Night Destiny

Night Destiny
Dia Istri Saya



Azka baru saja menginjakkan kakinya dikantor. Tentu banyak pasang mata yang memperhatikan pria tampan tersebut. Setelah berita vital tentang gagalnya pernikahan Azka dan Salwa. Berita pernikahannya dengan Salsa juga hilang begitu saja. Hingga mereka mengira Azka masih single dan belum menikah. Azka kembali menjadi pusat perhatian. Aura kharismatik yang melekat pada diri Azka membuat kaum hawa begitu memujanya.


Apalagi sejak datang, senyum selalu terukir dibibir sang atasan. Tentu membuat kaum hawa semakin terpesona. Dengan langkah pasti, Azka memasuki ruangannya.


"Selamat siang, Pak. Senang melihat anda sudah kembali ke kantor," sapa Alvin


Azka menatapnya tajam, "Kau menyindirku karena datang siang? Ini masih jam sembilan!."


Alvin tersenyum kecil, "Heheh, bukan begitu Bos. Hanya tumben saja anda datang terlambat."


Azka tersenyum, membuat Alvin mengernyitkan dahi. Ada apa dengan atasannya ini?


"Anda baik-baik saja, Bos?."


Azka kembali menatap asistennya, "Tentu saja baik. Sudah kembali bekerja!."


Alvin kembali ke tempat duduknya. Ia kembali berkutat dengan tugas-tugasnya.


"Bagaimana dengan perbangunan hotel kita di kota G. Apa ada kendala?."


"Semuanya lancar, Bos. Rencananya saya akan meninjau proyek itu minggu depan. Anda ingin ikut meninjaunya?."


Mengingat sang istri masih belum bisa di ajak bermain, Azka enggan ikut meninjau proyek tersebut. "Kamu saja yang pergi. Aku akan meninjaunya setelah pembangunan 80% selesai."


"Baik Bos."


Azka kembali melanjutkan pekerjaannya. Moodnya sedang baik. Jadi dia begitu bersemangat hari ini.


Sementara dirumah, Salsa tengah memasak makan siang untuk ia bawa ke kantor sang suami. Sesuai perintah Bunda Gita, Salsa akan mengantarkan makan siang untuk Azka ke kantor.


"Sudah matang?," tanya Gita pada menantunya. Ia terlihat bersemangat karena baru kali ini ada yang menemaninya memasak. Gita memang menginginkan memiliki anak perempuan.


"Bunda coba dulu, pas nggak?," Wanita paruh baya itu mengambil sendok lalu mencicipi masakan menantunya.


"Em, enak sekali. Rasanya juga pas. Azka pasti suka sekali! Kamu pintar banget masaknya!."


"Bunda bisa saja. Aku hanya sering menemani Bunda Maria masak kok. Bunda terlalu memuji."


"Bunda jujur loh. Masakanmu enak. Orang bilang, masakan istri akan membuat suami semakin cinta. Bunda yakin, Azka akan semakin cinta sama kamu. Sudah cantik, pintar masak pula!."


"Bunda berlebihan," Salsa tersenyum. "Jangan lupa untuk Bunda juga. Aku sengaja masak banyak biar Bunda juga bisa bawa pulang."


"Tanpa kamu minta, Bunda juga mau bawa pulang. Ayah dan Saga pasti suka masakan kamu. Kapan - kapan, nginep dirumah ya. Bunda mau masak bareng kamu lagi. Duh, dari dulu Bunda pengen anak perempuan. Eh, sekarang sudah dikasih."


Salsa kembali tersenyum, dia memasukkan menu makan siangnya ke dalam kotak makan. Tak lupa untuk mertuanya juga.


"Sudah siap?."


"Sudah Bun!."


"Ya sudah. Kamu siap-siap saja. Biar Bunda dan Bi Sari yang bereskan ini!."


Gita pamit pulang setelah semuanya beres. Salsa langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia memakai dress warna pink selutut yang sangat cocok dengan kulitnya yang putih. Tak lupa dengan riasan tipis natural yang membuatnya terlihat semakin cantik.


Salsa di antar sopir mertuanya menuju kantor sang suami. Perjalanan hanya ditempuh selama 45 menit. Kini mobil yang mengantarnya sudah tiba di gedung bertingkat dimana suaminya mencari nafkah.


Salsa melangkah menuju resepsionis, wajahnya langsung menjadi pusat perhatian. Salsa memang cantik, selain itu dia juga sangat anggun.


"Selamat siang, saya ingin bertemu dengan tuan Azka."


"Apa sudah ada janji?."


"Belum."


"Kalau begitu anda tidak bisa menemui atasan kami!."


Salsa terdiam sejenak. Dia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Azka tapi tidak. Diangkat.


"Mbak, bisa tolong beritahu saja dimana ruangan tuan Azka?."


Resepsionis itu menatap Salsa tidak suka. "Mbak, anda tahu kan arti ucapan saya. Kalau tidak ada janji, ya tidak bisa bertemu. Jangan ngeyel!."


"Tapi mbak--!."


"Satpam!!," resepsionis tersebut memanggil satpam yang langsung mendatangi meja resepsionis tersebut.


"Ada apa ini?," tanya Azka saat mendengar keributan. Salsa berbalik lalu menatap suaminya.


"Mas."


Azka mendekati istrinya, menatap resepsionis dan satpam yang sudah ada disana.


"Kamu datang?," Salsa tersenyum lalu mengangguk, "Aku membawakanmu makan siang. Kata Bunda, kamu sering lupa makan kalau sudah bekerja!."


Azka tersenyum lembut pada istrinya. Lalu menatap resepsionis dan satpam yang tampan menunduk. "Ada masalah apa sampai kamu memanggil satpam?."


Resepsionis tersebut nampak masih menunduk, tubuhnya sedikit bergetar.


"Kenapa diam, jawab!!."


"Mas, sudahlah. Tidak ada apa-apa. Hanya salah paham saja!," ucap Salsa.


"Aku bertanya padamu. Kenapa kamu memanggil satpam?."


"I-itu karena nona ini memaksa ingin bertemu dengan anda padahal tidak punya janji!."


Rahang Akza mengeras, "Jadi kau mau mengusirnya?!."


Sang resepsionis mengangguk takut, "Kau tahu siapa dia?!! Dia itu istriku. Berani sekali kamu mengusirnya. Sekarang juga kamu dipecat!!."