
"Keperluan Hiara itu juga keperluan ku, Kamu kan tahu kalau aku itu calonnya Hiara" ucap dokter dengan nada sombong.
Feri yang mendengar ucapan dokter pun tidak mau kalah "saat surat perceraian aku dan Hiara sudah di tangan baru kamu boleh bicara seperti itu."
Aku yang melihat tingkah kedua orang di hadapan ku itu pun membuatku menahan tawa dengan perdebatan yang tidak penting "berhentiiii" teriakku sehingga semua orang di kantin menoleh ke arah kami.
"Kamu kenapa harus teriak-teriak bikin malu aja sih" bisik dokter.
"Kalian berdua mendingan pergi dari tempat ini, aku mau sendiri" usir ku kepada mereka.
"Tapi Hiara aku belum mengucapkan sepatah kata apapun" ucapan Feri itu langsung aku potong "pergi" tunjukku, walaupun dengan raut wajah kecewa Feri pergi meninggalkan aku dan dokter.
Dokter pun tertawa melihat Feri yang pergi, sepertinya dia merasakan kemenangan.
Aku menoleh ke arah dokter "Kenapa?" tanya dokter.
"Dokter juga pergi dari sini."
"Kamu" tunjuknya sambil melihat wajah ekpresi kesal ku sehingga dia pun "oke, oke aku akan pergi. Nanti malam aku akan ikut untuk melihat siapa orang misterius itu yang ingin berkencan dengan kamu."
"Terserah" ucapku, ketika dokter pergi meninggalkan aku sendiri aku yang saat itu sedang duduk sendiri pun mulai memikirkan sesuatu "ini sebenarnya kenapa sih, semenjak aku merubah diriku aku pikir hidupku akan santai tapi aku malah bertemu dengan orang yang aneh-aneh" celoteh ku sambil menyenderkan tubuh ke kursi.
Di rumah sakit Dokter Teguh yang berjalan masuk pun menoleh ke arah Dokter Nando dan Jaya "mereka mau ngapain, bisik-bisik begitu" celotehnya, karena penasaran akhirnya secara diam-diam Dokter Teguh mengikuti mereka sampai tidak ketahuan.
"Mereka mau ke kafe malam tadi, apa yang mereka ingin lakukan. Sayang banget aku tidak mendengar dari awal" ucap Dokter Teguh dalam hatinya, Dokter pun segera pergi dari tempat itu namun saat hendak melangkah maju Dokter Teguh tidak sengaja menyenggol kotak sampah di sana sampai terjatuh.
Dokter Teguh yang reflek diam seperti patung pun langsung duduk lemas "hampir saja ketahuan, bisa-bisa aku di ejek mereka habis-habisan" ucap Dokter Teguh segera berjalan menuju ke dalam rumah sakit.
Saat Dokter Teguh berjalan masuk ke ruangannya tiba-tiba ada wanita yang duduk di kursi pasiennya "maaf ada yang bisa saya bantu" ucap Teguh kepada wanita itu.
Saat wanita itu menoleh "Lidia" teriak dokter Teguh kaget melihat Lidia yang duduk di sana, Dokter Teguh pun berjalan menghampirinya "kamu ngapain sih di sini, kenapa kamu itu ngak cari kerja dan malah duduk di sini. Kamu mau malas-malasan terus mau gangguin aku kerja" Lidia pun mendengar ocehan Dokter Teguh langsung menginjak kakinya.
"Aduhhhhh."
"Aku ke sini ngak mau mengganggu kamu kerja, tapi aku ke sini mau minta uang."
"Apa, minta uang."
"Iya, aku perlu uang untuk menyewa pembunuh bayaran biar bisa membunuh seseorang, aku bener-bener kesal dengan wanita itu. Wanita bermuka dua sudah meninggalkan aku begitu saja di saat aku susah, sekarang malah sok menasehati aku."
Dokter Teguh pun langsung menjewer telinga Lidia sampai berteriak kesakitan "kamu dengar baik-baik aku tidak akan memberi kamu uang untuk hal yang jahat, kalau kamu masuk penjara akan di hukum hukuman mati karena dengan sengaja membunuh seseorang."
"Dokter, sakit telinga ku di jewer. Baik lah aku pergi" Lidia pun menendang kaki Dokter Teguh lagi.
"Balasan karena sudah berani memegang telinga saya" ucap Lidia segera keluar dari ruangan itu.
Dokter Teguh pun langsung duduk sambil menarik nafas lega "apa yang dia inginkan, kalau dia berani berbuat nekat aku akan menceritakan ini pada kakaknya. Kelemahan terbesar Lidia hanya pada kakaknya" celoteh dokter sambil membaringkan tubuhnya di atas kursi.