
Aku pun bergegas ke rumah sakit, buru-buru aku turun dari mobil masuk ke dalam saat berjalan mencari ruangan dokter kaki ku terhenti ada oleh seorang dokter yang berada di hadapan ku.
"Maaf menghentikan langkah mu" ucapnya membuat aku diam.
"Oh iya kenalkan namaku Teguh, aku dokter di rumah sakit ini" dia pun mengulurkan tangannya.
Aku pun juga membalas uluran tangan dan menjawab "namaku Hiara Najwa panggil saja aku Ara" dokter itu pun tersenyum.
"Sebenarnya saya adalah penggemar anda jadi saat melihat anda datang kemari saya menghentikan anda, maaf kalau mengulurkan waktu anda" ucap Teguh.
"Terima kasih kalau dokter sudah menjadi penggemar saya."
"Sama-sama, saya juga sama seperti Dokter Nando sama-sama dokter spesialis kulit, jadi kalau Dokter Nando tidak ada saat anda perlu untuk melakukan perubahan pada kulit, anda bisa mencari saya" ucapnya sambil tersenyum.
Aku pun dalam hati berkata "ini orang menghina atau menawarkan diri."
"Oh iya, kalau gitu saya permisi dulu ya karena saya ada perlu dengan Dokter Nando" aku pun segera pergi meninggalkan Dokter Teguh.
Dokter Teguh melihat ke arahku yang berjalan dengan sangat cepat "luar biasa Dokter Nando merubah wanita jadi secantik itu, aku harus bisa mengambil hati wanita itu supaya aku juga bisa terkenal. Semenjak dia datang ke sini pasien ku menurun karena banyak beralih kepada dirinya" ucap dokter Teguh.
Aku pun segera membuka pintu ternyata sudah ada dua pasien yang sedang konsul kepada dokter Nando, saat bersamaan Jaya pun masuk jadi kami saling melihat "kak oplas" sapanya.
Aku pun segera menarik tangan Jaya tanpa menjawab sapaannya, dengan cepat aku menarik tangan Dokter Nando berdiri dan mendorong Jaya yang duduk di kursi itu.
Pasien yang melihat tingkah kami pun segera bertanya "Dok gimana."
"Maaf adik-adik yang cantik, Dokter Jaya yang akan melanjutkan Dokter Nando karena Dokter Nando lagi ada masalah" ucapku yang membuat Dokter dan Jaya memandangi aku.
Aku pun membisikkan sesuatu kepada dua pasien tersebut sehingga mereka mengangguk dan mengerti "ya udah ngak apa-apa kalau begitu" ucap kedua pasien tersebut.
Aku pun segera menarik tangan Dokter Nando "terima kasih adik adik, dokter itu yang akan menyelesaikan masalah kalian" ucapku sambil memberikan jempol kepada Jaya.
"Wah wanita itu memanggil kita adik, pada hal kalau di lihat lebih muda dia dari pada kita" bisik kedua pasien tersebut.
Jaya yang kesal pada saat itu melihat ke arah ku dalam hati Jaya berkata "awas yah kak oplas tega-teganya dia buat aku jadi seperti ini, padahal jam kerja ku sudah selesai harusnya aku di rumah istirahat main game. Ahhhh jahat" sambil meremas kertas yang ada di depan mejanya.
Aku yang menarik dokter segera masuk ke dalam mobil dokter "cepet" pintaku.
"Hei kita ini mau kemana" tanya Dokter sambil menggunakan sabuk pengaman.
"Dokter kita harus ke penjara" dokter menoleh ke arah ku.
"Kamu yakin kita ke penjara."
"Kamu yakin kuat" aku pun menutup mulut dokter dengan jari telunjuk ku "Hussss, sekarang ayo berangkat" dokter dengan cepat menghidupkan mobil dan kami pun pergi bersama-sama.
Sampai di penjara semuanya sudah sangat ramai, aku melihat semua wartawan datang untuk menghampiri Lidia. Lidia pun memulai percakapannya di jumpa pers yang dimana penuh dengan omong kosong dan ke bohongan, ke bohongan akan meminta maaf kepadaku .
Aku yang melihat itupun tersenyum "dasar wanita rubah" dalam hatiku. Selesai itu Lidia pun menangis dengan sebutan maaf sehingga wartawan pun menyorot ke arah ku yang sedang berdiri di dekat sana. Dengan akting pun aku berjalan mendekati Lidia dan menerima maaf serta ikut menangis.
Yah akhirnya kami pun saling berpelukan, aku pun membisikkan sesuatu ke telinga Lidia "terimakasih" ucapku sehingga Lidia pun tersenyum dan menjawab pertanyaanku "sama-sama wanita oplas."
Jawabannya membuat aku tersenyum sinis, aku segera menelpon pengacara ku serta berjalan memegang pundak Nindi sambil tersenyum.
Aku yang berjalan segera pergi dari tempat itu di kejar oleh semua wartawan yang mengincar ku dan menanyakan banyak hal kepada ku, Dokter dengan sigap berjalan di samping ku untuk menjaga ku.
Ibu yang saat itu menonton televisi segera berteriak "ayahhhhh, cepat kemari. Ayahhh" sehingga ayah pun berjalan ke arah ibu "ada apa" jawab ayah.
Semua orang pun keluar mendengar teriakan ibu "kenapa sih teriak-teriak" oceh mama, ibu pun tidak peduli dengan ocehan mama dan segera menarik ayah untuk duduk.
"Tonton itu" tunjuk ibu ke arah televisi hingga semua orang menatap ke arah televisi melihat kejadian Lidia dan aku.
"Wanita pelakor itu minta maaf, mimpi apa dia" ucap ibu.
"Pasti wanita itu secepatnya bebas dari penjara kalau dia sudah melakukan hal seperti ini" ucap ayah.
Mama yang mendengar ucapan itu pun segera masuk ke kamar menelpon papa tapi nomor yang papa tuju tidak aktif "kalau Lidia bebas apa anakku juga bebas" ucap mama sambil terus menelpon ke nomor papa yang tidak aktif hingga akhirnya Mama menelpon kantor.
Saat mama hendak menelpon kantor sudah ada nitip pesan dari papa yang isinya papa pergi keluar negeri untuk bisnis, semua usaha di serahkan kepada Hiara jadi papa tidak bisa membantu sama sekali kalau terjadi apa-apa karena sinyal di sana kurang.
Melihat pesan papa itu mama segera keluar kamar mencari Meri.
Aku yang masih di cerca wartawan dengan mudah menjawab semua pertanyaan pertanyaan dari mereka semua.
Saat para wartawan itu selesai dokter menarik tangan ku, mengajak aku segera berjalan ke depan gerbang penjara, aku yang keluar pun di kagetkan oleh sosok pria yang ada di hadapan ku "Ferii" ucap ku dalam hati.
Feri yang baru keluar dari penjara dan menunggu di depan gerbang itu menatap sendu ke arahku melihat itu dia berjalan ke arah ku.
Dokter pun menahan tubuh Feri untuk tidak mendekati aku tapi aku memegang pundak dokter sehingga dokter pun mengangguk masuk ke dalam mobil duluan.
Di dalam mobil pun dokter gelisah "apa yang akan di katakan oleh laki-laki itu, jangan sampai dia ngajak balikan. Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak boleh Hiara kembali dengan dia" ucap dokter sambil mengintip ke jendela mobil.
"Hiara, aku minta maaf ke pada kamu. Aku tahu semua yang aku lakukan tidak bisa di maafkan tapi aku yakin kamu mempunyai hati yang baik" ucap Feri yang membuat aku tersenyum.