Oplas

Oplas
Sedang Apa di Sini?



Di pagi yang cerah ini Anette dibuat gugup. Pasalnya Pak Robi memdadak jatuh sakit hingga tidak bisa melakukan presentasi yang akan dilakukan beberapa saat lagi.


Keanu mempercayakan Anette untuk menggantikan tugas Pak Robi untuk melakukan presentasi. Sudah tiga jam Anette belajar untuk memahami materi yang akan ia presentasikan nanti. Memahami materi memang bukan hal yang sulit bagi gadis tersebut, hanya saja ia terlalu gugup menghadapi klien-klien besar Keanu.


Anette duduk di atas sofa yang ada di ruangan Keanu. Gadis tersebut masih terus membaca dokumen di laptop yang Keanu pinjamkan. Anette berusaha semaksimal mungkin karena dirinya tidak ingin mengecewakan Keanu, apalagi membuat kekasihnya tersebut malu.


Keanu menghampiri Anette dan duduk di sisinya. "Gimana, Sudah paham?" Tanya Keanu.


"Hmm lumayan, t-tapi aku gugup."


Keanu terkekeh. Satu tangannya menyelipkan anak rambut Anette di balik telinga gadis itu.


"Kau pasti bisa. Dulu aku juga sepertimu saat pertama kali melakukan presentasi."


Keanu memindahkah laptop yang berada di pangkuan Anette ke atas meja. Dengan gerakan tiba-tiba CEO muda itu mengangkat tubuh Anette ke atas pangkuannya dengan posisi menyamping.


"Kak!" Pekik Anette.


Kedua tangan Keanu ditempatkan untuk memeluk pinggang kecil Anette. Laki-laki itu mengecup random wajah Anette, membuat kekasihnya tersebut tertawa kegelian.


"Hahaha kak hentikan."


"Baiklah-baiklah, ayo meeting akan segera dimulai."


Presentasi dimulai. Dengan mencoba percaya diri Anette berhasil menyampaika materi yang baru 3 jam ia pelajari. Para klien Keanu bertepuk tangan karena puas akan presentasi tersebut. Di tempatnya, Keanu mengedipkan sebelah matanya pada Anette membuat gadis tersebut bersemu merah.


Anette berhasil meyakinkan klien-klien besar Keanu untuk bekerja sama. Meeting pun selesai, kini di ruangan tersebut hanya ada Keanu dan Anette.


Keanu menghampiri Anette lalu memeluknya, "kau benar-benar hebat An. Permulaan yang bagus."


Anette membalas pelukan Keanu. "Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk mencoba hal baru."


...


Di kampus Juno sedang mengikuti mata kuliah. Pandangannya memang mengarah pada dosen yang sedang menyampaikan materi, namun tidak dengan pikirannya. Entah mengapa pikirannya dipenuhi oleh Anette yang selalu dimodusin oleh kakaknya sendiri.


Ya, Juno tahu kini mereka memang sepasang kekasih dan itulah yang membuat hatinya tidak tenang. Apa saat ini Juno sedang cemburu? Cemburu kepada kekasih kakaknya sendiri.


Merasa mood-nya benar-benar buruk, Juno bergegas memasukan laptopnya ke dalam tas lalu keluar kelas tanpa pamit. Dosen dan mahasisnwa lainnya tampak biasa saja karena itu hal biasa yang sering Juno lakukan.


Saat berbelok ke koridor kampus tiba-tiba Seorang wanita tidak sengaja menabrak Juno.


"Maaf-maaf, aku tidak sengaja," ucap wanita tersebut lalu pergi begitu saja.


Juno melebarkan matanya, "A-An?"


Wanita tadi sangat mirip dengan Anette, hanya saja penampilannya yang begitu stylis. Juno berjalan mengikuti wanita tersebut. Namun Juno kehilangan jejak saat segerombolan mahasiswa keluar dari kelas. Laki-laki itu menoleh ke segala arah, namun tak kunjung menemukannya.


...


Anette melambaikan tangannya pada keanu yang mulai melajukan mobilnya. Saat ini ia berada di halte dekat pintu masuk perumahan tempat tinggalnya. Anette beralasan ingin membeli sesuatu di supermarket pada Keanu agar laki-laki tersebut percaya. Tak lama bus datang dan Anette segera naik menuju apartemen Juno.


Anette menghela nafasnya, saat ini ia seperti gadis yang tengah selingkuh. Jika saja Juno dengan ikhlas menyimpan rahasianya, pasti ia tidak akan seperti ini.


Sesampainya di apartemen Juno Anette sisambut oleh aroma lezat soto dari arah dapur. Anette menuju dapur dan menemukan Juno yang sedang mencicipi kuah soto.


"Hi An, sini-sini kau harus mencobanya," ucap Juno melambaikan sambil tangannya.


Anette berjalan menghampiri Juno.


"Kau memasak soto?"


"Ya, kemarin aku diberi resep soto daging oleh Mang Asep, penjual soto pinggir jalan yang yang waktu itu aku mengajakmu."


Juno menyodorkan sesendok kuah soto pada Anette. Anette menyeruputnya, gadis tersebut melebarkan matanya menatap Juno.


"Rasanya sangat persis seperti waktu itu," ucapnya dengan exited.


"Ayo, kita makan di meja makan."


"Tapi aku belum beres-beres," sanggah Anette.


Mereka pun mulai menikmati soto daging tersebut. Anette benar-benar menikmati soto buatan Juno tersebut. Bukan untuk memuji semata, soto tersebut benar-benar lezat seperti soto pinggir jalan yang pernah Juno kenalkan padanya.


Tiba-tiba terdengar bunyi bel. Anette menahan Juno yang akan membuka pintu.


"Biar aku saja," ucap Anette.


Anette membuka pintu tanpa melihat monitor yang menampilkan wajah sang tamu. Betapa terkejutnya Anette saat melihat Keanu yang sedang berdiri tegak di hadapannya. Laki-laki tersebut juga terlihat kaget melihat kelasihnya berada di kediaman sang adik.


"An, sedang apa kau di sini?" Tanya Keanu dengan alis menyatu.


Jantung Anette berpacu lebih cepat.


"A-aku sedang-"


"Ayo jelaskan di dalam," Keanu menarik paksa lengan Anette ke dalam.


Juno terkejut melihat kedatangan sang kakak. Kakaknya pasti tengah berpikir macam-macam.


"Mengapa An bisa ada di tempatmu?!" Tanya Keanu. Tangannya masih menggenngam kuat lengan Anette hingga gadis tersebut meringis kesakitan. Untuk pertama kalinya Anette berlaku kasar padanya.


"Awhh," ringis Anette kesakitan.


"Lepaskan dia!" Balas Juno tak kalah sengit.


"Jelaskan dulu!" Tuntut Keanu.


"Itu bukan urusanmu!"


"Dia kekasihku! Apa pun yang berhubungan dengannya adalah urusanku!"


Juno tersenyum licik pada sang kakak, bahkan ia tidak menghiraukan gelengan kepala dan tatapan rapuh Anette.


"Oh ya? Aku harap ucapanmu bukan omong kosong," ucap Juno.


Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Keanu menarik paksa tangan Anette keluar dari apartemen menuju mobilnya. Bahkan laki-laki tersebut melupakan niat awalnya untuk bertemu dengan sang adik.


"Maafkan aku An, tapi kau harus tahu suatu kenyataan," lirih Juno yang sebenarnya ingin sekali menghantam wajah kakaknya yang telah berlaku kasar pada Anette.


Ini belum saatnya, Juno membatin.


Di dalam mobil, Keanu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Anette menggenggam erat seat belt yang dikenakannya. Mata gadis tersebut tertutup rapat dengan air mata yang terus berjatuhan.


Anette sungguh ketakutan. Ia terkejut melihat Keanu yang terlihat menyeramkan ketika sedang marah. Sangat berbeda dengan yang Anette kenal. Gadis tersebut tidak tahu harus berbuat apa.


Keanu menghentikan mobilnya di depan rumah Anette. Laki-laki itu masih terdiam dengan wajah datar.


"Hiks maaf.." lirih Anette.


"Maaf untuk apa? Bahkan aku masih belun mengetahui alasanmu," balas Keanu datar.


"Sudahlah.. sebaiknya kau masuk ke dalam, " lanjut Keanu karena tidak mendapat balasan dari Anette.


Anette keluar dari mobil keanu. Matanya menatap nanar mobil Keanu yang telah hilang dari pandangannya.


Ponsel Anette bergetar. Ada sebuah pesan dari Juno.


Juno:


An kau baik-baik saja?


Dia tidak macam-macam kan?


Anette:


Aku baik-baik saja


...


Siapa yang salah di sini?