
Salsa pulang kerumah dengan perasaan penuh kecewa. Seharusnya mereka konsultasi berdua, menanyakan apa dan bagaimana mereka menjalani program hamil. Sayangnya Azka malah tidak datang. Bukan sekali ini saja Azka ingkar janji. Beberapa waktu lalu ia juga lupa dengan makan malam mereka. Salsa bahkan sudah menunggu di restoran selama dua jam, tapi Azka tak juga datang. Sesampainya dirumah, rupanya Azka juga baru sampai dan dengan santainya dia mengatakan ada rapat mendadak.
Ada apa dengan Mas Azka? Apa ada yang dia sembunyikan? Kenapa dia mulai berubah? Tanya Salsa dalam hati.
Salsa berjalan gontai memasuki rumah. Sebelum benar-benar masuk, dia memandang rumah tempat tinggal mereka yang sudah hampir setahun mereka tinggali.
Akankah kehidupan rumah tangga kami baik - baik saja? Bisakah aku memberikan kepercayaan 100% jika perlahan dia mulai berubah.
Perempuan cantik itu masuk kedalam rumah. Dia bahkan tidak menyadari kehadiran Saga.
"Kak!."
Salsa yang kaget langsung menatap Saga yang ada diruang tamu. Entah kapan adik iparnya itu datang.
"Kamu sudah dari tadi?."
Saga tersenyum, "Barusan saja."
Salsa duduk didepan adik iparnya, menatap Saga dengan senyum tipis. "Kamu ada perlu dengan Abangmu?."
Saga menggeleng, "Aku hanya ingin berkunjung. Kalian jarang datang kerumah. Jadi Bunda sering mengomel dan berakhir menuntutku segera menikah."
Salsa terkekeh, "Bunda benar, sebaiknya kamu menikah. Biar Bunda ada temannya, apalagi kalau kamu punya anak--!," Salsa tersenyum sendu. Ia kembali teringat suaminya yang baru saja mengingkari janjinya tadi pagi.
"Kenapa jadi aku? Seharusnya kakak dan Abang yang harus memiliki anak. Aku doakan semoga kalian lekas diberi momongan."
Salsa mengangguk lalu tersenyum, "Terima kasih doanya, kakak dan Abangmu selalu berusaha kok. Mungkin belum waktunya saja," Salsa berbicara dengan nada biasa, namun sebagai orang yang peka, Saga menyadari ada kesedihan dibalik ucapan kakak iparnya. "Oh ya, makan malam disini saja ya, temani kakak."
Saga yang melihat pancaran kesedihan dari mata kakak iparnya tak bisa menolak. Iya mengangguk mengiyakan permintaan Salsa. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu antara Salsa dan Azka.
"Ayo, Ga. Kita makan dulu."
"Apa tidak sebaiknya menunggu Bang Azka. Dia akan pulang kan?."
Salsa menatap Saga sekilas, "Tadi Abangmu sudah memberi tahu kakak kalau dia harus lembur. Jadi kita makan saja. Itu juga alasan kakak mengajakmu makan disini. Kalau makan sendiri kan, rasanya tidak enak."
Saga kembali mengiyakan. Mereka akhirnya makan dalam diam. Saga sesekali melirik Salsa, jelas ada kekecewaan dari sorot matanya. Saga mengambil ponsel dan mengetik sebuah pesan.
"Bagaimana bisnis Ayah? Lancar kan?."
"Lancar kak. Walau cukup sulit, aku mulai terbiasa dengan semuanya. Semoga saja kedepan bisnis Ayah akan semakin maju. Pak tua itu sudah meminta pensiun sejak dulu."
Salsa tertawa, "Papa kan ingin menikmati mas tuanya, Ga. Wajar kalau dia memintamu yang maju. Lagipula, kakak yakin usaha Ayah akan berkembang pesat ditanganmu."
"Semoga saja kak."
"Jangan lupa juga cari gebetan. Jangan mentang mentang sibuk, kamu melupakan permintaan Bunda."
Saga terkekeh, "Aku masih muda, kak. Belum terpikir untuk mencari pasangan."
"Jangan sampai jadi perjaka tua, Ga. Malu sama tampang," ledek Salsa
Saga mendengus, dia akan menjawab pernyataan Salsa namun ponselnya lebih dulu berdering. Dengan sigap dia membaca pesan tersebut.
Sialan, dia cari mati. Awas kau Akza Ibrahim. Kau akan menyesal setelah ini.