
Aku dan kakek pun segera pergi meninggalkan mereka, mama yang melihat mereka keluar segera mendekati Meri "anak goblok, mama tidak bisa bantu kamu karena kamu memang salah. Kenapa harus teriak-teriak, kamu kan bisa bicara sampai tidak heboh seperti ini. Sekarang mama nggak mau ikut campur itu urusan kamu kesalahan kamu buat sendiri dan kamu lakukan sendiri" ucap Mama pun segera pergi meninggalkan Meri.
"Mamaaaa" teriak Meri kesal "Mama kejam padahal aku kan anak perempuan satu-satunya dia hanya peduli dengan kakak saja" kesalnya langsung mengganti bajunya.
Aku yang saat itu keluar dari kamar menoleh ke arah ibu yang sedang duduk di meja makan sambil tersenyum melihat ke arah Bik Ija yang masih menyiapkan sarapan di meja.
"Ibu kenapa ya, kok kayak senang gitu" ucapku dalam hati.
Kami pun melanjutkan makanan kami kembali, di depan rumah dokter membunyikan klakson mobilnya sangat besar "itu siapa sih berisik banget, pagi-pagi di depan rumah" celoteh ibu sambil menutup telinganya.
Aku yang melihat chat wa dari dokter ternyata dia sudah berada di depan rumah pun segera mengambil tas "Ibu, ayah, kakek sama mama berangkat duluan. Oh ya Hito nanti kalau mau berangkat sekolah kamu bisa sama supir, oke" memberikan jempol ku kepada Hito.
"Urusan Meri terserah sama kakek, Hiara yakin kakek akan melakukan yang terbaik untuknya" kakek mengangguk kepalanya sehingga aku langsung keluar secepatnya.
Saat itu Feri keluar dari kamarnya pun melihat aku berlari secepatnya ke depan pintu rumah hingga Feri melangkahkan kakinya dengan cepat untuk melihat aku pergi dengan siapa "lihat saja pemandangan yang tidak menyenangkan, lagi-lagi laki-laki itu lagi" ucapkan Feri dalam hatinya.
Aku pun segera pergi meninggalkan mereka, di perjalanan aku menceritakan kejadian pagi tadi di rumah "dok gimana sudah bicara sama Profesor tentang kita."
Dokter pun mengangguk kepalanya "kemarin mau bicara tapi nggak ada waktu, Profesor sangat sibuk" jawabnya kepadaku.
"Kalau aku sudah hampir bicara sama seperti ibu" jelas ku. "Aku pulang aja dia sibuk sekali dengan wajahnya itu."
"Udah nanti kita pikirkan lagi."
"Tapi gimana dong dokter nanti kalau Profesor datang ke rumah dan mau ngelamar, apa yang harus kita lakukan. Kita kan tidak pacaran, lagian juga kan nggak mungkin dokter suka sama aku cewek jelek kayak gini.'
"Emangnya kamu suka sama aku" aku mendengar ucapan dokter aku langsung memukul dokter.
"Enggak mungkin dong dokter aku suka sama dokter, aku ini tau diri dokter. Siapa aku siapa dokter. lagian kan dokter punya banyak sekali fans salah satu dari mereka itu yang nanti cocok jadi istri dokter, apalagi dokter udah."
"Hentikan" teriak dokter sehingga aku pun menghentikan celotehan ku yang panjang lebar.
"Kamu enggak usah bicara lagi, kita nggak usah mikirin profesor. Mendingan kita buat bisnis kita aja."
"Maksud dokter bisnis pelangsing."
Dokter pun menghentikan mobilnya "kamu benar" aku yang kaget saat itu memegang keningku yang sakit terbentur.
Dengan kesal aku menjewer telinga dokter "Awwww, kamu."
"Apa, dokter ngak bisa pelan-pelan apa berhenti sampai membuat aku terbentur" kesal ku.
"Maaf, ide kamu benar-benar bagus. Cemerlang, jadi kamu harus bantu aku cari orang seperti itu."
"Cari sendiri" marahku, dokter pun melanjutkan perjalanannya dengan kecewa.
Saat melanjutkan perjalanan dokter kaget menghentikan mobilnya lagi sampai aku terbentur ke 2 kalinya, aku menoleh ke arah dokter dengan marah memegang keningku lagi.
Dokter yang menoleh ke arah ku "jangan marah, lihat itu" tunjuknya ke depan mobil.
"Kenapa" aku melihat mobil yang berada di depan kami.
"Mobil gila itu memotong terus berhenti mendadak di depan kita."
"Siapa itu dokter."
"Nggak tahu" akhirnya aku turun dengan wajah marah melihat orang yang keluar dari mobil itu pun segera tersenyum.
"Kamu" tunjukku kesal melihat Lira di hadapanku.
"Aku tahu kamu lagi kesal, aku ingin bekerja sama dengan kamu, aku ingin kamu menandatangani kontrak ini dan kita pun bekerja" ucapnya memberikan selembar kertas kepadaku sehingga membuat Dokter Nando pun tertawa.
Lira pun menoleh ke arah dokter yang menertawainya "Kenapa, kamu mau aku hancurkan" teriak Lira mengancam dokter.
Aku pun langsung menendang kaki Lira sampai dia berteriak kesakitan "kamu sudah membuat kening ku menjadi memar" aku melemparkan kertas yang dia berikan dan langsung berjalan masuk ke dalam mobil.
Dokter pun semakin tertawa "kamu orang yang menarik, tapi kamu harus tahu kalau dia sudah marah seperti tadi dia akan terus menendang kaki mu sampai patah" ucap dokter sambil masuk ke dalam mobil meninggalkan Lira.
"Apa maksud laki-laki itu dan siapa dia" celoteh Lira berjalan masuk ke dalam mobil menelpon seseorang untuk mencari tahu siapa orang bersama Hiara.