
Sinar matahari pagi menyelinap memasuki gordeng, membuat seorang gadis yang sedang meringkuk di sofa semakin menenggelamkan wajahnya di balik selimut.
Seorang laki-laki yang saat ini sedang bergongkok di sisi sofa tersenyum geli melihat kelakuan gadis itu.
"An," panggil Juno.
Juno mengusap lembut surai lembut Anette. Membuat gadis tersebut semakin terusik dalam tidurnya.
"Ini hari sabtu bun, An libur," ucap Anette dengan mata terpejam.
Hahaha, rupanya Anette lupa jika saat ini masih berada di apartemen milik Juno.
"Hey aku bukan ibumu!" Ucap Juno seraya mencubit pipi chuby Anette.
Anette mengerang sambil mengucek matanya. Dengan perlahan ia mulai membuka matanya. Anette terperanjat kaget dan langsung merubah posisinya menjadi duduk saat melihat wajah Juno yang berada tepat di depan wajahnya.
"K-kau! Mengapa kau ada di kamarku!" Teriak Anette seraya memeluk selimut.
"Apa, kamarmu? Ck, kau tidak sadar kau berada di mana huh?" Balas Juno.
Anette melirikkan matanya ke penjuru kamar. Ternyata benar, dirinya saat ini sedang berada di kamar Juno. Ya Tuhan, Anette sangat malu.
"Mandilah, kutunggu kau di meja makan," ucap Juno yang kemudian keluar dari kamar.
Setelah pintu kamar kembali tertutup Anette langsung memukul-mukul kepalanya sendiri. Ia sungguh malu.
Anette segera menuju kamar mandi untuk membersikan dirinya. Karena tidak membawa salinan Anette kembali memakai pakaian kantor yang ia kenakan dari kemarin. Rambutnya yang masih basah dibiarkan tergerai.
Di meja makan sudah ada Juno yang sedang memakan sarapannya.
"Kau sudah baikan?" Tanya Anette seraya duduk di kursi, sebrang Juno.
"Ya, itu hanya efek minuman."
Anette memperhatikan semangkuk sup dan seperempat piring nasi putih di hadapannya. Aroma khas kaldu sapi menyeruak ke indra penciumannya. Sampai-sampai perutnya bergetar dan mengeluarkan bunyi. Seketika pipi Anette memerah menahan malu.
Juno terkekeh, lelaki tersebut menambahkan sesendok nasi ke piring Anette.
"Makanlah yang banyak, kau masih dalam masa pertumbuhan bukan?" Ucap Juno menggoda.
Anette mengenduskan nafasnya. Ini masih pagi, ia malas untuk berdebat. Tanpa menghiraukan Juno, Anette mulai memakan makanannya dengan lahap.
Setelah selesai makan, Anatte membawa semua piring kotor untuk dicuci. Juno mengikuti Anette, ia bersandar di kulkas memperhatikan gerak-gerik gadis yang sedang mencuci piring itu.
"An," panggil Juno.
Anette menjawabnya dengan deheman.
"Apa kau sudah memaafkanku?" Tanya Juno memastikan.
Lagi-lagi Anette hanya berdehem.
Tidak puas dengan jawaban Anette, akhirnya Juno mematikan keran lalu menarik bahu Anette agar menatapnya.
"Bicaralah An!" tuntut Juno.
Keduanya saling bertatapan.
"Aku sudah memaafkanmu. Hanya saja aku terlalu kecewa karena dengan kasarnya kau menuduhku yang tidak-tidak dan.. dan.. k-kau mengambil ciuman pertamaku," ucap Anette.
Juno memegang kedua bahu kecil Anette, "kumohon maafkan aku An. Aku sadar, perlakuanku padamu saat itu sangatlah keterlaluan."
"Baiklah," ucap Anette seraya tersenyum polos.
Juno membawa Anette ke dalam dekapannya, "terimakasih An."
"Mengapa kau dengan mudahnya memaafkanku, apa kau tidak ada keinginan untuk memukulku terlebih dahulu?"
"Mencari teman itu susah," ucap Anette.
Anette meninju punggung Juno lalu menggibaskan tangannya kesakitan.
"Tubuhmu terlalu keras. kau lihat kan, yang ada tanganku yang kesakitan."
Juno tertawa, dalam pelukannya lelaki tersebut menggoyang tubuh Anette ke kanan dan kekiri. Anette terkekeh seraya membalas pelukan Juno.
"Terimakasih teman-" ucap Juno.
"-hidup," sambung Juno dalam hati.
...
*Juno:
Apa kau ada acara malam ini?
Anette:
Ya, aku akan dinner dengan Kak Keanu
Juno:
Sepertinya temanmu yang masih lajang ini akan melewati malam minggu seorang diri
Anette:
Selamat malam minggu
Ingat Juno, jangan memberantakan atau pun merusak barang! Itu sangat melelahkan saat membereskannya.
Juno:
Kalau itu aku tidak bisa janji*
Juno tertawa namun itu hanya sebentar, karena tiba-tiba ia mengingat jika Anette akan berkencan dengan kakaknya. Juno menengok jam tangannya yang kini menunjukan pukul 18.34.
Dengan cepat Juno meraih Jaket, topi, dan kunci mobil lalu lari keluar dari apartemennya. Juno melajukan mobilnya dengan cepat.
Juno telah sampai di kawasan perumahan tempat tinggal Anette. Dari kejauhan lelaki itu memperhatikan Keanu yang sedang membukakan pintu untuk Anette. Setelah itu, kakaknya itu masuk ke pintu kemudi dan mulai melajukan mobilnya.
Dengan sigap Juno mengikuti laju mobil Keanu. Mobil tersebut berhenti di sebuah salah satu restaurant mewah. Keanu menggenggam tangan Anette memasuki restaurant tersebut.
Juno membuntuti sepasang kekasih tersebut hingga masuk ke dalam restaurant. Juno duduk seorang diri di mejanya sambil menyembunyikan wajahnya dengan buku menu.
Di sebrang meja sana, Keanu dan Anette duduk berhadapan. Entah apa yang mereka bicarakan, keduanya tampak bahagia dengan obrolannya yang tidak dapat Juno dengar. Juno juga dapat melihat pipi Anette yang memerah.
"Ck, pasti dia sedang menggoda Anette," gumam Juno yang tampak tidak terima.
"Permisi mas ada yang bisa saya bantu," ucap seorang pelayan restauran yang tanpa Juno sadari sudah berada di samping kanannya.
Karena kaget, reflek Juno melempar buku menunya hingga terjatuh ke lantai. Membuat orang-orang di sekitarnya, termasuk Keanu dan Anette melihat ke arahnya.
"Sorry mba nanti dulu ya," ucap Juno yang diangguki oleh pelayan tadi. Pelayan tersebut pun meninggalkan meja Juno.
Sial! Mereka pasti sedang menertawakanku, rutuk Juno dalam hati.
"Kau ada di sini juga rupanya," ucap Keanu dari tempatnya.
"Ya, aku lapar," balas Juno.
"Syukurlah, aku kira kau sedang mengikutiku dan Anette."
Juno menunjuk dirinya sendiri. "Aku, mengikuti kalian? Hahaha buang-buang waktu saja."
Juno bangkit dari duduknya.
"Sepertinya makanan di sini tidak ada yang menarik, sebaiknya aku cari di tempat lain saja," Juno berjalan keluar dari restaurant.
Saat sampai di parkiran, dengan bodohnya Juno menendang ban mobilnya sendiri lalu mengaduh kesakitan. Memalukan.
Di tempatnya Keanu dan Anette mulai menyantap makanan masing masing.
"Makanlah yang banyak, kau masih dalam masa pertumbuhan bukan?" Ucap keanu.
Anette merasa dejavu saat mendengarnya.
Mengapa ucapan Keanu bisa sama persis dengan Juno? Tanya Anette dalam hati.
"Aku sudah cukup besar kak," balas Anette.
"Oh ya? Bisa kau tunjukan bagian mana?" Tanya Keanu dengan isengnya.
Anette tampak bingung, tapi saat menyadari jika Keanu menatap ke arah tubuhnya reflek gadis tersebut menyilangkan tangannya di depan dada.
"kak!"
"Kenapa? Iya-iya aku tahu itu cukup besar An."
Sepertinya menggoda Anette merupakan hoby baru dari seorang CEO muda itu.
"Kak..!" Anette merengek kesal dengan wajah memerah karena malu.
"Haha baiklah-baiklah," Keanu mengusap kepala Anette.
Selesai makan Keanu mengajak Anette untuk menonton film. Saat ditanya ingin menonton film apa, dengan semangatnya Anette menyebutkan film animasi Frozen II.
"Dasar anak kecil," Keanu merangkul Anette lalu mengecup sisi kepala kekasih kecilnya itu.
Anette sangat exited saat menonton film animasi tersebut. Apalagi saat melihat tingkah lucu si tokoh boneka salju, siapa lagi kalau bukan Olav.
Entah kenapa Keanu lebih nyaman menoleh ke kanan memperhatikan Anette. Sesekali juga laki-laki tersebut mengecup tangan Anette yang berada di genggamannya. Tanpa mereka ketahui, dari beberapa kursi di depan mereka ada Juno yang sedang menggeram kesal.
...
Wah Juno jadi mata-mata.