Night Destiny

Night Destiny
Mawar Berduri



Saga langsung berpamitan setelah makan malam selesai. Dia harus membereskan sesuatu. Sayangnya, bertepatan dengan dirinya yang keluar rumah, Azka datang dengan sebuah bucket mawar merah ditangannya. Namun tidak bisa dielak jika wajah pria itu tampak sangat lelah. Saga segera berlari menuju ke Azka, sedangkan Salsa hanya berdiri didepan teras.


"Sudah puas Bang?."


Azka mengernyit, "Apa maksudmu?."


"Aku sarankan, lebih baik kamu jujur pada kak Salsa. Jangan sampai dia salah paham dan berakhir hubungan kalian yang dipertaruhkan."


Azka sangat paham apa maksud perkataan adiknya. Namun dia hanya diam tak menanggapi.


Azka berjalan pelan ke arah Salsa. Perempuan itu hanya diam tanpa senyum, tidak seperti biasanya.


"Sayang, kamu sakit?."


"Tidak!," jawab Salsa datar.


Menyadari perubahan istrinya, Azka langsung teringat bunga yang dia bawa. Dengan senyum manis, pria itu memberikannya pada sang istri. "Mawar merah cantik, untuk istriku yang cantik."


Salsa menerimanya dengan biasa, tidak ada senyum atau perasaan bahagia seperti yang perempuan itu tunjukkan sebelumnya.


"Hei, ada apa?," tanya Azka. Pria itu memeluk pinggang ramping sang istri. Membawa Salsa memasuki rumah dan duduk diruang tamu.


"Aku minta maaf karena tidak bisa datang ke klinik tadi. Tadi aku--!."


"Kamu sibuk! Aku tahu!," potong Salsa cepat.


Azka menghela nafas, "Sayang, aku sungguh minta maaf. Lain kali kita pergi kesana ya."


Azka menatap istrinya dengan lekat, ada perasaan sedih melihat Salsa yang sedikit acuh padanya.


"Kamu sudah makan malam?," tanya Azka mengalihkan pembicaraan.


Salsa menatap suaminya dengan sinis, "Tentu saja sudah. Apa kamu mau aku menunggumu hingga kelaparan seperti tempo hari?."


Azka mengusap rambutnya frustasi, harus dengan cara apa lagi dia membujuk istrinya. Dirinya saja sangat lelah hari ini, kenapa Salsa malah mengajaknya ribut.


"Aku lelah, Sal. Kenapa kamu malah memperkeruh suasana?."


Hati Salsa mencelos, sekarang diakah yang salah? Astaga, Azka memang sudah berubah.


"Maaf. Aku memang salah, seharusnya aku tidak marah padamu. Pekerjaanmu lebih penting diatas segalanya. Aku harusnya lebih tahu diri lagi," lirih Salsa. "Kamu lelah kan? Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi, lalu istirahatlah."


Salsa meninggalkan suaminya yang masih mematung. Azka kembali menghela nafas, pikirannya kacau. Tidak hanya lelah bekerja. Dia juga lelah dengan keadaan yang dia hadapi.


Aku harus bagaimana. Tidak, aku tidak mau kehilangan Salsa. Aku tidak mau itu terjadi.


Azka segera menyusul sang istri dikamar mereka. Azka yang melihat istrinya baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri dan memeluk wanitanya. "Maaf."


Salsa diam, dia memejamkan mata dan menikmati pelukan Azka yang entah kenapa rasanya sudah jarang ia rasakan. "Aku ingin kamu mempercayaiku. Aku tidak mau kehilanganmu, sayang."


Salsa berbalik dan menatap suaminya dengan lekat. Mata itu tetap teduh, wajah itu tetap tampan dan ya, dia adalah Azka, suami yang dia cintai selama ini.


"Kamu tahu betul, aku memberikan seluruh kepercayaanku padamu. Jadi jangan sampai kamu mengkhianati kepercayaan yang aku berikan. Kamu tidak tahu bukan, wanita itu seperti mawar," Salsa menatap mawar pemberian Azka yang dia letakkan di atas nakas. "Dia cantik, bahkan banyak orang yang memilihnya untuk dijadikan hadiah ataupun saat menyatakan perasaan mereka. Tapi tanpa mereka sadari, duri mawar bisa melukai sang pemilik jika dia tidak berhati-hati."