Night Destiny

Night Destiny
Menjenguk



"Non Salwa, Mas. Dia kecelakaan dua hari yang lalu."


Perkataan pembantu di rumah Danar membuat Azka dan Salsa terkejut.


"Salwa dirawat di rumah sakit mana, Bi?," tanya Salsa


"Rumah sakit Medika Raya."


Keduanya segera pamit dan langsung menuju rumah sakit. Dalam perjalanan, Salsa dibuat gelisah. Sesekali dia menatap Azka yang terlihat biasa saja.


"Mas, kamu tidak khawatir pada Salwa?."


Azka menoleh lalu menatap Salsa. "Tentu saja khawatir. Tidak ada kakak yang tidak khawatir jika adiknya kecelakaan."


"Kakak?."


"Tentu saja kakak. Memangnya aku harus khawatir sebagai apa? Kekasih?," sahut Azka sedikit ketus.


Salsa berdecak, "Ya tidak juga. Maksudku, kamu kan mantan kekasihnya. Mungkin masih ada rasa--!."


"Tidak ada rasa apapun lagi untuk Salwa, Sa! Bukankah aku sudah mengatakan jika aku mencintaimu. Apa belum cukup semua yang aku katakan hingga kamu mengira aku masih memiliki perasaan pada Salwa?."


Salsa bungkam, dia secara tidak sengaja telah meragukan suaminya sendiri. Padahal Salsa tahu bagaimana cintanya Azka padanya.


"Maaf!."


Azka menghela nafas, "Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak memiliki perasaan apapun untuk Salwa lagi kecuali rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya. Bahkan sejak awalpun seperti itu. Aku hanya tidak menyadarinya saja. Jadi, jangan pernah katakan hal semacam itu lagi. Karena cintaku hanya untukmu, Sa. Istri yang paling aku cintai. Lagipula sekarang dia adikmu dan dia juga adik iparku. Hubungan kami tidak akan pernah kembali seperti dulu apapun yang terjadi."


Salsa menatap suaminya dengan lekat, "Aku tahu, Mas. Aku minta maaf ya. Aku tidak akan pernah meragukan kamu lagi!."


Azka mengangguk, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.


Setibanya dirumah sakit, Azka dan Salsa langsung menuju resepsionis untuk menanyakan dimana kamar rawat Salwa. Sambil membawa parcel buah, keduanya berjalan menuju ruangan Salwa.


"Kamu gugup?," pertanyaan dari suaminya membuat Salsa menoleh pada Azka. Wanita itu mengangguk kecil


"Tarik nafas lalu buang. Ulangi berkali-kali. Lalu pegang tanganku untuk mengurangi kegugupanmu."


Salsa melakukan seperti apa yang suaminya katakan kemudian dia tersenyum, "Baiklah suamiku. Ayo kita masuk."


Pandangan tiga orang didalam ruangan langsung beralih ke pintu yang terbuka. Anya dan Danar terperanjat melihat kedatangan anak dan menantunya. Sementara Salwa terlihat memejamkan mata.


"K-kalian datang? Siapa yang memberitahu kalian jika Salwa kecelakaan?," tanya Anya. Danar hanya menatap keduanya dalam diam.


Anya menatap Salsa dengan lekat, matanya berkaca - kaca, ingin sekali dia memeluk putrinya. Tapi ia juga harus menahan diri.


"Em ... Ini untuk Salwa," Salsa memberikan parcel buah yang dibawanya.


Anya menerimanya dengan senyum, "Terima kasih. Ah, silahkan duduk"


Azka membawa istrinya duduk di sofa. Tempat dimana Danar setadi tadi berdiam diri. Anya segera menyusul mereka lalu duduk disamping sang suami. Dia menatap suaminya yang tidak mengatakan apapun. Lalu menatap Salsa dan Azka.


"Bagaimana keadaan Salwa?," tanya Azka memecah keheningan.


"Dia mengalami cedera dibahu sebelah kanan. Dan retak kaki sebelah kiri."


"A-apa dia kecelakaan setelah pulang dari rumah?," Salsa memberanikan diri untuk bertanya.


Anya mengangguk pelan, "Salwa menerobos lampu merah. Lalu dari arah berlawanan ada mobil yang juga melaju kencang, mobil Salwa menabrak pembatas jalan."


Salsa menggenggam tangan suaminya dengan erat. Azka menatap istrinya sekilas, ia tahu Salsa pasti merasa bersalah.


"Kondisinya sudah membaik. Dokter bilang dua sampai tiga hari lagi, dia sudah boleh pulang."


Keadaan kembali sunyi. Empat manusia itu dilanda rasa canggung.


"Tadi kalian kerumah? Apa ada hal penting?."


Pertanyaan Anya membuat Azka dan Salsa saling tatap. Lalu pria itu mengangguk pelan, "Em ... Kami, maksudku aku ... Aku datang karena ingin berdamai dengan keadaan. A-aku mau menerima kalian."


Deg


Anya menatap putri kandungnya dengan sendu, apa dia tidak salah dengar?


"K-kamu apa?."


"Aku mau menerima kalian sebagai orang tuaku!."


Anya segera menghambur ke pelukan Salsa. Perempuan itu menangis pilu. "Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah memaafkan dan menerima kami. Mama sangat merindukan kamu. Mama selalu berharap bisa bertemu denganmu suatu hari nanti. Dan Allah mengabulkan doa Mama. Allah mengembalikan kamu pada kami. Bertahun-tahun kami mencarimu dan kini kamu sudah kembali, kamu bahkan sudah dewasa dan menikah. Maafkan Mama yang tidak pernah ada disaat kamu membutuhkan Mama. Maaf karena kamu tidak pernah merasakan kasih sayang Mama selama ini.Tapi percayalah, tidak setiap detik Mama pernah melupakan kamu. Tidak!."


Salsa tak mampu menahan haru, dia membalas pelukan ibu kandungnya. Ibu yang melahirkan. Pemandangan tersebut membuat Danar ikut menitikkan air mata. Ingin sekali dia juga memeluk putrinya. Namun kesalahan yang sudah dia buat membuat Danar mengurungkan niatnya.


"Terima kasih sudah membawa Salsa kemari, Ka," ucap Danar lirih.


Azka menatap mertuanya dengan sinis, "Aku membawa istriku kemari karena aku menghargai perasaannya. Aku juga menghargai kalian sebagai orang tuanya. Tapi aku tidak akan pernah lupa, bagaimana kau membuat bayi kami mati!!."