Night Destiny

Night Destiny
Pemanasan



Azka masih terus menggoda istrinya sampai mereka tiba di rumah. Melihat bibir Salsa yang terlipat, membuat Azka semakin gemas.


"Sayang, dengan bibir manyun begitu, kamu semakin membuatku ingin."


Salsa berbalik lalu menatap suaminya dengan garang, "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kita kedepannya. Belum apa-apa saja kamu sudah semesum ini, bagaimana besok-besok!."


Azka memasukkan satu tangannya dalam saku. Lalu satunya lagi ia gunakan untuk menyisir rambutnya dengan asal, dia menatap Salsa dengan gaya cool nya. "Aku hanya mesum padamu, sayang. Lagipula, nanti bukan hanya aku yang akan menyukainya. Kamu pun begitu. Hanya saja kamu masih malu karena kita baru saja dekat. Aku bahkan sangat yakin jika perempuan akan lebih agresif daripada pria!."


Salsa melotot, "Itu hanya dugaanmu, Mas. Tidak akan pernah terjadi."


Azka mendekati sang istri kemudian mengecup bibir Salsa sekilas, "Aku tidak sabar membuktikan bahwa ucapanmu salah."


Salsa melenggang memasuki kamar tanpa menghiraukan ucapan sang suami. Dia ingin mandi lalu istirahat sebentar sebelum nanti malam pergi kerumah orang tuanya. Perempuan itu memasuki kamar mandi, lalu membuka pakaian atasnya.


"Mas ... Apa yang kamu lakukan? Keluar sekarang!," pekik Salsa saat Azka tiba-tiba dengan tanpa dosa memasuki kamar mandi. Salsa meraih handuk untuk menutupi tubuh atasnya. Namun dengan cepat Azka meraihnya lebih dulu.


"Kamu pernah dengar kan? Menolak suami itu dosa!."


"I-iya memang. Tapi kan aku belum bisa sekarang, Mas. Kamu juga tahu itu!."


Azka meraih pinggang sang istri, membawa Salsa merapat pada tubuhnya. "Kan tidak harus ke permainan inti, sayang. Banyak cara untuk meraih kenikmatan tanpa berhubungan langsung!."


Wajah Salsa memerah, selain malu karena tubuh atasnya terbuka. Berada dalam pelukan Azka sedekat dan seintim ini tentu membuatnya gugup bukan main. Apalagi sejak tadi jantungnya berdegup keras bak genderang perang bertalu.


"M-mas!."


"Kita hanya pemanasan sedikit, sayang!."


*


*


*


Salsa mematut penampilannya dicermin. Dia harus memastikan bahwa tanda merah di lehernya tertutup sempurna. Untung saja ada foundation yang mirip dengan warna kulitnya. Jika tidak, mungkin dia masih sangat kesal pada sang suami.


"Sudah siap?," Tanya Azka yang sudah rapi dengan celana jeans dan hem lengan panjang yang terlihat pas ditubuhnya.


"Tidak terlihat kan?," tanya Salsa memastikan.


"Terlihatpun tidak masalah. Lagipula, kamu sudah ada pemiliknya. Jadi biarkan semua orang tahu kalau kamu itu milikku!," jawab Azka dengan entengnya.


Salsa kembali memberenggut, "Ya kalau didalam kan tidak masalah, Mas. Orang tidak bisa melihatnya. Tapi kalau diluar, dilihat orang kan malu!."


Salsa menutup mulut karena salah berbicara. Dia merutuki ucapannya yang sama saja memberikan lampu hijau untuk sang suami.


"Aku akan menagih ucapanmu, nanti malam!," bisikan Azka membuat Salsa merinding. Salsa segera mengajak Azka berangkat, kalau tidak. Suaminya itu pasti akan meminta pemanasan lagi.


"Ayo berangkat. Besok kamu sudah kerja kan? Jangan sampai besok terlambat."


"Aku bosnya sayang. Jadi tidak akan ada yang marah kalau aku terlambat."


"Tapi seorang pimpinan yang baik, harus memberikan contoh teladan pada bawahannya!."


"Bilang saja kamu menghindar!."


Salsa menyengir, "Itu kamu tahu!."


Azka dibuat gemas dengan tingkah istrinya, dia merangkul pundak Salsa lalu mengajaknya berangkat. Azka tidak mau terjebak dengan permainannya sendiri dua kali. Sebab pemanasan yang Azka lakukan tadi siang, membawanya pada permainan solo dikamar mandi.


Perjalanan menuju rumah Danar memakan waktu hampir satu jam. Sebab Azka memang sengaja mencari tempat tinggal yang tidak mudah dijangkau keluarga Danar. Tapi apa mau dikata jika nyatanya, Salsa adalah anak kandung mantan mertuanya.


Setibanya dirumah gerbang pagar putih, Azka menghentikan mobilnya. Satpam yang memang sudah mengenal Azka langsung membukakan pintu. Azka kembali melajukan mobilnya hingga didepan teras.


"Jangan gugup. Apapun yang terjadi, ada aku yang akan selalu menemanimu!."


Salsa tersenyum, dia menarik nafas dalam sebelum akhirnya turun dari mobil.


Azka menggandeng tangan sang istri, setelah tiba didepan pintu, pria tampan itu memencet bel.


Klek


Pintu terbuka dari dalam, membuat Salsa semakin gugup.


"Oh, Mas Azka," sapa pembantu tersebut.


"Apa Om dan Tante ada dirumah, Bi?," tanya Azka langsung.


"Mereka dirumah sakit, Mas!."


"Memangnya, siapa yang sakit, Bi?."


"Non Salwa, Mas. Dia kecelakaan dua hari yang lalu!."