
"Mereka orang tua kandungku."
Maria tidak mampu menahan keterkejutannya. Jika orang tua Salwa adalah orang tua kandung Salsa, iru artinya Salwa dan Salsa adalah kakak beradik.
"Kamu yakin jika mereka orang tua kandungmu?."
"Iya Bunda. Bahkan mereka diam-diam sudah melakukan tes DNA."
Maria kembali dibuat terkejut dengan fakta yang baru didengarnya. Dia turut gembira mendengar kabar baik ini. Bukan tidak tahu, Maria sering melihat Salsa menangis karena ingin seperti anak lain yang memiliki orang tua kandung. Dan sekarang, putrinya itu sudah mendapatkan apa yang dia mau.
"Lalu, kenapa kamu terlihat gelisah. Apa karena Salwa adalah adikmu?."
Salsa menganggukkan kepala, "Bukan hanya itu saja yang mengganggu pikiranku, Bun. Tapi juga karena--!."
"Karena ayahmu yang membuat bayimu pergi? Karena kehidupan mereka yang nyaman? Kenapa mereka tidak mencarimu? atau kamu tidak siap menghadapi semuanya?."
Salsa membeku, ucapan Maria semuanya benar. Salsa memang memikirkan semua itu. Bahkan mungkin lebih dari itu. Dia seolah ketakutan sendiri untuk menghadapi kenyataan. Bagaimana hubungannya dengan Danar akan berjalan normal, jika setiap melihatnya akan mengingatkan Salsa pada peristiwa kehilangan bayinya. Lalu hubungannya dengan Salwa? Apa yang akan mereka lakukan jika bertatap muka? Dan masih banyak lagi yang Salsa pikirkan.
Maria meraih tangan Salsa, membuat wanita muda itu menatapnya. "Semua yang terjadi dalam hidupmu adalah garis takdir yang Allah tetapkan untukmu. Tidak ada yang bisa merubahnya. Kamu harus lapang dada menerima kenyataan ini. Hadapi dan jalani, kamu tidak punya pilihan untuk mundur."
"Aku tahu, tapi apa aku bisa, Bun?," tanya Salsa ragu.
Maria tersenyum, "Bisa. Putri Bunda pasti bisa melewati semuanya. Bunda pernah bilang kan? Suatu saat kamu akan bahagia. Sekarang, sudah tiba waktunya untuk kamu bahagia. Kamu mempunyai suami yang baik dan menyayangimu. Kamu juga telah menemukan orang tua kandungmu yang tentunya, mereka juga menyayangimu. Masalah kenapa kamu ada dipanti asuhan atau kenapa mereka tidak mencarimu. Kamu bisa tanyakan semua itu pada mereka nanti. Bagaimanapun mereka adalah orang tua kandungmu, karena merekalah kamu hadir di dunia ini. Tidak ada orang tua yang tega membuang anaknya sendiri. Pasti ada alasan dibalik kejadian ini. Sama seperti kamu yang kehilangan bayimu, tentu kamu tidak menginginkan hal itu, bukan? Merekapun pasti demikian!."
"Berdamailah dengan hatimu dulu. Baru kamu bisa berdamai dengan keadaan!.
"Perkataan Bunda sama persis dengan yang Mas Azka katakan."
"Azka juga berkata demikian?."
Salsa mengangguk, "Sekarang semua Bunda serahkan padamu. Jika kamu masih butuh waktu, diamlah. Jika kamu sudah siap, temui mereka. Kamu merindukan orang tua kandungmu, bukan?."
Salsa tidak bisa memungkiri, dia juga ingin seperti kebanyakan orang yang merasakan hangatnya sebuah keluarga.
"Terima kasih, Bun. Bunda telah merawat dan membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Bunda tak kenal lelah mengurusku hingga aku sebesar ini. Meluangkan waktu, tenaga dan juga biaya untukku. Aku menyayangi Bunda. Aku tidak pernah melupakan Bunda sampai kapanpun. Bunda juga orang tuaku, orang tua pertamaku dan selamanya Bunda tidak akan pernah tergantikan."
Salsa memeluk bundanya, begitupun dengan Maria. "Bunda juga menyayangi kamu. Walau kamu tidak terlahir dari rahim Bunda, kamu tetaplah putri Bunda. Anak Bunda dan selamanya akan tetap sama. Jangan pernah lupakan Bunda ya, Nak?."
Salsa menggeleng, "Aku akan selalu mengingat Bunda. Bunda ibuku, mana mungkin aku melupakan Bunda! Jadi jangan berkata seperti itu."
Mari tersenyum, "Jadi, apa keputusan kamu?."
Salsa terdiam sejenak, lalu menatap Maria. "Aku akan berdamai dengan keadaan. Aku akan menemui mereka."