
Jika Danar dan Anya tengah dilanda gelisah menunggu kabar keadaan Salwa. Lain hal nya dengan Azka dan Salsa. Melupakan kejadian beberapa jam yang lalu, pasangan pengantin ini sedang menikmati makan siang mereka.
"Masakanmu enak. Kenapa malah membuka handcraft bukan restoran atau cafe?," tanya Azka.
"Aku tidak terlalu pandai memasak. Kalau soal rasa, itu karena aku sering membantu Bunda!."
"Baguslah. Itu artinya hanya aku yang akan selalu memakan masakanmu!."
Salsa tersenyum, "Apa dulu kau juga sering makan masakan Salwa?."
Pertanyaan Salsa membuat Azka menghentikan sendokannya. Raut wajahnya berubah masam. "Dia tidak bisa memasak!."
Salsa hanya ber oh ria, melihat mood suaminya yang terlihat menurun. Dia tak lagi membahas mantan kekasih Azka.
"Makanlah yang banyak. Aku akan memasak lagi kalau kurang."
Azka tersenyum, dia menyodorkan piringnya pada Salsa, tanda jika Azka ingin menambah makanannya. Dengan senang hati Salsa mengambilkan suaminya makan.
"Oh ya, untuk usahamu. Bagaimana rencanamu kedepannya?."
Salsa nampak berfikir, "Menurutmu baiknya bagaimana?."
"Kamu meminta pendapatku?," tanya Azka tersenyum tipis
"Tentu saja. Sekarang aku bukan lagi wanita single. Dan aku harus meminta izin suamiku untuk melakukan hal apapun."
Azka tersenyum, ucapan Salsa membuat hatinya menghangat. Salsa begitu menghargainya sebagai seorang suami.
"Bagaimana kalau kamu membuka pusatnya disini. Nanti aku akan mengurus untuk tempat dan lain - lainnya. Yang disana biarkan jadi cabangnya saja. Lagipula, customer mu sudah banyak. Sayang kalau tokonya pindah. Dan lagi, kamu punya karyawan yang mencari nafkah dari tempat itu!."
Salsa mengangguk, "Boleh juga. Uang darimu juga masih tersisa setengah, aku rasa cukup untuk membuka pusatnya disini."
Azka menatap Salsa dengan heran, "Kamu tidak menggunakan uang dariku untuk dirimu sendiri?."
Salsa menggeleng, "Uang itu untuk menebus sertifikat tanah panti. Sebagian untuk membuka usaha ditambah tabunganku sendiri."
Azka menaruh sendok dan garpunya, dia berdiri lalu mendekati Salsa, dan
"K-ka, kenapa memelukku?," tanya Salsa gugup karena dipeluk tiba-tiba.
"Maafkan aku. Maaf karena aku semakin menyulitkan hidupmu. Aku mengira kamu sama seperti wanita lain yang menyukai uang. Tapi nyatanya, kamu tidak menggunakan uang itu untuk kepentinganmu sendiri. Aku merasa bersalah atas kejadian malam itu. Kamu sendiri menanggung beban begitu berat dan aku semakin menambahnya. Apalagi saat itu kamu hamil, kamu pasti hancur kan mengalami semua sendirian?."
Salsa menatap manik mata Azka yang begitu sendu. "Awalnya iya. Tapi sekarang tidak lagi. Semua yang terjadi sudah tertulis menjadi takdirku. Dan aku tidak boleh menyesali semuanya. Karena sekuat apapun aku menolak, semua tidak akan kembali sama. Manusia itu berproses, bukan protes. Harus berubah menjadi lebih baik setelah melewati pengalaman hidup yang pahit. Termasuk kehilangan dia, aku hancur? sudah pasti. Jika aku terus bersedih, apa dia akan kembali? Tidak. Jadi yang bisa aku lakukan hanyalah mengikhlaskannya."
Salsa tersenyum, dia mengurai pelukan suaminya. "Semua bukan salahmu. Allah belum mengizinkan kita menjadi orang tua karena mungkin kita belum layak. Jadi, Dia meminta kita untuk belajar lebih dulu."
"Kamu benar, kita bisa belajar lebih dulu. Sepertinya kita harus sering-sering mengunjungi panti supaya aku bisa belajar menjadi Ayah yang baik. Kau setuju?."
"Tentu saja. Aku sangat senang jika kamu berinisiatif kesana tanpa aku memintanya."
"Aku tahu apa yang kamu rasakan walau kamu tidak mengatakannya."
"Benarkah? Kamu seperti peramal saja," jawab Salsa terkekeh.
"Bukan peramal. Tapi ikatan bathin suami istri."
"Ya, bisa juga. Sudah, makanlah lagi, makananmu jadi dingin kalau terlalu lama diabaikan."
Azka mengangguk, dia kembali ke kursinya dan melanjutkan memakan makanannya.
"Setelah kamu bersih, aku ingin kita pergi bulan madu!."
"Uhuk ... Uhuk ...."
Azka langsung menyodorkan air untuk Salsa, "Hati-hati."
Salsa mengangguk, lalu meminumnya.
"Sudah baikan?."
"Hm."
"Kamu tidak mau bulan madu? Ingin dirumah saja?," tanya Azka sambil menatap Salsa dengan lekat.
"Bulan madu? Apa perlu? Kita bukan pasangan pengantin perawan dan perjaka."
Tawa Azka tertahan, "Jadi menurutmu, kita tidak pantas berbulan madu?."
"Ya bukan begitu. Hanya saja--."
"Kita memang tidak ori lagi. Tapi aku tetap ingin bulan madu denganmu. Aku ingin kita menghabiskan waktu berdua, menikmati kebersamaan tanpa ada penghalang juga mengenalmu lebih dalam. Dan yang pasti, kita berusaha kembali mendapatkan bayi."
Wajah Salsa memerah, Azka selalu berkata dengan gamblang. " Bukankah tadi kamu bilang akan belajar lebih dulu?."
"Tentu. Tapi tidak salahkan kalau kita juga melakukannya. Kamu pernah mendengar istilah sambil menyelam minum air, bukan?," Salsa mengangguk, "Jadi sambil kita belajar, kita juga bereproduksi!."