Night Destiny

Night Destiny
Semakin Dekat



"Sambil belajar, kita juga bereproduksi!."


"Ka!!," tegur Salsa.


Azka tertawa, "Kamu selalu sensitif jika membahas hubungan ranjang. Kenapa? Malu?."


Kenapa Azka malah bertanya, jawabannya tentu saja ya. "Kamu selalu mengatakan hal itu dengan mudah. Jangan-jangan, kamu sering membahasnya? Ya kan?."


Raut wajah Azka terlihat kesal, "Apa aku terlihat seperti itu? Aku begini hanya denganmu? Apa yang salah membahas ini dengan istri sendiri?."


"Tetap saja aku malu, Ka. Risih juga."


"Ish, kamu dan aku bukan remaja yang baru mengenal masalah reproduksi. Jadi kamu harus terbiasa," jawab Azka santai


"Kenapa kita malah membahas hal ini, coba?."


"Karena itu akan menjadi rutinitas kita kedepannya. Cinta, perhatian, kepercayaan dan saling memahami saja tidak cukup untuk membangun sebuah rumah tangga. Masalah biologis juga penting."


Salsa menatap suaminya dengan tatapan yang sulit di artikan,


"Kenapa menatapku seperti itu?."


"Aku baru menyadari satu hal."


"Apa?," tanya Azka penasaran.


"Kamu mesum!."


Tawa Azka pecah, dia menatap istrinya yang melah menatapnya bingung. "Aku bersyukur karena kamu yang dikirim Allah untuk mendampingiku."


"Why?."


"Karena sekarang, aku menjadi lebih apa adanya. Dulu jangankan bercanda, berbicarapun aku selalu formal walaupun santai."


"Artinya kamu, kaku!."


"Bisa dibilang begitu. Bahkan aku tidak peka terhadap sekelingku, itu sebabnya Saga lebih memahami situasi dibanding aku."


"Hm, tapi sekarang sepertinya kamu lebih peka!."


"Kamu menyadarinya?."


"Terlihat jelas," jawab Salsa.


"Itu karena aku peduli," Azka menatap Salsa dengan lekat. "Kamulah pusat duniaku sekarang. Dan apapun tentangmu, sekecil apapun itu, aku selalu memperhatikannya."


"Ka ...."


"Aku pernah salah mengartikan rasa sayangku pada Salwa. Tapi aku tidak salah mengartikan perasaanku padamu. Aku mencintaimu, Sal. Aku mencintaimu bahkan sejak awal pertemuan kita."


"Aku juga mencintaimu, Ka. Entah sejak kapan, aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku aku merasa senang berada didekatmu. Aku merasa takut jika jauh darimu. Bukankah itu cinta?."


Azka tersenyum, dia kembali memeluk istrinya. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, cintanya berbalaskan karena Salsa juga mencintainya.


"Kita akan bahagia, aku janji Itu. Apapun badai yang menerjang kita nantinya, aku minta kamu selalu berpegang teguh pada cinta kita. Menggenggam kuat tangan ini tanpa pernah dilepaskan."


"Aku janji."


Dua insan tersebut menikmati waktu mereka berdua. Bercengkerama dan lebih mengenal satu sama lain.


Saat ini mereka tengah berada didalam kamar. Salsa menyandarkan kepalanya didada bidang milik Azka. Saling memeluk menyalurkan kasih sayang yang semakin tumbuh subur di hati masing masing.


"Sal, kamu sudah berdamai dengan hatimu?."


Salsa mendongak, lalu menatap suaminya. Bukan menjawab pertanyaan Azka, tangan Salsa justru terulur mengusap lembut wajah tampan sang suami. Azka memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut tangan istrinya.


"Salahkah jika aku belum bisa berdamai sepenuhnya dengan kenyataan, Ka? Aku manusia biasa, aku bisa mengikhlaskan kepergian anak kita, tapi aku belum bisa melupakan bagaimana caranya pergi."


Azka menggeleng, "Manusiawi jika kamu terluka atas kepergian anak kita, Sal. Kehilangan separuh jiwa, apalagi bagi seorang calon ibu. Tentu sakitnya sangat luar biasa. Kamu terlihat tegar dari luar. Tapi aku yakin, lukamu masih sangat terbuka. Terlebih, kamu kecewa karena Papamu sendiri yang secara tidak langsung membuatnya pergi."


"Demi Allah aku ikhlas atas kepergiannya, Ka. Aku hanya bingung harus berbuat apa. Orang tua kandungku adalah orang tua mantan tunanganmu. Aku adalah kakaknya Salwa. Bagaimana aku harus bersikap didepannya? sedangkan aku tahu dia masih sangat mengharapkanmu. Aku bahkan terlihat seperti kakak yang kejam karena merebut kebahagiaan adikku sendiri."


Azka menghapus air mata yang mengalir dipipi istrinya, "Kamu tidak merebut kebahagiaan siapapun. Semua terjadi karena aku salah mengartikan perasaanku. Salwa memang keras kepala, dia tidak akan menyerah begitu saja. Tapi percayalah, semua akan baik-baik saja. Aku pastikan dia tidak akan menggangu rumah tangga kita. Jika kamu ingin bertemu dengan orang tuamu, aku akan mengantarmu pada mereka. Bagaimanapun karena mereka-lah kamu ada di dunia ini. Kamu pasti merindukan mereka sedari lama, bukan?."


Salsa mengangguk pelan, "Aku akan meminta pendapat Bunda dulu."


"Bagaimana kalau besok kita mengunjungi panti. Kamu pasti rindu Bunda dan anak-anak kan?."


Mata Salsa berbinar, "Kamu serius?."


"Tentu saja."


"Terima kasih, Ka."


Azka menyentil dahi Salsa, "Kenapa kamu menyentilku?."


"Bisakah kamu rubah panggilanmu padaku, sayang?."


Salsa tersenyum, dia memang tidak seharusnya memanggil suaminya dengan sebutan nama saja. "Baiklah, jadi aku harus memanggilmu apa?."


"Terserah apapun yang kau suka."


"Mas?."


Azka mengangguk, "Boleh juga. Tapi aku lebih suka kamu memanggilku, Sayang."