Night Destiny

Night Destiny
Kakak Ipar



"Salwa!.


Kini pandangan semua orang tertuju pada gadis cantik yang terbaring di atas brangkar tersebut. Dia tersenyum sayu dibalik wajah pucatnya.


"Kamu sudah bangun, Nak?," Anya mendekati putrinya. "Mau minum?," Salwa mengangguk.


Setelah membantu Salwa minum, Anya duduk disamping putrinya. Danar, Azka dan Salsa turut mendekati wanita itu.


"Bagaimana keadaanmu?," tanya Azka.


Salwa tersenyum, "Sudah lebih baik, kakak ipar!."


Deg


Semua orang kembali menatap Salwa dengan raut tak terbaca. Gadis itu tersenyum tipis, "Kenapa? Bukankah Kak Salsa adalah kakakku? Jadi aku harus memanggilnya kakak ipar bukan?."


Anya tersenyum, "Ya, kamu benar. Kamu ... Sudah bisa menerima semuanya kan, sayang?," tanya Anya pelan.


Salwa hanya mengangguk, "Kak, kamu tidak mau menyapa adikmu?," pertanyaan itu Salwa tujukan pada Salsa.


Salsa mendadak gugup, dia bingung harus bersikap seperti pada pada adiknya. Azka langsung menggenggam erat tangan sang istri, menyalurkan ketenangan yang memang dia butuhkan.


"Aku minta maaf, Kak. Aku sekarang sadar jika aku salah. Mas Azka tidak mencintaiku dan dia sudah memilihmu sebagai istrinya. Jadi ... Aku akan merelakan dia bersamamu!."


Ucapan Salwa membuat mereka terperanjat, benarkah yang gadis itu katakan?


"Kamu serius dengan ucapanmu, sayang?," tanya Danar sambil menatap putrinya dengan lembut.


"Tentu, Pa. Aku tidak mungkin terus memaksakan perasaan Mas Azka yang memang bukan untukku."


Salsa mendekati adiknya, Anya segera bangun dari kursinya, membiarkan Salsa duduk dikursi samping ranjang Salwa. "Terima kasih atas keikhlasanmu dan maaf jika aku melukai perasaanmu."


Salsa mengangguk, "Aku hanya ingin hidup tenang kedepannya, Kak. Kita saudara, aku tidak mau terus bertikai dengan saudaraku sendiri."


"Tentu saja. Kita saudara dan kita harus saling hidup rukun."


"Jadi, aku boleh kan? Kalau mengunjungi tempat tinggal Kakak nanti?," Salsa menatap Salwa dengan sedikit ragu, "Sebagai seorang adik," lanjut Salwa.


Salsa tersenyum, "Tentu, kamu adikku. Kamu boleh datang kapan saja kerumah kami. Benar kan, Mas?."


Azka hanya mengangguk dengan senyuman tipis, senyum yang Salwa rindukan.


"Papa senang akhirnya semua masalah sudah selesai. Kedepannya, Papa harap hubungan kita tetap rukun dan harmonis!."


"Benar, Mama juga sangat bersyukur akhirnya kita bisa berkumpul bersama lagi."


"Benar, kami harus pulang. Besok Mas Azka sudah mulai bekerja. Dia harus istirahat," timpal Salsa.


"Baiklah, Nak. Kalian pulanglah. Hati-hati dijalan ya."


Azka dan Salsa mengangguk, setelah berpamitan, keduanya keluar dari ruangan Salwa.


"Perasaanmu sudah lega?," tanya Azka disela-sela jalan mereka.


Salsa menatap suaminya dengan senyum, "Tentu Mas. Aku lega sekali, akhirnya aku bisa bersama dengan keluarga kandungku. Apalagi Salwa sudah merelakan hubungan kita!."


Azka membukakan pintu mobil untuk istrinya, kemudian dia berputar dan memasuki kursi kemudi.


"Kamu tidak curiga dengan sikap Salwa?."


Salsa menoleh ke arah suaminya, "Kenapa aku harus curiga?."


"Aku kenal betul siapa Salwa. Dia tidak mungkin menyerah begitu saja sebelum mendapatkan apa yang dia mau!."


Salsa diam, dia kembali mengingat kebersamaannya tadi bersama adiknya. Gadis itu memang tersenyum, tapi terlihat bukan senyum yang tulus. "Jadi maksudmu, Salwa hanya berbohong di depan Papa dan Mama?."


Azka mengangguk, "Aku tidak memintamu menjauhi Salwa. Tapi kamu harus berhati-hati padanya. Bisa saja dia merencakan sesuatu yang tidak kita tahu."


"Baiklah, Mas. Aku akan berhati-hati padanya!."


Mobil yang dikendarai Azka sudah memasuki pekarangan rumah. Azka langsung memakirkan mobilnya ke garasi. Pria itu menggandeng tangan istrinya memasuki rumah.


"Besok akan ada Bi Sari, dia akan membantu kamu dirumah."


"Baiklah Mas."


Mereka langsung naik ke lantai atas. Setelah masuk kedalam kamar, Salsa segera menuju kamar mandi. Azka yang melihat itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia ikut masuk kedalam kamar mandi. Matanya berbinar melihat pemandangan indah yang tersuguhkan didepan mata.


"M-mas. Kamu mau apa?," pekik Salsa yang kaget karena Azka memeluk tubuhnya.


"Jangan berbicara keras padaku, yank. Aku tidak tuli!."


"A-aku hanya kaget."


Tangan Azka mulai nakal, telapak kekarnya menyusuri setiap inci tubuh sang istri.


"M-mas ....!"


"Aku mau pemanasan sesi dua!."