Night Destiny

Night Destiny
Makan Malam Hangat



****


Azka mengumpat kesal, rasa yang sudah tinggi tiba-tiba terjun.


"Sialan! Bisa - bisanya Saga menggangu."


Salsa tersenyum malu, "Aku lupa kalau orang tua kita sudah menunggu diruang makan."


Mata Azka membulat. "Jadi mereka semua ada disini?."


Salsa mengangguk, "Heheh, kami sengaja ingin memberikan kejutan padamu. Jangan marah ya. Kita bisa lanjutkan nanti malam!."


"Ta - -!."


"Kak cepat. Mesra - mesraannya nanti saja. Kami sudah jamuran menunggu kalian dari tadi!."


"Berisik!."


Azka membuka pintu lalu menatap Saga dengan kesal. Adiknya justru tertawa mengejek. "Lama puasa, udah nggak sabaran aja, bro. Tahan napa. Gercep amat!," sindirnya.


"Jomblo tahu apa. Makanya nikah. Kelamaan jomblo nanti punyamu karatan!."


Saga mendelik, "Enak saja. Aku masih muda ya. Masih cling. Mana ada karatan segala. Tidak masuk akal!."


"Sudah, jangan berdebat. Sebaiknya kita turun ke bawah. Yang lain pasti sudah menunggu lama."


Azka mengangguk dan tersenyum, dia menggandeng tangan istrinya dan berjalan melewati Saga. Pria muda itu mencebik, "Bucin!."


"Jones!."


Ketiganya akhirnya berjalan menuruni tangga. Senyum Azka tak henti menghiasi bibirnya. Terlihat jelas raut bahagia di wajah tampannya.


"Aduh. Ini dia nih yang ditunggu, lama amat. Kita semua sudah jamuran tahu!."


"Ck, kenapa ada domba cerewet dan gembalanya disini!," ucap Azka sambil menarik kursi dan mempersilahkan Salsa duduk.


"Ish, inilah balasanmu setelah aku dan suamiku membantu kak Salsa membuat kejutan untukmu. Sungguh tak tahu berterima kasih!."


"Terima kasih, domba cerewet!."


Salwa mendengus kesal, "Tahu begini, aku tidak mengizinkanmu membatu pria bucin ini, sayang," keluh Salwa pada suaminya.


Seno tertawa kecil, "Jangan dengarkan dia, sayang. Dia memang selalu menyebalkan!."


Azka melotot kesal,


"Sudah. Kapan kita akan makan kalau kalian berdebat terus. Aku sudah sangat lapar!," ucap Saga.


Dirga, Gita, Danar dan Anya hanya tersenyum.


"Salsa harus makan yang banyak. Kan sekarang ada cucu bunda yang tumbuh dirahim kamu."


"Benar, jangan lupa susu dan vitaminya juga biar cucu Mama sehat."


Salwa tertawa, "Kamu harus siap mendengar ocehan Mama setiap hari. Dia sangat berlebihan!."


Anya memberenggut kesal. "Kan semua yang Mama katakan juga demi kebaikan kalian! Memangnya salah!."


"Waduh, ibu negara marah," Salwa langsung bungkam. Dia mengambil nasi untuk suaminya dan dirinya sendiri lalu memilih makan daripada Mamanya semakin mengomel tak jelas.


"Mau makan sama apa, sayang?," tanya Azka.


"Harusnya aku yang mengambilkan kamu makan, Mas."


Azka tersenyum, "Iya, tapi itu dulu. Sekarang kamu sedang hamil. Jadi biar aku yang melayani kamu mulai sekarang!."


"Cih, modus. Bilang saja takut ditinggal lagi," celetuk Saga.


"Setuju denganmu, Ga!," timpal Salwa. Seno hanya terkekeh sementara Azka mendengus kesal.


"Iri saja, jomblo!."


Makan malam kali ini terasa begitu hangat. Semua keluarga berkumpul, apalagi sekarang hubungan Salwa dan Salsa sudah sangat baik. Kebahagiaan apalagi yang dia inginkan. Berkumpul dengan keluarga yang saling menyayangi, memiliki saudara yang baik. Juga suami yang sangat mencintai dan menyayanginya. Bukankah semua sangat sempurna?


"Makanlah. Ini kesukaanmu."


Salsa menatap Azka dengan senyum, "Terima kasih!."


Usai makan malam, mereka berkumpul diruang tamu. Tak lupa kue brownies dan teh hangat dihidangkan untuk menemani obrolan mereka.


"Yakin mau pulang. Ini masih sore," tanya Salsa pada adiknya.


"Aku tidak bisa meninggalkan Isya terlalu lama."


"Baiklah. Kalau begitu hati - hati."


Kini tersisa Dirga, Gita, Danar dan Anya karena Saga lebih dulu pulang sebelum Salwa.


Azka dan Salsa duduk diseberang mereka.


"Papa senang kalian sudah kembali bersama. Papa juga mau minta maaf karena sempat bersikap egois. Seharusnya, orang tua tidak boleh ikut campur urusan rumah tangga putra putrinya. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menyelesaikan masalah kalian tanpa campur tangan kami!."


"Kenapa baru sadar sekarang?." tanya Dirga


"Namanya juga manusia."


"Ck klise."


"Sudah. Kenapa malah kalian yang debat? Yang penting Salsa dan Azka sudah bersama lagi. Kedepannya, biar mereka mengatasi masalah rumah tangga mereka sendiri. Benar yang dikatakan Mas Danar. Biarkan mereka yang menyelesaikan semua permasalahan mereka tanpa campur tangan kita!."


"Aku setuju sama Mbak Gita. Yang terpenting, jangan mengedepankan ego. Bicarakan semua dengan kepala dingin. Karena emosi hanya akan memperburuk keadaan. Toh, kalian bukan remaja yang mengatasi masalah dengan kekanak-kanakan."


"Tentu, Ma, Pa, Ayah juga Bunda. Aku tidak akan pernah mengulang kesalahan yang sama. Aku juga akan belajar menjadi suami yang lebih baik lagi untuk Salsa."


"Tentu saja. Sudah menjadi kewajibanmu menjadi imam yang baik untuk makmumnya. Kalau kamu salah, kamu harus mau dikritik, begitupun jika istrimu salah. Kamu harus menegurnya. Tentunya dengan tidak menyakiti perasaannya. Rumah tangga itu bukan hanya soal bahagia. Dukanya juga bagian dari perjalanan rumah tangga. Tidak selamanya kalian tertawa. Dan tidak selamanya pula kalian akan menangis. Semua akan berjalan seimbang. Dan yang pasti, bahagia, kalian sendiri yang menciptakannya."


Azka mengangguk, dia setuju dengan ucapan Ayahnya. Mereka kembali mengobrol hangat sambil sesekali tertawa.


"Sudah malam. Sebaiknya kita pulang. Salsa juga harus istirahat," ucap Gita.


"Benar. Mereka juga butuh waktu berdua. Pasti masih saling kangen."


Azka tersenyum dalam hati. Meskipun sudah tua, rupanya mereka masih peka.


"Kalau begitu hati - hati dijalan."


Setelah mengantar orang tuanya kedepan. Azka dan Salsa kembali masuk kedalam rumah.


"Mas, apa yang kamu lakukan?," pekik Salsa saat tiba-tiba Akza mengendongnya


"Kamu tidak boleh kelelahan. Jadi biarkan aku menggedongmu sampai kamar."


Tidak menolak, Salsa justru mengalungkan tangannya dileher Azka. Perlahan namun pasti, Azka menaiki tangga menuju kamar mereka. Setelah menutup pintu, Azka membaringkan Salsa diatas ranjang. Pria itu memandang istrinya lekat, sungguh dia sangat merindukan pujaan harinya itu.


"Kamu semakin cantik, sayang. Aku tak henti merindukanmu."


Cup


Kecupan singkat Salsa daratkan dibibir sang suami. Azka jelas terpancing, sudah lama dia tidak merasakan hangatnya belaian Salsa.


"Bolehkah aku mengunjungi anak kita?."


Salsa mengangguk kecil sambil menggigit bibir bawahnya. Melihat Azka yang begitu senang, Salsa justru semakin agresif.


"Biarkan aku yang menguasai permainan."


*


*


Wah, mbak Salsa agresif, Mas Azka yang senang!