
Mendengar ucapan ku itu Lidia tertawa senang, Feri berdiri seperti patung dengan tubuh yang gemetaran sedangan ayah dan ibu menangis mendengarnya.
Saat itu penonton melemparkan sampahnya ke arah ku namun dokter yang melihat itu segera berlari ke hadapan ku memeluk aku sehingga sampah yang di lemparkan itu mengenai kepala dan punggung dokter dengan jantung berdetak kencang "sekarang" bisik dokter.
Aku mengangkat microfone ku langsung berkata "apa kalian semua ingin tahu kenapa aku seperti ini" semuanya berceloteh saling berhadapan mendengar ucapan ku itu.
Di saat itu "Bicaralahhhh kami ingin tahu semuanya kakkkkkk" teriak Hito menggunakan speaker keamanan yang dia rebut saat semua orang sedang sibuk melemparkan sampah ke arahku.
Semua penonton pun akhirnya membuka suara "iyaaa ceritakan" "iya katakan sejujurnya kami mau tau kebenarannya" "Katakannnnn kak kami para fans mendukung mu" ucapan-ucapan itu yang aku dengar dari mereka yang berada di depan ku ini sehingga membuat dokter melepaskan pelukannya.
Aku pun maju berjalan menarik tangan Lidia, Lidia yang berusaha tidak bisa melepaskan genggaman tangan itu karena walaupun tubuhku berubah tapi kekuatan smackdown ku masih tetap berada di tubuh ku.
"Aku bernama Hiara Najwa wanita berusia 26 tahun, di tahun lalu aku wanita gemuk jelek mengalami kesialan 99% ini mempunyai suami yang sangat tampan, bagaimana bisa wanita gemuk ini punya suami seperti itu? malam hari cuaca hujan aku pulang ke rumah melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah, saat aku masuk isi rumah berserakan sendal dan sepatu sepasang wanita dan pria di rumah itu. Aku berjalan menuju ke kamar ku aku melihat dua sejoli sedang memadu kasih di atas ranjang ku tanpa ada penyesalan sang wanita memamerkan tubuh bugilnya di hadapanku yang mengejek tubuhku yang gemuk" aku pun menangis menghentikan ucapanku sambil melepaskan genggaman tangan Lidia yang aku genggam.
Lidia yang saat itu berteriak "bohong jangan percaya pada wanita aneh ini, harusnya kalian melemparkan dia dengan kotoran."
"Hiara anak baik tidak mungkin berbohong" teriakan ayah membuat aku tersenyum.
Ibu pun dengan kesal mendorong petugas keamanan dan berjalan masuk ke arah Lidia "Aku adalah ibu yang mengandungnya jadi aku tahu Hiara tidak mungkin mengungkapkan kebohongan" tunjuk ibu ke pada Lidia namun ayah menahan ibu karena ayah tau ibu orang nekat dapat mencelakai siapa pun.
Aku pun tersenyum dengan ucapan ayah dan ibu itu melanjutkan untuk berbicara tetapi Feri mengambil microfone milikku "hentikan" ucap Feri.
Dokter yang melihat itu segera mendorong Feri dan mengambil microfone itu dari tangannya "kamu diam di sini biar saja dia melanjutkan ucapannya" memberikan microfone itu kepada ku.
"Pada saat itu hatiku hancur, seorang istri sah mana yang tidak hancur melihat seperti itu" ucapku.
"Benar kak, bukan hancur lagi tapi rasanya ingin mati" teriak fans di hadapanku.
"Aku pergi mengendarai mobil sampai mengalami kecelakaan, kalian tau itu bukan kecelakaan tapi unsur kesengajaan. Karena aku mempunyai 1% keberuntungan aku masih selamat dan sehat bahkan aku bertemu dengan dokter Nando yang sudah membantuku selama satu tahun ini, kalian mau tau siapa pelaku itu" ucapan ku membuat semuanya tegangan dan para fans saling berhadapan seolah-olah penasaran siapa, siapa, siapa dari percakapan mereka.
Lidia yang saat itu kesal hendak pergi tapi di tahan oleh dokter "tetap disini" pegang dokter sampai dia ke susahan untuk melepaskannya.
Ibu yang saat itu berjalan ke arah ku "siapa nak" tanya ibu sambil menatap ke arahku.
Aku menarik nafas panjang "Dia dan dia" tunjukku ke arah Lidia dan ke arah Feri.
"Bohong, kamu jangan sembarang bicara. Aku bisa saja melaporkan kamu karena sudah melakukan tuduhan palsu" teriak Lidia.
Ibu berjalan kearah Lidia dan menamparnya sehingga membuat dokter melepaskan pegangannya "aku sudah bilang dari tadi kalau anak ku bukan pembohong" marah ibu, ayah pun menahan tangan ibu yang hendak memukul Lidia lagi.
"Dia artis yang kalian sukai, yang tidak mempunyai bakat apa pun. Lidia satu tahun lalu membeli suaraku dan laguku dan dia mendukung pelakor ini serta menjadikannya istri sirih di belakangku."
"Satu, dua, tiga sekarang kalian boleh membuka hp kalian masing-masing untuk melihat buktinya" ucapanku membuat semua orang membuka hp nya dan menonton video rekaman yang di ucapkan oleh Feri dan Lidia.
"Tidak bagaimana mungkin" ucap Feri sambil melihat ke arahku.
Aku tersenyum puas melihat orang yang berada di sudut penonton menggunakan topi untuk menutupi wajahnya sambil mengacungkan jempol ke arahku dan segera pergi dari tempat itu, Lidia dan Feri segera di tangkap oleh polisi dan di lemparkan kotoran ke arah mereka.
Lidia di hina dengan sebutan pelakor, pembunuh, bakatnya hanya bisa menjadi penggoda dan banyak lagi saat di bawa paksa oleh polisi.
Ayah, ibu dan dokter segera menarik tanganku untuk mengajakku pergi dari tempat itu. Hito yang saat itu masih menggunakan speaker berteriak "Kakak memang yang terbaik."
Ibu pun segera berjalan ke arah Hito menjewer telinganya dan melepaskan speaker itu "pulangggg" ucap ibu.
"Aduh, aduh Bu sakit" teriak Hito kesakitan mengikuti langkah kaki ibu.
"Ibuuu" ucapku sehingga ibu melepaskan tangannya dari telinga Hito.
Kami pun masuk ke dalam mobil dokter dan segera pergi dari tempat itu, namun di perjalan aku menelpon orang tersebut mengucapkan banyak terimakasih sudah membantuku selama ini dan dia pun mengatakan hal yang sama karena kita berdua sama-sama korban serta memiliki kebencian yang sama untuk ke dua orang tersebut.
"Apakah orang mengirimkan video itu Agus?" tanya dokter.
Aku pun tersenyum mengangguk "kak apa kakak akan tinggal bersama kita" tanya Hito.
Aku yang mendengar ucapan Hito itu tersenyum lebar "bukan kakak yang akan tinggal bersama kalian tapi kalian yang akan tinggal bersama kakak" wajahku sambil menoleh ke belakang.
"Apa, dimana?" ibu pun penasaran.
"Entar dulu, kamu mau ngajak ibu, ayah dan Hito di apartemen?"
"Enggak donk dokter, tapi ke rumahku. Dokter juga tenang aja besok aku akan melunasi seluruh hutang-hutang ku pada dokter."
"Hutang" ucap ayah, ibu dan Hito mereka bertiga bersamaan.
Aku pun tersenyum "ceritanya panjang" jawabku.
Sesampai di rumah aku menyuruh ayah, ibu dan Hito berkemas-kemas membawa pakaiannya "Kamu mau tinggal dimana sih, kenapa kamu tidak cerita?" tanya dokter yang penasaran.
Ibu, ayah dan Hito keluar rumah membawa pakaiannya untuk di masukkan ke mobil "sekarang ke alamat ini" ucapku memberikan alamat itu ke pada dokter.