Oplas

Oplas
bab 42



"Maksud kamu?" tanyaku pada Nindi.


Nindy pun menceritakan kepadaku kejadian 5 tahun yang lalu di mana saat itu dia membutuhkan pekerjaan dan adiknya saat itu dalam keadaan sekarat di rumah sakit, Di saat itu lah yang membuat dia bolak-balik mencari pekerjaan.


Namun tidak ada satu pekerjaan pun di dapat untuk biaya operasi adiknya itu, Nindi dengan pandangan kosong memikirkan adiknya itu tanpa sengaja menabrak Lidia.


Lidia yang saat itu terburu-buru karena ingin debut menjadi seorang artis, Lidia yang mengendarai mobil sangat kaget sehingga dia pun turun dari mobilnya.


Lidia melihat Nindi memegang tangannya yang sangat sakit itu "maaf saya tidak sengaja" ucap Lidia.


Nindi pun tersenyum "tidak apa-apa aku yang tidak melihat sehingga menabrakkan diri ke mobil anda" jawab Nindi sambil berusaha berjalan pelan-pelan.


Lidia ingin membawa Nindi ke rumah sakit tiba-tiba tas yang digunakan Lidia ditarik oleh jambret, Nindi dalam keadaan sakit itu pun segera berlari mengejar jambret itu.


Lidia yang melihat Nindi berlari itu pun segera mengikuti arah Nindi dari belakang sambil berteriak mereka mengucapkan minta tolong, Nindi yang dalam keadaan sakit pun memukul jambret itu dengan sendalnya sampai jambret itu terjatuh dan dengan sigap pun Nindi mengambil tas itu.


Dan akhirnya penjambret itu pun di kepung oleh masyarakat yang melihat kami sehingga ditahan untuk di bawa ke pihak berwajib.


Nindi segera mengembalikan tas milik Lidia melihat Nindi yang dalam keadaan seperti itu Lidia pun membuka tasnya dan memberikan uang kepada Nindi namun Nindi menolak, Lidia yang melihat Nindi itu kesakitan "Bagaimana kalau saya bawa ke rumah sakit saja" ajak Lidia tapi Nindi pun tetap menolak.


"Saya tidak peduli dengan diri saya karena sekarang yang saya pedulikan nasib adik saya" Lidia yang mendengar ucapan Nindi itu itu segera bertanya "maksudnya?" bingung Lidia.


"Tidak apa-apa" Nindi pun tetap tidak ingin menceritakannya sehingga Nindi langsung menaiki ojek yang berada di depannya dan pergi dari tempat itu.


Lidia pun dengan sigap dari belakang membawa mobilnya membuntuti Nindi, ternyata pada saat membututi Nindi itu Lidia kaget berhenti di rumah sakit "katanya tidak mau ke rumah sakit, ini kenapa berhenti ke rumah sakit" celoteh Lidia segera mengikuti langkah kaki Nindi.


Pada akhirnya sampai di rumah sakit Lidia tidak sengaja mendengar kalau Nindi membatalkan operasi adiknya karena tidak punya uang padahal operasi itu akan dilaksanakan 10 menit lagi, sehingga tiba-tiba saat itu Lidia datang memberikan kartu atm-nya memberikannya kepada suster "ini, saya akan melunasi semuanya" ucap Lidia.


Nindi yang menoleh saat itu pun terasa kaget "maksud kamu apa" tanya Nindi dengan kesal.


"Kamu tidak peru tanya ini itu, aku ingin membantu kamu tapi ini juga ada syaratnya kok. Ini" Lidia memberikan kartu namanya.


Nindi mendengar ucapan Lidia itu pun kaget "maksud kamu syarat apa?" sambil mengambil kartu nama yang di berikan Lidia.


"Udah nanti kamu juga tahu, sekarang aku pergi ada urusan jadi jika operasi adik mu lancar dan selesai cepat hubungi aku" ucap Lidia dengan nada sombong dan segera pergi dari tempat itu.


Nindi pun tidak sempat mengucapkan terima kasih karena Lidia yang sudah terburu-buru pergi dari rumah sakit, operasi adik Nindi pun berjalan dengan lancar "alhamdulillah adik anda dalam keadaan sehat" ucap dokter yang membuat jantung Nindi merasa bahagia sampai sekarang.


Walaupun Nindi sering menasehati Lidia atas tindakan-tindakannya kadang Lidia mengikuti ucapan Nindi yang kadang juga Lidia membangkang tapi apa daya Nindi hanya berusaha membantu Lidia.


Mendengar ucapan Nindi itu aku tersenyum "baik aku akan memaafkan dia dan membebaskan dia dengan satu syarat" ucapanku membuat Nindi kaget.


"Apa?" Nindi penasaran.


"Hem dia harus minta maaf kepadaku, dengan menggunakan konferensi pers sesudah itu aku akan membebaskannya tanpa syarat lagi karena aku lakukan itu demi kamu. Kamu rela menjadi anjing buat dia."


Mendengar ucapan ku itu pun Nindi terdiam "apakah aku seperti itu" tanya Nindi, aku pun tersenyum menjawab pertanyaan Nindi itu "kamu pikirkan saja" ucap ku sehingga Nindi berjalan tertunduk segera pergi dari hadapan ku.


Aku masuk kedalam mobil dokter lagi pun ditertawakan oleh dokter "apa maksud kamu mau membebaskan Lidia, kamu tahu kan wanita itu licik dia pasti mau melakukan hal yang kamu pinta tadi karena dia itu tidak akan betah tinggal di penjara" ucap dokter sambil meledek ku.


Aku pun juga tersenyum mendengar ucapan dokter itu "kamu tidak tahu harga dirinya itu sangat tinggi jadi mustahil dia akan melakukan hal itu" ucapanku itu membuat dokter bertanya "benarkah, tapi dia kan jago akting dia pasti bisa membuat kamu memaafkannya" ucap dokter itu membuat aku pun semakin tersenyum dengan ide-ide yang akan aku lakukan.


"Iya, aku akan memaafkannya dengan cepat tapi dia tidak bisa membuat aku hancur untuk kesekian kalinya" Dokter pun melaju mobilnya dengan cepat.


Kami pun makan bersama di kafe dengan pandangan mata orang tertuju kepada kami "cepat makan, risih" celoteh dokter melihat pemandangan di sekelilingnya.


Aku pun tidak peduli dengan ucapan dokter itu sehingga aku menceritakan kejadian saat bersama kakek, dokter pun merencanakan sesuatu untuk itu sehingga aku pun berpikir akan melakukan hal itu.


Sesampai di rumah aku melihat rumah sudah sepi "sepertinya semuanya sudah tidur" celotehku saat aku masuk ke kamar aku dikagetkan Ibu sedang menggunakan masker di wajahnya "setannnnn" teriakku.


Aku pun mendorongnya sehingga membuat ibu terjatuh "akhhh, anak durhaka" kesal ibu yang membuat aku sadar kalau itu ibu sehingga aku langsung mengangkat ibu berdiri.


Ibu langsung mencubit ku "sakitttt, Bu" ibu yang melotot ke arahku "siapa yang setan haa, siapa yang setan, aku ini ibumu" Ibu kesal aku pun memeluk Ibu dari belakang.


"Ya ampun Ibu kenapa pakai masker di kamarku, aku kan kaget Bu" tanyaku sambil merayunya.


"Mau bagaimana lagi, masker di kamar itu kosong semuanya sudah diambil sama Meri jadinya Ibu gunain yang kamu. Itu anak pelitnya luar biasa, kamu tidak boleh kasih uang jajan untuk dia."


"Ya iyalah ibu itu kan barangnya Meri jadi wajar kalau dia ambil semuanya."


Ibu pun melepaskan pelukanku dan menoleh ke arahku sambil tersenyum sumringah.