
Pagi - pagi sekali, Danar sudah siap berangkat menuju rumah besannya. Melihat suaminya yang masih terlihat kesal, Anya hanya mampu menghela nafas. Ia juga berdoa semoga Danar tidak membuat kekacauan dirumah Dirga nanti!.
Pukul 7 pagi, mereka sudah tiba dikediaman Dirga. Tentu saja hal itu membuat Gita dan Dirga terkejut. Apalagi wajah tak bersahabat Danar yang jelas menandakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada hal penting apa sampai kalian kemari sepagi ini?," tanya Dirga dengan santai.
Danar menatap kesal besannya, "Ini ada hubungannya dengan anak kami, Salsa."
"Ada masalah apa dengan Salsa? Bukankah dia baik - baik saja? Bahkan semalam dia datang kemari," sahut Gita.
Saga yang melihat situasi ini segera menghubungi Abangnya. Tidak dijawab, dengan terpaksa Saga hanya mengirim pesan singkat. Pemuda itu tak mau bergabung dengan mereka. Dia hanya memperhatikan dari jauh.
"Sebaiknya kalian panggil Azka kemari. Masalah ini akan selesai jika biang masalahnya ada disini."
Ucapan Danar membuat orang tua Azka bingung. Namun tak urung mereka menelpon Azka. Saat dipanggilan ketiga, pria berstatus suami Salsa itu justru datang dengan sendirinya.
"Bang, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu berantakan sekali?," tanya Gita yang langsung menghampiri putra sulungnya.
Azka menatap orang tuanya dan mertuanya bergantian. Dengan lesu dia duduk diseberang mereka.
"Dimana istriku?," pertanyaan itulah yang Azka lontarkan karena tidak melihat keberadaan Salsa.
Danar tertawa sinis, "Masih berani kamu menanyakan keberadaan Salsa setelah semua yang kamu lakukan? Tidak tahu diri!."
Sesungguhnya Dirga tidak suka mendengar ucapan Danar. Namun jika dilihat, sepertinya Danar menyimpan emosi yang begitu besar pada putranya. Entah apa yang sudah Azka lakukan.
"Jelaskan masalah apa yang kamu buat, Bang!," perintah Dirga membuat Azka menghela nafas panjang.
"A-aku ....!"
"Putramu berselingkuh dan mengkhianati putri kami!."
Deg
Gita menutup mulut tak percaya. Begitupun dengan Dirga yang tak kalah terkejutnya. "Benarkah yang mertuamu katakan, Bang?."
Azka menunduk, hati Gita terasa diremas mengetahui kenyataan menyakitkan ini.
"K-kenapa kamu tega menyakiti istrimu seperti ini, Bang? Salsa bahkan begitu sempurna." lirih Gita.
"Bun, semua hanya salah paham."
"Masih berani kamu mengelak. Benar-benar tidak tahu diri!," hardik Danar. Azka diam, semua memang salahnya karena tidak jujur.
"D-dimana menantu ku sekarang?," tanyanya dengan nada serak. Perempuan paruh baya itu sedang menahan tangis.
"Salsa ... Dia pergi untuk menenangkan diri."
Jawaban Anya membuat Azka menatap mertua perempuannya. "Dimana Salsa sekarang? Aku mohon, aku harus bertemu dengannya dan menyelesaikan kesalahpahaman ini."
"Kesalahpahaman? Bagaimana bisa mengantar wanita lain periksa kandungan kamu bilang kesalahpahaman!."
Deg
Bukan hanya jantung Azka yang berdetak cepat. Begitu pula dengan Dirga dan Gita.
"Aku harus - -!."
"Jelaskan duduk perkaranya sekarang, Bang!. Kamu punya tanggung jawab menjelaskan masalah yang terjadi!."
"A-aku dan Alika - -!."
"Oh ... Jadi gundikmu bernama Alika?," potong Danar.
"Mas, dengarkan penjelasan Azka dulu. Jangan terus menyela kalau ingin tahu yang sebenarnya!," ucap Anya dengan kesal.
Danar akhirnya diam, sementara Azka, dia kembali menunduk. Keputusan bodohnya benar - benar menghancurkan semuanya. Dan sekarang dia menyesali itu.
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Alika. Bahkan anak yang dikandungnya, bukan anakku."
"Kamu pikir kami akan percaya? Kamu bahkan terlihat perhatian sekali pada simpananmu itu!."
"Dia bukan simpanan ku! Aku tegaskan, aku tidak pernah selingkuh!. Aku berbeda dengan Anda yang dengan tega mengkhianati dan menduakan istrinya sendiri!"
Azka mulai kesal karena Danar terus memojokkannya. Danar langsung bungkam saat Azka menyinggung masa lalunya.
"Kalau begitu jelaskan dengan detail tanpa ada hal yang kamu tutupi!," Dirga kembali meminta Azka menjelaskan masalah yang sebenarnya.
Azka menghela nafas, kemudian dia mulai bercerita. "Aku tidak sengaja menabrak pengemudi sepeda motor saat meninjau hotel cabang di kota B. Dan akibat kecelakaan itu, suami wanita itu koma."
"Lalu kamu jadi pahlawan kesiangan dengan menggantikan peran suaminya? Hebat!."
Anya memelototi sang suami, dia kesal karena Danar terus menyela ucapan menantunya. Padahal Azka sudah menyindirnya, sepertinya Danar sudah tidak memiliki urat malu.
"Kalian ingin tahu kenapa aku sampai membantu wanita itu sendiri tanpa meminta anak buahku yang mengatasinya?."
"Tentu saja karena kamu ingin dianggap sebagai pria bertanggung jawab olehnya. Mengorbankan perasaan istri sendiri. Membohonginya dan mengatakan lembur padahal kamu menemaninya. Gila! Seharusnya kamu berfikir sebelum melakukan sesuatu! Kejujuran ....," Danar kembali tersenyum sinis, "Kamu selalu berkata bahwa kejujuran adalah hal utama. Tapi apa? Kamu mengkhianati kepercayaan yang putriku berikan! Kamu membuatnya terluka! Kamu menodai kepercayaannya!," Danar berteriak murka.
Gita hanya mampu menitikkan air mata, sedangkan Dirga menghela nafas. Selain tidak peka, kadang tindakan Azka membuatnya pusing.
"Tindakanmu tidak bisa dibenarkan walau tujuannya baik. Ayah sangat kecewa dan menyesalkan semua perbuatanmu."
Azka yang melihat wajah sendu Ayahnya kembali dilanda rasa bersalah.
"Aku punya alasan, Yah. Mereka ... Pasangan yang menikah karena kawin lari!."
Mereka semua menatap Azka, kini semua tahu alasan Azka yang sebenarnya. "Lalu apa hubungannya? Kamu hanya beralasan saja."
"Keluarga Dani berusaha mencelakai Alika dengan berbagai cara. Nyawanya terancam, apalagi saat tahu Dani koma. Alika tidak memiliki akses apapun untuk menemui suaminya. Tapi dengan bantuanku langsung, Alika bisa menemui dan menjaga Dani. Itupun tidak lepas dari umpatan yang selalu diberikan keluarga Dani pada Alika."
Danar memutar matanya malas, "Tidak masuk akal. Jadi maksudmu, Alika baru boleh menjenguk suaminya sendiri kalau ada kamu. Memangnya kamu berperan sebagai apa?."
"Ayah Dani manager di hotel ku. Tentu dia tidak berani melawan perintahku."
Penjelasan Azka terasa berputar tak jelas. Danar sampai jengah dengan penjelasan calon mantan menantunya itu.
"Intinya saja, Bang. Kamu terlalu berbelit - belit!."
"Aku hanya membantu Alika agar dia bisa merawat dan menjaga suaminya. Apalagi Alika sedang hamil, dan tidak ada satupun keluarga Dani yang peduli padanya. Karena apa? Karena Alika adalah mantan wanita penghibur!."
*
*
Nah terjawab kan sudah