
Laki-laki yang saat itu tubuhnya lemah habis dikeroyok oleh preman itu segera berusaha bangkit mendekati aku "terima kasih" ucapnya.
Aku menoleh ke arah laki-laki itu "kamu masih hidup" ucapku sehingga laki-laki itu pun terdiam.
"Kalau kamu masih hidup berarti ketiga orang ini" aku pun memegang denyut nadi mereka "Alhamdulillah deh mereka juga masih hidup, ya udah kamu mendingan pulang saja sana mumpung mereka lagi pingsan. Aku langsung pamit ya" ucapku langsung mengambil hak ku.
"Eh tunggu dulu apa, aku mau bilang terima kasih" teriaknya "udah sama-sama kalau gitu aku harus cepat-cepat pergi" jawabku sambil berteriak, sehingga langsung pergi berjalan cepat ke mobil.
"Gawat ini, dokter pasti sedang mencari aku" sambil berlari lebih cepat lagi.
Lelaki itu pun berdiri dan berusaha masuk ke dalam mobil "siapa wanita itu" ucapnya sehingga menghidupkan mobilnya dan pergi dari tempat itu.
Aku yang saat itu berlari melihat Dokter Nando sudah berdiri "dokterrrrr" Teriak aku.
"Kamu dari mana sih" aku pun diam dalam hati ku "jangan bilang deh kalau aku bisa berkelahi, dokter pasti sangat marah."
"Dokter, aku tadi dari sana. Aku lihat badut lucu banget eh saat badutnya pergi aku pulang deh* bohong ku kepada dokter.
"Kamu apa-apaan sih seperti anak kecil, harus lihat badut segala" kesal dokter.
"Badut itu lucu tahu dokter, dokter pasti suka kalau lihat badut. Ya udah gimana kalau kita libur kita jalan-jalan ke taman untuk melihat badut, melihat yang lucu-lucu. Mau kan dokter?" bujukku.
Dokter pun hanya mengangguk "terserah kamu deh, kita pulang" aku pun masuk kedalam mobil dan pulang diantar oleh dokter.
Dokter Teguh pun sampai di rumah dengan keadaan kesal segera membuka pintu rumah dan membantingnya, setelah itu Dokter Teguh berjalan masuk ke kamarnya namun saat ingin membuka pintu kamarnya ada bayangan putih yang memanggilnya.
Bayangan putih wanita itu memakai baju kemeja ukuran besar warna putih, wajahnya yang menggunakan masker. Melihat bayangan putih itu pun Dokter Teguh langsung berteriak sehingga wanita yang mendengarkan itu pun juga ikut ketakutan akhirnya berlari dan mendekati Dokter Teguh.
Dokter Teguh semakin berteriak ketakutan melihat bayangan itu mendekatinya, akhirnya segera melemparkan sesuatu ke arahnya "aduhhhh" mendengar suara kesakitan tersebut sehingga dengan sadar pun dokter tersadar "suara ini."
"Apaan sih keluar pakai baju warna putih, masker putih juga" Dokter Teguh emosi dan langsung mencubitnya.
"Apaan sih, aku ke sini kan tidak punya baju dan baju dokter itu semuanya berwarna putih sehingga aku menggunakannya. Dan masker ini aku perlu perawatan agar kulit tetap cantik makanya aku menggunakan masker yang ada di kamar dokter, lagian dokter tuh ngapain sih enggak berubah-rubah pakai masker kayak perempuan aja" Lidia itu pun memegang keningnya yang bengkak itu.
Melihat keningnya yang bengkak dokter pun mendekati Lidia ikut memegang keningnya "ayo masuk kening kamu sakit" ajak Dokter Teguh sehingga Lidia pun langsung mengikuti perkataannya serta masuk kedalam kamarnya itu.
Lidia pun bertanya "Dokter kenapa pulang teriak-teriak dengan kesal, aku kebetulan lewat pun jadi kaget tadi."
"Ini semua gara-gara Dokter Teguh."
"Emangnya kenapa dengan Dokter Teguh?"
Akhirnya Lidia pun mengeluarkan ide liciknya "Kenapa Dokter Teguh tidak memanipulasi Dokter Nando saja".
"Maksud kamu?" dokter bingung dengan ucapan Lidia tersebut.
"Iya kan bisa memanipulasi pekerjaannya pada saat operasi" mendengar omongan Lidia itu Dokter Teguh marah "tidak aku dan dokter itu bersaing secara sehat dan aku pun bisa melakukan ini karena kerja kerasku bukan hanya karena licik licik seperti ini, aku nggak mau nanti kalau ketahuan aku bisa dipecat. Kamu tahu selain di pecat yang lebih gawat lagi aku juga tidak akan dapat kerjaan di manapun, aku tidak mau melakukan hal itu" ucap Dokter Teguh sambil memoleskan salap di wajah Lidia.
"Ya jangan sampai ketahuan dong, resikonya kan memang begitu kalau ketahuan akan seperti itu tadi" Lidia pun langsung berdiri "sudah lah aku mau masuk ke kamar dan ingat pahami kata-kataku tadi" ucapan Lidia itu pun membuat Dokter Teguh terdiam dan memikirkannya.
"Ahhhh udahlah" dokter pun segera masuk ke dalam kamarnya.
keesokan harinya aku pun bergegas keluar dari kamar, aku berjalan ke meja makan melihat Feri menggunakan baju sangat rapi seperti orang yang akan berangkat kerja.
Aku pun memanggil "kakekkkkk" peluk dan cium ku dari belakang saat kakek masih mengunyah makanannya.
Semua orang pun menoleh ke aku "kak dari mana aja sih lama banget dandannya" celoteh Hito yang sedang menuangkan susu ke gelasnya.
"Namanya juga perempuan ya lama, lihat aja Meri juga belum ada kan. Berarti masih dandan juga" jawab ku sambil duduk.
"Iya sih perempuan itu emang harus dandan yang cantik supaya enak dilihat" celoteh mama mertua sambil melihat ke arahku.
"Tumben banget mama mertua belain aku biasanya kan dia selalu nyindir aku" ucapku dalam hati.
Kami pun memulai makanan kami dan Kakek pun memulai pembicaraannya "Hiara hari ini Feri akan ikut kamu kerja di kantor."
mendengar ucapan kakek itu aku pun berceloteh dalam hati "apa-apaan ini, semua aset atas namaku kenapa dia harus kerja di kantor yang sama dengan ku."
"Kenapa kek" tanyaku.
Feri yang akan mengajari kamu semua pekerjaan kantor, karena papa kamu belum pulang dari Singapura dan juga kamu tidak mungkin bekerja sendiri tanpa pengetahuan apapun. Feri pandai dalam bisnis, setelah kamu menguasai semuanya baru kakek melepaskan kamu sendiri untuk mengelolanya."
Aku pun hanya tersenyum "baiklah kakek, apapun yang kakek ucapan pasti yang terbaik untuk aku."
Mama mertua pun tersenyum mendengar ucapan ku, dia mengingat kejadian malam tadi saat Hiara pergi dari rumah mama dan Meri membujuk kakek untuk Feri masuk ke dalam perusahaan dengan alasan membantu Hiara.
Pada hal rencana mereka ingin membuat Hiara berdekatan kepada Feri.
Meri yang baru duduk di meja makan pun mendengarnya merasa kesal "pada hal rencana itu aku yang ingin masuk ke perusahaan biar dapat uang, tapi mama malah menggunakannya untuk kakak jadi aku harus membantu mama biar ada uang jajan" ucap Meri kesal dalam hatinya.