
Udara pagi terasa dingin menusuk hingga ke tulang, Anette mengeratkan jaket di tubuhnya. Nyawanya belum benar-benar terkumpul. Rasa kantuk masih menguasainya akibat melakukan movie marathon semalam.
Anette sudah siap dengan baju olahraga di balik jaketnya. Semalam Juno mengiriminya pesan untuk menemani laki-laki itu lari pagi sebelum merapikan apartement. Padahal baru kemarin Anette merapikannya. Pria satu itu memang hoby sekali mengganggu hari-harinya.
Anette tidak habis pikir mengapa dulu dirinya bisa menyukai seorang Juno Orlando. Lelaki tampan dan berkarisma, namu sangat amat menyebalkan.
Anette cukup kaget, ternyata di ruang tamu sudah ada Juno yang sedang bersenda gurau dengan ibunya. Mereka seakan sudah lama mengenal. Hingga kedatangan Anette membuat mereka meredakan tawanya.
"An mengapa kau sangat lama, nak Juno sudah lama menunggu," ucap Rachel.
Juno tersenyum licik, membuat Anette mendengus kesal. Jika saja Juno sebuah bantal guling, jangan harap mahluk satu itu akan selamat.
"Tak apa tante, kalau begitu kami pamit." Juno mencium tangan Rachel.
Anette pun melakukan hal yang sama. "Aku pamit bun."
"Hati-hati."
Nyatanya mereka tidak jadi lari karena tiba-tiba turun hujan. Akhirnya Juno membawa Anette ke tempat gym milik temannya. Padahal sebelumnya Anette sudah bersorak senang dalam hati, berharap Juno membatalkan acara olahraga paginya tersebut.
Rebahan di atas kasur menggunakan selimut tebal sambil menonton film kartun adalah cara Anette menikmati hujan. Bukan kegiatan membakar kalori di tempat gym mahal seperti ini.
Untung saja pengunjung gym pagi ini tidak begitu ramai. Selesai pemanasan Juno langsung berlari di atas treadmil. Ya Tuhan, baru berlari saja Juno sudah terlihat mengagumkan. Membuat Anette diam mematung.
Anette menggelengkan kepalanya setelah tersadar atas apa yang ia pikirkan. Bisa-bisanya ia masih mengagumi lelaki menyebalkan yang membuat waktu rebahannya terganggu.
Melihat Anette yang hanya berdiam diri, akhirnya Juno menghentikan aktivitasnya untuk mengambil barbel yang berada di rak khusus. Tanpa aba-aba Juno menyerahkan barbel di tangannya pada Anette dengan cara sedikit dilempar. Gadis yang masih diranda kantuk tersebut menangkapnya, tubuhnya terhuyung ke depan karena benda itu cukup berat.
"Hey!" Seru Anette tidak terima.
"Bergeraklah, jangan sia-siakan ksesempatanmu masuk ke sini secara gratis."
"Aku tidak memintanya."
"Ck, mengapa kau selalu melawan, padahal kau selalu menuruti perkataan kakakku."
"Karena dia boss-ku," jawab Anette tak acuh.
"Aku adik boss-mu bodoh!" Sungut Juno.
"Aku pintar."
"Ck, kau menyebalkan."
Tanpa aba-aba Juno mengangkat tubuh mungil Anette layaknya karung beras. Anette yang tak terima pun memukul-mukul punggung Juno.
"Hey lepaskan!"
Juno tersenyum licik. "Kau akan mendapatkan hukuman."
Juno tidak menjawab dan terus berjalan menuju temannya yang merupakan instruktur gym. Seorang pria bertubuh besar dengan wajahnya lumayan tampan dan manis.
"Sam, bisakah kau membantuku?" Tanya Juno.
Pria bernama sam itu tersenyum heran melihat Juno dan gadis yang berada di punggung laki-laki tersebut.
"Hey siapa gadis itu? Kasihan dia."
Nampaknya Sam masih memiliki hati nurani dan belas kasihan pada Anette yang terus memberontak.
Juno menurunkan Anette. Sudut bibirnya setikit tertarik saat Anette berdiri sempoyongan.
"Tolong awasi dia agar terus bergerak, jangan biarkan dia berhenti sebelum aku datang kembali."
Selesai memberikan perintah, Juno kembali pada aktivitasnya yang tertunda tadi.
"Namamu siapa cantik?" Tanya Sam lembut.
Ternyata karakter Sam tidak sesuai dengan postur tubuhnya. Siapa sangka dibalik tubuh kekarnya pria tersebut berjiwa feminim layaknya seorang wanita.
"Aku Anette." Anette mengulurkan tangannya.
Sam membalas uluran tangan Anette, "aku Sam."
"Ayo kita mulai cantik," lanjut Sam.
Anette mengangguk patuh, sepertinya pria gemulai itu menyenangkan.
Dari kejauhan Juno tersenyum mengawasi Anette dan Sam. Gadis tersebut terlihat enjoy dan sesekali tertawa mendengar lelucon Sam.
"Menurutmu Juno seperti apa?" Tanya Sam.
"Menyebalkan," jawab Anette singgat, padat, dan jelas.
"Hahaha, baru kali ini aku mendengar ada gadis tidak menyukai seorang Juno Orlando."
"Karena dia menyebalkan."
Masih disertai kekehan Sam memberikan saran, "hati-hati jatuh hati padanya."
Untuk apa mengulang rasa sepihak? Balas Anette dalam hati.
Lagi pula Anette sadar diri. Ia juga masih mengingat apa yang pernah terjadi antara dirinya dan Juno di masa lalu. Anette memang tidak membenci laki-laki itu, tapi bukan berarti ia akan mengulang rasa sepihak yang pernah ia rasakan. Mustahil untuk terbalaskan.
...
Terimakasih telah singgah.