
Saat ini Anette dan Juno sedang duduk di tepi kolam renang yang berada di samping mansion keluarga Juno. Juno menunjukan suara merdunya dengan menyanyikan sebuah lagu sambil memetik gitar akustik di tangannya.
"Tolong sampaikan pada dirinya.. lagu ini kutuliskan untuknya.. teman yang selalu kusebut dalam doa, sampai aku mampu.. ucap maukah denganku."
Anette yang berada di sampingnya bertepuk tangan.
"Gimana, mau?" Tanya Juno sambil mengedipkan sebelah matanya.
Anette menyiprat air ke arah Juno.
"Hey hey An bajuku basah," ucap Juno.
"Juno tolong bantu momy angkat barang!" Teriak Hara dari dalam sana.
"Iya mom!" Balas Juno berteriak.
"Aku ke dalam dulu," ucap Juno pada Anette.
Anette mengangguk. Gadis tersebut memainkan kakinya yang dicelupkan di dalam air kolam. Anette tersenyum geli memikirkan pekerjaannya saat ini. Seperti tidak bekerja.
Jika para kaum rebahan tahu tentang pekerjaan Anette saat ini, pasti mereka akan menganggapnya sebagai pekerjaan impian.
Tiba-tiba seseorang duduk di sebelah kiri Anette. Anette menoleh, ternyata orang tersebut Keanu. Anette terlihat kaget. Suasana berubah jadi akward.
"Kak," sapa Anette sebagai formalitas semata.
"Hi An," sapa Keanu balik.
Anette tersenyum kikuk. Ia beralih menatap kakinya yang berada di air.
"Kelihatannya kau semakin dekat dengan Juno," ucap Keanu.
"Aku bekerja dengannya," ucap Anette.
Tiba-tiba Keanu meraih tangan Anette dari di pangkuan gadis tersebut. Atas hal tersebut secara reflek Anette menoleh pada Keanu dan menarik tangannya, namun Keanu menahannya.
"Kak nanti ada yang lihat," bisik Anette yang kembali berusaha menarik tangannya, namun gagal.
"Tolong maafkan aku An," lirih Keanu.
"Aku sudah memaafkan kakak."
"An, bisakah kita kembali?" Sayangnya pertanyaan tersebut hanya bisa Keanu ucapkan dalam hatinya.
"Kau berhak bahagia dengan orang yang tepat. Mungkin itu adikku," ucap Keanu dengan tawa yang sedikit dipaksakan.
"Di mana Kak Wilona?" Tanya Anette berusaha mengalihkan topik.
"Wilona sudah pulang karena urusan mendadak," jawab Keanu.
Anette mengangguk paham.
"An, bolehkah aku memelukmu?" Tanya Keanu pehuh harap.
"Tapi-"
"Untuk terakhir kalinya, please.."
Anette diam sejenak lalu mengangguk pelan. Untuk terakhir kalinya, apa salahnya bukan?
Keanu menarik Anette ke dalam pelukannya. Ia menghirup dalam aroma parfum yang ia rindukan dari gadis dipelukannya itu.
"Sepertinya kita memang lebih cocok sebagai adik dan kakak," ucap Keanu dengan kekehannya.
Anette ikut terkekeh, "kedengarannya tidak buruk."
Keanu mengeratkan pelukannya. Dengan perlahan Anette pun membalasnya. Hingga suara deheman membuat mereka melepaskan pelukannya.
Di belakang mereka sudah ada Juno yang berdiri dengan wajah datarnya. Juno menghampiri Anette dan menarik tangannya agar berdiri.
"Ayo," ucap Juno datar.
"Awhh Juno tanganku sakit," ringis Anette.
Keanu yang melihat hal tersebut ikut berdiri mengikuti langkah keduanya.
"Juno hentikan!" Bentak Keanu.
Juno tidak menanggapinya, ia terus menarik Anette tanpa menoleh ke belakang. Sampai akhirnya bahunya ditarik kebelakang oleh Keanu, Keanu memberikan bogeman mentah pada wajah adiknya tersebut. Cengkraman tangan Juno pada Anette terlepas. Anette mengusap-usap tangannya kesakitan.
"Kau menyakitinya bodoh!" Bentak Keanu di depan wajah Juno.
Juno tak mau kalah, ia mencengkram kerah baju Keanu. Juno menatap tajam sang kakak.
"Menyakitinya hmm?! Lalu kau apa ********?! kau lebih bodoh!" Teriak Juno penuh emosi.
Mendengar ucapan Juno membuat Keanu tersadar. Tangannya yang awalnya ingin kembali melayangkan pukulan kembali ia turunkan. Ucapan Juno benar.
Juno memukul Keanu tanpa ampun. Keanu tersungkur ke bawah.
"Juno tolong hentikan!" Ucap Anette berkali-kali namun tidak di hiraukan oleh Juno.
Anette berusaha menarik Juno, cukup sulit karena laki-laki itu sedang diselimuti oleh kabut amarah. Hingga tanpa sengaja sikutan Juno mengenai sudut bibir Anette, gadis tersebut jatuh tersungkur ke belakang.
"Ashhh," ringis Anette memegang sudut bibirnya yang berdarah.
Juno menghentikan pulukannya. Tanpa menoleh ke belakang ia mematung menatap tangannya. Astaga, apa yang barusan ia lakukan pada Anette?!
Tanpa mempedulikan rasa sakitnya, Anette kembali bangkit lalu memeluk tubuh Juno dari belakang.
"Sudah hiks, jangan lakukan lagi," larang Anette dalam tangisnya.
"Maafkan aku, maaf," ucap Juno memohon.
Dalam pelukannya, Anette menganggukan kepalanya.
"Terumakasih," ucap Juno.
Juno merenggangkan pelukannya. Ia menakup sisi wajah Anette dengan satu tangannya. Juno memperhatikan luka pada sudut bibir Anette yang berdarah.
"Maaf," lirih Juno.
Anette menggelengkan kepalanya, "tidak apa-apa."
"Heyy, apa tidak ada yang berniat untuk menolongku?" Tanya Keanu yang masih terbaring di lantai.
"Tidak, kekasihku lebih membutuhkanku," ucap Juno datar.
Dengan gerakan tiba-tiba Juno menggendong Anette menuju kamarnya yang berada di mansion tersebut. Tanpa Juno ketahui, Anette sedang menutupi rona merah di pipinya pada lekuk lehernya.
Kekasih, itulah satu kata yang berhasil membuat pipi Anette merona.
"Dasar budak cinta!" Maki Keanu yang sedang kesusahan untuk bangun.
"Anak kita sudah menemukan pasangannya masing-masing sayang. Padahal rasanya belum lama aku menggantikan popok mereka," ucap Demian pada Hara yang sedang ia peluk dari belakang.
Sebenarnya sedari tadi keduanya menyaksikan pertengkaran tiga anak muda tersebut dari jendela kamar mereka. Demian dan Hara tidak berniat untuk ikut campur urusan anak-anaknya.
"Huh, kamu saja yang terlalu sibuk kerja," balas Hara.
"Bagaimana jika kita membuat adik untuk mereka?" Usul Demian dengan isengnya.
Hara mencubit lengan Demian yang melingkar di perutnya.
"Sudah tua.. sadar!" Balas Hara.
...
Di kamar Juno, Anette duduk di tepian kasur bersama laki-laki itu di sebelahnya. Saat ini lukanya sedang diobati oleh Juno. Jarak keduanya begitu dekat.
"Selesai, apa terasa lebih baik?" Tanya Juno tanpa menjauhkan wajahnya.
Anette mengangguk. "Dingin," jawab Anette dengan cengirannya.
Juno terkekeh. Jell yang ia gunakan untuk mengobati luka Anette memang memberikan efek dingin.
"An, ucapanku tadi serius," ucap Juno mendadak serius.
"Ucapan yang mana?" Tanya Anette bingung.
"Kau kekasihku!" Tegas Juno.
"T-tapi kan kau tidak-"
"Menembakmu?" Sambung Juno.
Anette menundukan kepalanya seraya mengangguk pelan.
"Hahaha, baiklah."
Juno berlutut di hadapan Anette. Digenggamnya kedua tangan mungil gadis tersebut.
"An, aku tidak suka basa-basi dan aku tidak meminta persetujuanmu, mulai saat ini aku mau kamu menjadi kekasihku?" Tanya Juno. Matanya menatap Anette dalam.
"Mana bisa seperti itu?" Tanya Anette tidak terima.
"Masa bodo, aku maunya seperti itu," ucap Juno seenak jidatnya.
"Dasar kau," Anette menyerang Juno dengan cubitannya.
"Kau sudah berani rupanya."
Juno berdiri, ia menatap Anette dengan tatapan yang sulit diartika. Juno semakin mendekat seakan memberi ancang-ancang. Membuat Anette memundurkan tubuhnya secara perlahan-lahan.
"Jun, kau mau apa?" Tanya Anette was-was.
"Menurutmu?" Tanya Juno dengan senyum smirknya.
"Juno menjauhlah!" Seru Anette ketakutan.
Juno menggelengkan kepalanya.
Juno merangkak naik ke ranjang. Terus maju, hingga tubuhnya mengurung tubuh Anette di bawahnya. Gadis tersebut tidak bisa menghindar lagi karena punggungnya telah menabrak kepala ranjang.
"Juno please menjauhlah.." rengek Anette seraya memukul-mukul lengan Juno.
"Aku tidak mau.." balas Juno ikut merengek.
"Ihhh," kali ini Anette mengelitiki ketiak Juno.
Juno berhasil menangkap kedua tangan Anette.
"Sekarang giliranku," ucap Juno mengerikan.
Hidung Juno mengendus-endus leher Anette. Tubuh Anette terasa merinding saat puncak hidung mancung milik Juno menyentuh kulit lehernya. Di detik kemudian Juno mengelitiki tubuh Anette tanpa Ampun.
"AAAA JUNO!"
...
Halu terosss.