
Setelah kesepakatan dengan dokter aku pun segera pergi ke kantor pengacara bersama dokter membahas masalah ini, setelah mendapat ke sepakatan aku pun di antar oleh dokter pulang ke rumah.
Ibu melihat aku yang turun dari mobil segera berlari keluar secepatnya "Hei nak ayo keluar" mengetuk kaca mobil dokter.
Dokter pun mematikan mobilnya dan keluar "ada apa Tante" ibu pun mencubit dokter "awww" sambil memegang perutnya yang di cubit.
"Panggil ibu bukan Tante, sekarang masuk kita makan sama-sama karena ibu sudah masak banyak dan enak" menarik tangan dokter masuk kedalam.
Aku yang melihat ekpresi ibu bahagia tidak bisa menghentikan keinginan ibu itu, di dalam sudah di penuhi dengan mereka yang duduk meja makan.
"Papa" sapa ku kepada papa dan papa menoleh kearahku "papa sudah pulang."
"Iya papa pulang dari awal dari kantor karena ada yang ingin papa katakan pada mu nanti" jawab papa.
Melihat itu semua mata tertuju padaku apalagi meri yang dalam keadaan sinis menatapku "kenapa semuanya lengkap yah, selama aku tinggal di sini semua orang pulang jam 9 malam tapi ini benar-benar aneh" celotehku sambil duduk.
Aku melihat kakek tidak ada di meja makan sehingga aku pun bertanya "Kakek ke mana?" aku melihat Bik Ija lagi mempersiapkan makanan "bik itu untuk kakek?" Bik Ija hanya mengangguk sehingga aku pun mengambil piring yang ada di tangan di Ija.
'Ya udah aku yang akan memberikan makanan ini dan bibik silakan makan di dapur" Bik Ija pun memberikan makanan itu kepadaku, saat itu aku pergi meninggalkan meja makan di meja makan ibu meletakkan nasi kepada ayah dan dan kepada dokter.
Dokter pun kaget karena porsi yang diberikan Ibu sangat banyak kepada dokter "kamu kan akan menjadi menantu ku maka kamu harus makan yang banyak" mendengar ucapan ibu itu mama mertua berceloteh kesal "Hei kamu gila ya, anakmu itu dengan anakku belum bercerai jadi bagaimana kamu bilang kalau dia itu calon menantu mu."
Mendengar celotehan itu Ibu pun marah dan berteriak "hei yang gila itu kamu, kamu nggak sadar kalau anak kamu itu sudah berselingkuh terus ingin membunuh anakku enak aja kamu bilang aku yang gila" mendengar itu papa mertua pun langsung berdiri dan segera pergi dari meja makan.
Ayah pun langsung menyusul dari belakang menemui papa mertua yang sedang berdiri di teras rumah, Ayah pun langsung berkata "Roberto maafkan ucapan istriku apabila kata-katanya sudah menyakiti perasaanmu."
Mendengar ucapan ayah itu papa mertua menoleh sambil tersenyum "tidak apa-apa Heru istrimu benar, aku yang salah sebagai seorang orang tua aku bahkan tidak tahu kalau semua keluarga aku tidak menyukai Hiara. Aku sangat menyayangi Hiara seperti anak sendiri maafkan aku Heru aku telah gagal menjadi orang tua yang baik" mendengar ucapan papa mertua itu Ayah pun langsung memegang pundaknya.
"Tidak apa-apa semuanya sudah terjadi dan itu berada di masa lalu, sekarang kita ada di masa depan dan mulai kehidupan yang baru" papa mertua pun tersenyum mendengar ucapan dari ayah.
Aku yang masuk ke kamar memberikan makanan kepada kakek sambil tersenyum "Kakek sehat" Kakek pun hanya mengangguk.
Aku menyuapkan makanan itu ke mulut kakek sampai habis serta memberikannya obat, kakek pun memegang tanganku "Hiara besok kita pergi" aku pun tersenyum mendengar ucapan kakek itu.
"Baiklah kek kemanapun kakek pergi aku akan ikut" aku mendengar keributan di meja makan sehingga keluar dari kamar kakek.
Aku melihat ibu dan mama mertua yang tidak berhenti menghina satu sama lain sehingga aku pun menjatuhkan satu gelas sampai mereka berhenti saat melihat ke arahku, aku melihat tidak ada ayah dan papa sehingga aku pun langsung bertanya kepada Hito "ke mana Ayah? kenapa belum makan sama sekali."
Hito pun menjawab "ayah dan om pergi karena na ibu dan tante berisik, lihat aja Kakak dokter aja dikasih makan banyak banget sama ibu" sambil menunjuk satu piring yang ada di depan dokter.
Aku melihat ekpresi dokter seolah ingin segera pergi tapi tidak bisa berbicara apa-apa pun membuat aku menahan tawa ku, dengan cepat aku pun langsung menarik tangan dokter menyuruhnya berdiri "ayo keluar" ucapku sehingga dokter mengikuti aku.
Ibu pun segera berteriak "Hei Hiara menantuku itu belum makan" aku pun menghentikan langkah kakiku "makan sendiri aja Ibu" Ibu pun hanya menarik nafas dan duduk kembali.
Mama mertua pun tersenyum "kau kenapa tersenyum-senyum" tapi mama mertua tidak memperdulikan ucapan ibu serta makan dengan lahap.
aku mengajak dokter langsung ke mobilnya "masuk" ucapku sehingga dokter pun membuka pintu mobil itu sehingga kami masuk "kenapa?" dokter pun bertanya kepadaku.
"Kita makan di luar saja di rumah benar-benar berisik" jawabku sehingga membuat dokter tersenyum "keluargamu unik aku suka, tapi sayangnya aku belum mencicipi masakan mertua ku" mendengar ucapan dokter itu aku pun langsung mencubitnya.
"Akhhhh" dokter pun berteriak kesakitan.
"Dokter jangan pernah meledek" kesal ku sehingga membuat dokter tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak meledek, aku serius" aku pun memandang dokter sehingga dokter pun menjetikkan jarinya ke keningku.
"jangan pandang aku seperti itu nanti kamu suka loh" mendengar ucapan dokter itu aku pun jadi ikut ketawa terbahak-bahak juga.
Dokter pun jadi bingung "kenapa?."
"Keluarga kita sama-sama aneh semua menganggap menantu, ya udah sekarang kita makan pergi makan ada yang aku katakan lagi" ucapku membuat dokter menghidupkan mobilnya.
Saat hendak keluar rumah tiba-tiba di depan mobil kami berhenti lah mobil yang aku kenal, dari dalam mobil itu turun lah Nindi segera menghampiri aku dan dokter sambil mengetuk kaca mobil.
Aku menurunkan kaca mobil "Ada apa?" tanyaku.
Nindi pun dengan ragu "aku minta waktu 5 menit untuk berbicara pada anda Ara, aku mohon" ucap Nindi yang membuat aku menoleh ke arah dokter.
Dokter pun mengangguk seakan mengiyakan, sehingga aku keluar dari mobil "kenapa?"
Nindi pun langsung memegang tangan ku "Aku mohon lepaskan Lidia, aku akan melakukan apa pun agar kamu mau mengampuni dia" ucap Nindi yang membuat aku merasa iba.
Aku pun melepaskan tangan Nindi "kenapa harus kamu, dia yang salah" ucap ku membuat Nindi tersenyum.
"Aku akan menyuruh dia meminta maaf ke pada mu, aku tau dia jahat tapi dia orang yang sudah menyelamatkan keluarga ku satu-satunya" ucapan Nindi itu membuat aku penasaran.