
Sampai di kantor pun aku sangat lega, sambil duduk di aku segera mengambil hp ku menelpon seseorang.
"Dokterrr" teriakku namun telpon itu pun di angkat oleh seorang perempuan dengan nada kesal.
"Ibuuu" ucapku.
"Iya ini ibu, hari ini kamu jangan telpon mantu terus. Ibu ngak mau gara-gara telpon kamu ini menggagalkan operasi ibu" marahnya kepadaku langsung mematikan hp.
Aku yang kaget mendengar kemarahan ibu itu pun segera menyimpan hp ke dalam tas "mama mau operasi apa sih" aku pun berdiri hendak keluar dari ruangan.
Namun saat hendak keluar pun Feri menghadang jalanku di depan "kenapa?" ketus ku.
"Aku cuma mau kamu hati-hati kepada Lira itu" jawabnya.
"Aku tidak perlu takut sama orang seperti Lira itu, tapi yang aku takutkan orang seperti kamu penghianat" ucapku membuat Feri menunduk.
Aku pun segera melangkahkan kaki ku untuk meninggalkannya namun Feri pun menoleh dan berkata "maaf, aku akan membuat kamu untuk percaya lagi kepadaku karena aku sudah berubah."
Mendengar ucapan Feri itu pun aku menoleh sambil tersenyum "kita lihat saja nanti apa yang kamu katakan benar atau tidak" aku pun pergi meninggalkan Feri.
Aku bergegas pergi ke klinik Dokter Nando namun saat aku sampai di depan klinik aku pun bertemu dengan profesor yang baru turun dari mobil "Profesorrrr, eh om" panggil ku.
Profesor pun berjalan ke arah ku "menantu, kamu ke sini juga?" tanyanya sehingga membuat aku pun menganggukkan kepala ku.
"Profesor mau ngapain" tanyaku balik kepadanya.
"Aku ke sini sebenarnya hanya kebetulan lewat saja, tapi karena melihat kamu aku sepertinya tidak akan memanggil mencari dirinya. Lebih baik aku mencari kamu saja" jawabnya membuat aku pun kebingungan.
Profesor pun segera menggenggam tanganku "Sekarang kita pergi ke suatu tempat."
"Maksudnya" profesor pun tidak memperdulikan ucapanku, dia tetap menarik tanganku dan mengajak aku masuk ke dalam mobilnya.
"Kita pergi ke suatu tempat, kamu tenang aja kita akan ke cafe sambil ngobrol santai-santai jadi nanti kalau kita sudah selesai berbicara maka akan Om antar pulang lagi ke tempat tadi. Kita akan cari cafenya dekat sini saja."
Aku pun kebingungan tidak mengerti apa yang di maksud oleh Professor, sampai di kafe kami pun duduk.
"Kamu memang cerdas, tidak suka basa basi sedikit pun" jawabnya.
"Aku harus cerdas agar bisa sukses seperti om" pujiku hingga membuatnya mencubit pipiku.
"Aduhhhh" teriakku kesakitan pada saat ia menarik pipiku.
Melihat aku yang kesakitan pun dokter tertawa "kamu benar-benar mantu idaman" ucapannya, aku pun memegang pipiku yang sakit itu dan dokter pun mulai berekspresi serius untuk mengatakan sesuatu kepadaku.
"Dokter Kenapa?" tanya ku.
Dokter pun mengeluarkan hpnya menyodorkan sebuah gambar dari hp itu yang membuat aku kaget "Kamu dan Nando harus secepatnya melangsungkan pernikahan dan kalian berdua harus secepatnya fitting baju karena aku yang akan menyiapkan semuanya dari gedung, baju, undangan jadi tinggal kalian berdua kapan kalian akan menikah dan memberikan cucu kepadaku. Kamu pilih salah satu gambar yang kamu inginkan" ucapnya dengan sangat panjang membuat aku pusing mendengarnya.
"Maksud dokter?"
"Kamu jangan banyak tanya, kalian berdua sama-sama saling menyukai jadi tidak usah ditunda-tunda lagi. Ikan sepat ikan gabus lebih cepat lebih bagus, jadi aku ingin kalian segera menikah serta mendengarkan semua ucapanku untuk menikah."
Itu pun membuat aku bingung apa yang harus aku jawab padanya "tapi om kita kan belum mau menikah karena kita belum membuat rencana ke sana."
Profesor pun memukul meja membuat aku jadi takut "aku ingin secepatnya menimang cucu."
"Tapi dok" tiba-tiba hp ku berbunyi.
Aku melihat dari Dokter Nando sehingga aku pun pamit untuk mengangkat telepon, selesai berbicara aku pun segera pamit dan berbohong kepadanya ada urusan di kantor sehingga profesor pun segera mengantarkan aku ke klinik tempat mobilku.
Sampai di klinik aku pamit secepatnya untuk pergi, profesor pun segera masuk ke dalam klinik namun saat hendak masuk dia di kagetkan oleh wanita memakai masker sedang berjalan memegang pundaknya.
"Hei tolong panggilkan Dokter karena sudah waktunya di lepas" teriak Ibu kepada laki-laki di depannya.
"Iya" jawab profesor segera pergi dari tempat itu, mendengar jawaban iya itu pun ibu kembali lagi ke dalam.
Aku pun yang saat itu sampai berbarengan dengan dokter di kafe "kenapa?" tanyanya membuat aku langsung memeluknya di depan mobil.
Melihat orang yang memandangi kami dokter pun memaksa dengan keras untuk melepaskan pelukan ku itu.