Night Destiny

Night Destiny
Runtuhnya Kepercayaan



"Tolong dijaga kandungan istrinya ya, Pak."


"Baik, dok."


Deg


Suara itu?


Salsa menatap tak percaya, suaminya kini bersama seorang wanita muda. Dan yang lebih menyakitkan, perut wanita itu tampak membuncit. Jika ditafsir, mungkin usia kandungannya lima bulanan.


Salsa memilih keluar lebih dulu, dia bahkan melupakan rasa sakit dikepalanya. Kecurigaan dan dugaannya selama ini terjawab sudah. Perasaannya begitu hancur, hatinya terasa diremas. Sungguh, ini sangat - sangat menyakitkan.


"Semua sudah diatur Allah, sayang. Kita hanya perlu berusaha dan berdoa."


Salsa kembali mengingat kata - kata Akza saat mereka membahas keturunan.


"Pantas saja kamu tidak pernah antusias jika aku membahas keturunan, Mas. Rupanya kamu sudah memilikinya dengan wanita lain. Hahaha, bodohnya kamu Sa, kamu bahkan tidak tahu jika suamimu mendua. Janjinya, ucapannya juga sumpahnya selama ini hanya bualan. Kamu sukses menghancurkan hidupku, Mas. Kamu sukses besar!!"


Salsa melajukan mobilnya dengan cepat. Perasaannya tak bisa dijelaskan. Dia marah, kecewa, benci bahkan semua kepercayaannya pada Azka kini lenyap seketika.


Wanita itu terus melaju dengan air mata yang tak henti membasahi pipinya. Perjalanan yang seharusnya ditempuh selama dua jam, hanya Salsa tempuh satu jam saja. Dia bak orang kesetanan.


Salsa memutuskan tidak kembali kerumah, dia menuju rumah orang tuanya.


Anya yang melihat kedatangan putrinya sangat senang. Dia menyambut Salsa dengan senyum merekah. Namun senyum itu pudar melihat wajah sembab sang putri. Bahkan terlihat jelas bahwa Salsa baru saja menangis.


"Ada apa, sayang?."


Salsa menggeleng, dia memeluk Mamanya dengan erat.


"Ayo masuk dulu."


Anya membawa Salsa menuju kamarnya, bahkan raut tanya sang suami, Anya abaikan. Danar pun mengikuti mereka menuju kamar. Dia juga ingin tahu apa yang terjadi pada putrinya.


"Sekarang jelaskan, ada apa dan kenapa?."


Salsa bergeming, rasanya terlalu sakit untuk menceritakan apa yang dia lihat tadi. Bagaimana Azka menuntun perempuan itu, bahkan ....


"Ma, a-aku ....!"


"Kamu kenapa, sayang? Cerita sama Mama."


"Mas Azka ....!"


Bruk


"Salsa!!."


"Mas, telepon dokter cepat!."


Danar bergegas menelpon dokter keluarganya setelah membaringkan putrinya diatas ranjang.


"Apa yang terjadi dengan putri kita, Mas?," tanya Anya khawatir.


"Semua akan baik-baik saja, sayang. Salsa kita pasti baik - baik saja."


Tak berselang lama, dokter Selly datang. Perempuan paruh baya itu segera memeriksa Salsa.


"Bagaimana keadaan putri kami, dok?."


Dokter Selly tersenyum, "Dugaan saya, nona Salsa sedang mengandung. Tapi untuk lebih jelasnya, kalian bisa membawanya ke dokter kandungan."


Anya dan Danar saling tatap, mereka tersenyum mendengar kabar baik ini.


"Saya tidak meresepkan obat. Saya sarankan kalian kerumah sakit. Dokter obgyn akan memberikan obat dan vitamin yang tepat untuk nona Salsa."


"Terima kasih banyak, dok."


Anya menatap Salsa yang sejak tadi hanya diam. Dia sedikit heran, kenapa putrinya seolah tidak bahagia. Padahal Anya tahu betul, Salsa begitu mendambakan buah hati.


"Sayang, kamu terlihat tidak senang. Bukankah ini yang kamu inginkan selama ini? Akhirnya kamu akan menjadi seorang ibu."


Tangis Salsa justru pecah, hatinya bak di hujam seribu pisau tajam. Kenapa disaat apa yang Salsa harapkan sudah terwujud, kenyataan pahit justru menghalangi semuanya. Bolehkah dia egois dan mempertahankan suaminya disaat ada perempuan lain yang juga membutuhkan Azka.


Anya dan Danar semakin dibuat bingung dengan kondisi Salsa. Hanya pelukan yang bisa dia berikan sebagai seorang ibu. Anya tidak mau bertanya, karena ia yakin Salsa akan mengatakannya sendiri nanti.


"Sayang, kamu sedang ada masalah dengan suamimu?," kali ini Danar yang bertanya.


Salsa menatap orang tuanya dengan wajah yang begitu menyedihkan.


"A-aku harus bagaimana?."


"Maksudmu apa, Nak? Apa yang sebenarnya terjadi padamu dan Azka?."


"Mas Azka ... D-dia juga akan memiliki anak dari perempuan lain!."


Deg


*


Nah lo, mbak Salsa kok berspekulasi sendiri. Benarkah itu anak Azka?