Night Destiny

Night Destiny
I Miss You Soo Much



Bruk


"Mas Azka!."


"Aku tidak apa-apa!." ucap Azka setenang mungkin. Dia segera berdiri sambil menahan malu. Bisa - bisanya dia terjungkal, lagipula, sejak kapan ada kursi didekat ranjang. Siapa yang menaruhnya disana. Umpatnya kesal


"K-kamu pulang, sayang?." tanya Azka yang kini sudah berdiri didepan istrinya. Salsa mengangguk dengan perasaan haru, dia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, "K-kamu sudah memaafkan aku?."


Grep


Bukan jawaban kata, namun wanita cantik itu langsung menghambur memeluk sang suami. Azka tercengang, tak urung bibirnya tersenyum. Dia memeluk Salsa dengan erat, menyalurkan rindu yang sudah menggunung sejak wanita itu pergi.


"Maaf sudah membohongi mu. Maaf sudah mengkhianati kepercayaanmu dan maaf sudah membuatmu kecewa. Jangan tinggalkan aku lagi. Jangan pernah pergi tanpa pamit lagi. Kamu tahu, aku sangat menderita. Aku kehilangan separuh hidupku dan aku ... Hampir saja menyerah menjalani semuanya tanpamu."


Deg


Salsa melerai pelukannya. Dengan mata basahnya, dia menatap Azka dengan lekat. Pria itu masih tampan, hanya saja, Azka terlihat lebih kurus. Dan cekungan dimatanya menandakan bahwa pria itu kurang tidur.


Rasa bersalah kembali menyerang Salsa. Sekali lagi dia memeluk suaminya dengan erat. "Maaf ... Tidak seharusnya aku pergi tanpa pamit. Aku ... Aku harusnya mendengar dulu penjelasanmu. Lihat, kamu jadi tidak terurus. Kamu kurus sekali. Wajahmu juga terlihat lebih tua!."


Azka bukannya marah, justru dia terkekeh. "Bagaimana aku tidak kurus. Tidak ada yang memasak lagi untukku. Jadi makanpun tidak teratur. Tidur juga begitu, tidak ada yang memelukku lagi, jadi aku tidak bisa tidur dengan nyenyak."


"Maaf."


Azka memeluk Salsa, membawa kepala sang istri ke dalam pelukannya. Sudut matanya mulai berair. Azka bahagia, bahkan tidak ada hal lain lagi yang dia inginkan sekarang.


Salsa menggenggam tangan sang suami lalu membawanya hingga berada diatas perutnya. Azka menatap ke bawah saat Salsa membawa tangannya untuk mengusap perut milik istrinya.


Deg


Ada rasa hangat yang menjalar kedada Azka saat menyentuh perut Salsa. Apalagi, dia merasa ada benjolan diperut wanita itu.


"S-sayang kamu ....!"


Salsa mengangguk, "Aku hamil, Mas. Kita akan menjadi orang tua."


Tes,


"T-terima kasih, sayang. Terima kasih sudah memberikan anugerah yang indah untukku. Terima kasih atas hadiah yang sangat berharga ini. A-aku ... Aku sungguh bahagia. Akhirnya aku akan menjadi seorang ayah. Aku bahagia sekali. Terima kasih."


Salsa mengusap sudut matanya, "Aku juga bahagia, Mas. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa mengandung buah cinta kita."


"Berjanjilah kalau kamu akan selalu bersamaku. Membesarkan anak-anak kita bersama dan hidup menua sampai maut memisahkan."


"Aku janji. Aku janji akan menemani kamu dalam suka dan duka. Aku juga tidak akan mengambil keputusan gegabah lagi yang bisa menyakiti kita berdua. Aku menyayangimu, Mas. Aku mau menghabiskan sisa umurku bersamamu."


Azka mengangguk, dia menatap Salsa dengan lekat. Istrinya terlihat semakin cantik. Bahkan tubuhnya semakin berisi.


"Aku sangat merindukanmu," bisik Azka.


Salsa juga menatap suaminya. Pandangan mereka bertemu beberapa detik. Terlihat jelas kerinduan dimata keduanya. Azka mengangkat dagu Salsa, menatap wanita itu dengan lekat. Lalu perlahan dia mendekatkan bibirnya ke bibir Salsa.


Cup


Satu kecupan yang mampu membuat keduanya melayang. Tak dipungkiri, baik Salsa maupun Azka, keduanya merindukan satu sama lain.


"I Miss You Soo Much, honey."


Azka kembali meraup bibir merah milik Salsa. Keduanya saling berbagi kehangatan lewat ciuman lembut itu. Azka memegang tengkuk Salsa untuk memperdalam ciuman mereka. Begitupun dengan Salsa yang meremas pelan lengan suaminya. Ciuman keduanya semakin panas. Tangan Azka sudah mulai menjalar ke tubuh istrinya. Hampir dua bulan menahan hasrat, tentu saja kali ini Azka tak akan menyia-nyiakan kesempatan.


Ciuman keduanya terhenti karena mereka kehabisan nafas. Azka mengusap bibir Salsa lalu tersenyum. "Aku benar-benar merindukanmu, sayang. Sangat!."


"Aku lebih merindukanmu, Mas."


Salsa lebih dulu menyambar bibir suaminya. Keduanya kembali larut dalam ciuman hangat yang memabukkan. Tangan Salsa juga mulai nakal. Mungkin karena hormon kehamilan yang membuat dia semakin agresif.


"I want you, honey."


Azka tersenyum, "Ten - -!."


"Bang, Kak. Ayo ... Kami sudah lapar!!."


****