
Sepulang kampus Juno kedatangan teman-temannya di apartemen. Ketiga teman Juno tersebut adalah Monnie, Jamie, dan Gia. Orang-orang yang sempat berkenalan dengan Anette di club malam waktu itu.
Anette meletakan sebotol besar minuman bersoda dan beberapa gelas di meja ruang TV tempat mereka berkumpul. Saat akan berbalik ke dapur, tiba-tiba Monnie memanggilnya.
"Kau mau kemana An? Sini gabung," ajak Monnie.
"Emm aku-,"
"Sudah-sudah sini duduk, Jun ajak dia duduk!" Perintah Monnie.
Juno menepuk-nepuk karpet di sisinya.
"Sini An," perintahnya. Mau tidak mau Anette menurut saja.
Karena hanya ada 1 sofa di ruang TV, Jadilah hanya Jamie dan Gia yang duduk di sofa dan sisanya duduk lesehan di karpet berbulu.
Di meja makan sudah banyak makanan ringan yang teman-teman Juno Bawa.
"Aku baru saja membeli kartu truth or dare yang deep version, mau coba?" Tanya Gia.
"Ayo, yang lain bagaimana?" Balas Jamie meminta persetujuan yang lainnya.
Mereka setuju.
"Oke, aku yang pertama memutar botolnya," ucap Monnie.
Botol diputar dan akhirnya bergenti dengan tutup botol mengarah ke Juno.
"Truth or dare bruh?" Tanya Monnie.
"Dare," jawab Juno dengan wajah sok coolnya.
Monnie mengambil 1 kartu dare yang di tumpuk di atas meja.
"Kau harus hand stand selama satu menit," tantang Monnie sambil menunjukan isi kartunya.
"Baiklah, hanya itu."
Ucapan Juno membuat Gia, Jamie, dan Monnie menyoraki laki-laki sombong itu.
Juno benar-benar melakukannya dengan baik. Lihatlah, otot lengannya sangat kentara begitupun dengan balok-balok pada perutnya yang terpampang saat bajunya ikut turun ke bawah mengikuti gravitasi.
Mengagumkan.
Sekarang giliran Juno yang memutar botolnya. Kali ini botol mengarah pada Gia.
"Truth or dare Gi?" Tanya Juno.
"Truth," jawab Gia.
"Huh payah kau," ucap Juno seraya mengambil 1 kartu truth.
Dengan senyum smirknya Juno memperlihatkan isi kartunya. Membuat yang lain terkejut, namun tertawa di detik kemudian. Kecuali Anette yang mengetyitkan keningnya bingung. Tentu saja.
"Kapan terakhir kau mengompol?" Tanya Juno.
Wajah Gia terlihat merona. Namun dengan samtai ia tetap menampilkan wajah coolnya yang dibuat-buat.
"Waktu SD."
"Ah masa," ucap Jamie menggoda.
"Terus untuk apa tadi ibumu marah-marah masalah kasur kalau bukan karena kau mengompol?"
"ish, iya-iya ta-tapi aku tidak sengaja! itu karena aku mimpi buruk."
"Sudah-sudah, Gi ayo putar lagi botolnya," ucap Monnie.
Putaran Gia begitu kencang, cukup lama untuk menunggu botol tersebut berhenti sampai akhirnya botol tersebut berhenti tepat mengarah ke Anette.
"Truth or dare An?" Tanya Gia.
"Dare," jawab Anette tanpa di duga. Mereka terlihat terkejut mendengarnya.
"Kau serius?" Tanya Juno seraya menaikan satu alisnya.
"Iya, hanya tantangan sepertimu tadi bukan?" Jawab Anette.
Jamie terkekeh, "Sudahlah Jun, biarkan dia menambah pengalamannya."
Gia mengambil kartu dan memperlihatkannya pada Anette.
"Cium salah satu orang yang berada di dekatmu!" Tantang Gia.
Anette membelalakan matanya terkejut. Mengapa tantangan tidak senonoh seperti itu yang dirinya dapatkan. Anette kira ia hanya akan melakukan push up atau seat up.
"Hah! Mengapa ciuman?" Tanya Anette.
"Ini dare An. Ayo, bukankah tadi kau semdiri yang bersemangat untuk memilih dare?" Ucap Monnie menggoda Anette.
Ini tantangan, aku tidak ingin dicap pecundang, pikir Anette.
Juno terkejut saat Anette dengan tiba-tiba menakup kedua pipinya dan menciumnya. Haya sebuah kecupan singkat.
"Woaaa," sorak mereka yang menyaksikan.
Saat Anette akan menjauh Juno membalas menakup pipi Anette lalu menggigit pelan puncak hidungnya.
"iyuhhh lepaskan!" Anette mendorong dada Juno agar menjauh. Gia, Monnie, dan Jamie tertawa melihatnya.
Juno melepaskan gigitannya. Anette mengusap-usap puncak hidungnya yang memerah.
"Oh Tuhan, ternyata Juno kita bisa seganas itu guys," ucap Jamie menggoda..
"Hahaha Benar," tambah Gia.
"Hahaha."
"Kau sangat menyebalkan!"
"Siapa suruh kau menciumku," balas Anette.
Anette sangat amat malu. Ia menjadi salah tingkah sendiri. Anette tidak berani menatap mereka. Wajahnya saat ini pasti sangat merona. Anette meraih bantal sofa lalu menyembunyikan wajahnya di sana. Ia benar-benar malu. Sangat malu!
Juno terkekeh, dengan iseng ia menyenggol-nyenggol tubuh Anette dengan lengannya.
"Juno diam..."
Bukannya berhenti, Juno malah menyandarkan tubunya pada Anette.
"Juno.." rengek Anette sembari memukul-mukul tubuh Juno.
"Ahahaha iya-iya Ampun.."
Lagi-lagi mereka dibuat tertawa oleh tingkah Anette yang malu-malu kucing.
Permainan diakhiri dengan Jamie yang harus pura-pura menjadi seorang gay dan Monnie yang harus memeluk orang tidak dikenal yang lewat di depat pintu unit apartemen Juno. Monnie pasrah ketika harus memeluk seorang laki-laki tua bangka.
...
Setelah permainan tadi sore, Anette merasa canggung berhadapan dengan Juno. Kira-kira apa yang dipikirkan laki-laki itu setelah ciuman tadi? Anette takut dicap murahan oleh laki-laki itu dan teman-temannya.
Di kamarnya Anette yang sedang berbaring sambil menendang-nendang selimutnya. Ia teringat tentang dare yang disaksikan langsung oleh teman-teman Juno. Ya Tuhan, Anette malu.
Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan Rachel di ambang pintu sana.
"An, kamu kenapa?" Tanya Rachel.
Anette langsung duduk seketika.
"E-em Aku tidak apa-apa buna. Hanya banyak nyamuk."
"Makannya rajin-rajin bersihkan kamarmu! tidurlah," ucap Rachel sebelum kembali menutup Pintu.
Anette memukul-mukuk kepalanya sendiri. Astaga, mengapa ia jadi seperti ini?
Tiba-tiba ponsel Anette yang berada di meja nakas berdering. Gadis itu melebarkan matanya saat melihat sebuah panggilan video dari Juno. Anette panik sendiri, ia harus apa?
Anette merapikan rambut dan letak bajunya. Tapi seaat kemudian ia tersadar, untuk apa ia melakukannya?
Anette memegang dadanya sambil menghembuskan nafas panjang sebelum menggeser ikon hijau pada layar ponselnya.
"Hey lama sekali mengangkatnya, jangan bilang kau harus bersiap-siap dulu sebelum mengangatnya?" Ucap Juno di seberang sana dengan mata memicing.
"Tidak!" Balas Anette tak terima atas kebenaran yang Juno ucapkan.
"Sebenarnya ada apa kau memanggilku?" Tanya Anette.
"Rindu," jawab Juno jujur.
"Hahaha kau lucu sekali," Anette tertawa sumbang.
Di sebrang sana Juno terlihat mengendus kesal sambil memajujan bibirnya.
"Aku serius An," rengek Juno.
Anette terkekeh, "hey, sebenarnya kau kenapa?"
"Sudah kubilang aku rindu!"
"Sudah malam Jun, tidurlah."
Anette langsung mematikan panggilan tersebut. Ia mengguling-gulingkan tubuhnya di kasur. Ia tidak kuat, jantungnya benar benar berdebar cepat dengan hanya karena melihat wajah Juno.
...
Dagdigduh hatiku..