ucap ibu sehingga mereka pun naik angkot sampai ke rumah.
Mama mertua yang tidak pernah naik angkot itupun mabuk di dalam angkot sehingga sampai di rumah dia pun langsung membaringkan tubuhnya di atas kursi.
Mendengar cerita itu kami semua tertawa terbahak-bahak sedangkan Mama dan ibu marah "emangnya lucu" ucap Ibu.
"Maaf Bu, ya udah sebagai permintaan maaf bagaimana kalau besok kita shopping ibu dan mama bisa deh beli apapun sepuas kalian. Hiara akan bayar semuanya" mendengar ucapan itu mereka pun akhirnya saling toleh.
"Aku nggak minta ya pokoknya aku suka deh" Mama langsung pergi ke kamarnya.
Itu juga dengan ibu "ibu mau janji ya."
Aku pun tersenyum menganggukkan kepala langsung segera masuk ke kamar membaringkan tubuhku yang sudah letih, namun saat sedang berbaring tiba-tiba jendela kamarku seperti ada yang melempar. Dengan tubuh yang lelah akhirnya aku pun membuka jendela dan melihat dokter melambaikan tangan dan memberi kode bahwa aku harus keluar.
Sehingga aku pun mengambil hp chat dokter "Ada apa."
Balasan dari dokter "cepat turun, ada kejutan" melihat tulisan kejutan aku pun segera turun membuka pintu kamar dan keluar rumah.
Tapi saat hendak keluar rumah aku melihat ayah yang lagi duduk membaca sebuah koran "mau kemana" tanya ayah penasaran.
"Cuman mau cari udara segar" jawabku bohong.
"Kamu harus istirahat" aku pun mengangguk mendengar ucapan ayah.
"Ayah aneh baca koran malam hari, harusnya pagi" ledekku langsung meninggalkan ayah.