Night Destiny

Night Destiny
Mengunjungi Panti



Esok harinya, seperti janjinya kemarin, hari ini Azka dan Salsa akan bertolak ke Kota B untuk mengunjungi Panti Asuhan tempat tinggal Salsa.


"Sudah siap?."


"Iya," sahut Salsa tersenyum


Azka segera melajukan mobilnya, membelah jalanan yang padat menuju tempat tujuan.


"Anak-anak pasti senang dapat mainan baru. Terima kasih karena kamu sudah membelikan banyak barang untuk mereka."


Azka menoleh ke istrinya kemudian tersenyum, "Sama-sama, semoga mereka menyukai mainan yang kita bawa."


Perjalanan di iringi dengan obrolan hangat dari keduanya. Sesekali dua orang itu tersenyum bahagia. Hingga tak terasa kini mereka sudah tiba di kota B dan sebentar lagi akan sampai di Panti Asuhan.


Ketika mobil Azka sudah memasuki halaman Panti, terlihat Maria dan beberapa anak berdiri di teras menyambut kedatangan mereka.


"Bunda, anak-anak!," Salsa menghambur memeluk Maria.


"Apa kabar, Nak. Kamu sudah sehat, kan?," tanya Maria


"Aku sehat, Bun!."


"Selamat pagi, Bunda. Apa kabar?," sapa Azka yang baru turun dari mobil.


"Alhamdulillah, Bunda sehat Nak Azka. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?."


"Saya juga sehat, Bun!."


"Syukurlah kalau kalian sama-sama sehat. Eh, kok malah mengobrol disini, ayo masuk!."


Salsa menggandeng tangan seorang anak bernama Gabriel. Tatapan anak itu terlihat begitu bahagia, namun sesekali ia melirik Azka dengan tatapan kurang suka.


"Bunda mau menyiapkan makan siang untuk kalian dulu ya. Mungkin Nak Azka ingin melihat - lihat keadaan panti, bisa minta Salsa temani!."


"Aku bantu bunda masak ya!."


"Tidak usah, temani saja suami kamu."


Salsa mengangguk, dia membawa Azka ke ruang tengah, dimana biasanya anak-anak akan belajar dan bermain. Tapi di jam sekolah seperti ini, kebanyakan mereka masih sekolah. Dan para balita, biasanya tidur di jam seperti ini.


Azka memperhatikan anak kecil yang terus menempeli istrinya, "Sayang, dia namanya siapa?," tanya Azka pada Salsa


"Dia namanya Gabriel. Gab, salam dulu sama om Azka."


Anak berusia 4 tahun itu hanya diam, kembali dia layangan tatapan kurang sukanya pada Azka.


"Hei, adik kakak ini kenapa hm? Biasanya kamu langsung mau ketika kakak menyuruhmu menyapa seseorang!."


"Gab, tidak suka dia," jawabnya spontan.


Azka tergelak, dia menatap anak bernama Gab itu lalu berjongkok menyamakan tinggi mereka. "Boy, kenapa kamu tidak suka padaku?."


"Kenapa?," tanya Azka sok penasaran.


"Ok sudah membawa kak Caca pergi jauh. Aku tidak suka. Biasanya kak Caca selalu membacakanku cerita, main bersama, mengajariku membaca dan menulis. Tapi sekarang kak Caca tidak tinggal disini lagi."


Azka meraih anak tersebut, awalnya dia menolak, tangannya masih memegang erat kaki Salsa. Namun akhirnya dia mau digendong Azka setelah pria itu tersenyum lembut padanya.


"Kak Caca memang tidak tinggal disini lagi. Tapi kak Caca akan selalu mengunjungimu," mata Gab mengerjap lucu membuat Azka semakin gemas pada bocah gembul tersebut.


"Om punya mainan, Gab mau main sama om?."


Gab mengangguk, "Baiklah, mari kita ambil mainannya di mobil."


Salsa menatap keakraban suaminya bersama Gab. Bocah kecil yang tidak menyukai orang baru itu rupanya bisa langsung akrab dengan Azka. Tanpa sadar Salsa mengusap perutnya. Akan sangat bahagia jika bayinya masih ada. Bahkan Azka tidak perlu belajar menjadi sosok ayah yang baik karena pria itu begitu mudah meriah hati anak-anak.


"Sal, kamu baik-baik saja?."


Salsa menatap bundanya yang entah sejak kapan berada dibelakangnya. Dia mengusap sudut matanya lalu menggeleng. "Aku baik-baik saja, Bun."


Maria mendekati putrinya, dia mengusap lengan Salsa dengan lembut. Sebagai orang yang membesarakannya, Maria tahu Salsa tidak baik-baik saja.


"Mau mengobrol dikamar Bunda?."


Salsa mengangguk, dia memang perlu bicara berdua dengan bundanya. Apalagi kedatangannya kemari juga untuk menanyakan tentang orang tua kandungnya.


"Kamu tidak baik-baik saja. Bunda hafal betul bagaimana sikapmu. Jadi, jangan berbohong pada Bunda."


Salsa memeluk Maria, perempuan muda itu meluapkan rindu juga perasaan gelisahnya beberapa hari belakangan ini.


"Kamu belum bisa melupakan bayimu?," tebak Maria


Salsa menatap Bundanya dengan lekat, "Apa salah jika aku belum bisa melupakannya, Bun?."


Maria menggeleng, "Tidak salah. Tidak ada seorang ibu yang bisa melupakan anaknya walau dia belum terlahir ke dunia. Apa yang kamu rasakan itu manusiawi. Tapi kamu tidak boleh terus terperangkap dalam kesedihan. Kamu harus bisa merelakan kepergiannya. Dia sudah bahagia disana."


"Aku sudah ikhlas Bun, hanya saja aku belum bisa melupakannya."


Maria menatap wajah putrinya, "Bunda tahu, sangat berat melupakan seseorang yang berarti dalam hidup kita. Tapi kamu harus ingat, hidup akan terus berjalan, semua yang sudah terjadi tidak akan bisa kembali lagi. Jika kamu memang sudah ikhlas, kamu harus berjanji pada dirimu sendiri untuk terus melangkah ke depan. Yang perlu kamu lakukan hanya mendoakannya."


Salsa mengangguk, dia kembali mengusap air matanya. Maria terus memperhatikan wajah putrinya. Dia merasa bukan hanya kehilangan anak yang Salsa pikirkan, pasti ada hal lain yang menggangu putrinya itu.


"Kamu ingin berbicara sesuatu dengan Bunda?."


Salsa menatap Bundanya, Maria memang selalu peka padanya. Bahkan raut wajah Salsa-pun dengan mudah bisa Maria baca.


"Bunda masih ingat dengan orang tua Salwa?."


"Mantan mertua suamimu?," Salsa mengangguk mengiyakan, "Ada apa dengan mereka? Apa mereka menggangumu?."


Salsa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, "Mereka orang tua kandungku."