
Salwa kembali ke ruang makan. Dia menatap Azka yang masih bercengkerama akrab bersama ibu panti. Sesekali dia terlihat tersenyum lembut pada Salsa.
Akhirnya acara makan selesai pukul 9 malam. Semua keluarga juga tamu jauh sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Begitupun dengan sang pengantin baru.
Grep
Azka memeluk Salsa dari belakang, membenamkan kepalanya dipundak sang istri. Aroma tubuh Salsa begitu candu baginya.
"Kamu selalu membuatku candu, sayang."
Salsa tersenyum, tentu saja dia senang mendengar pujian dari sang suami.
"Kamu selalu saja gombal."
Azka terkekeh, "Aku jujur, sayang. Aku tidak pernah gombal kalau itu padamu."
"Ya, baiklah," Salsa membelai tangan Azka yang membelit perutnya. "Kalau manja begini, pasti ada maunya kan?," tebak wanita cantik tersebut.
Azka mengangguk, bersama sebulan lebih membuat keduanya kini hafal sifat masing-masing. "Kamu sudah bisa kan?."
Salsa berbalik, memandang wajah suaminya yang terlihat menahan diri. Suaranya juga sudah serak. Salsa tahu jika Azka ingin, dan selama ini suaminya itu sudah menahannya lama.
"Kalau bisa, kamu mau?," goda Salsa.
Azka mencium pipi Salsa dengan gemas, istrinya itu senang sekali menggodanya. "Tentu saja. Aku pria normal dan aku sudah puasa sebulan lebih. Aku tahu kamu sudah suci."
Salsa mengangguk, bagaimanapun sebagai istri, dia harus melayani suaminya lahir dan bathin.
"Aku sudah lama menanti momen ini, sayang. Kamu siap kan?."
Salsa tersenyum, "Aku siap."
Wajah Azka nampak berbinar, akhirnya dia bisa menyentuh sang istri sekarang. "Kamu tidak trauma, kan?."
Salsa menghrla nafas, "Bukan trauma, yang pertama dulu lebih tepatnya aku belum siap. Aku juga sedikit takut, apalagi kita baru mengenal. Tapi sekarang jelas berbeda, kita suami istri. Kita juga saling mencintai. Tidak ada alasan bagiku untuk takut melakukannya bersamamu."
Azka bernafas lega mendengar jawaban Salsa. Perlahan pria itu mencium bibir Salsa dengan lembut. Salsa yang sudah terbiasa dengan ciuman Azka langsung membalas sang suami. Ciuman yang awalnya lembut, kini berubah lebih menuntut.
Tangan Azka tak tinggal diam, jari - jari besarnya sudah bergerak menyusuri setiap inci tubuh sang istri. Entah kapan dan bagaimana, kini mereka telah berada diatas ranjang dengan kondisi naked.
Merasa sudah cukup dengan pemanasan yang dilakukannya, Azka bersiap menuju permainan inti. Nafas keduanya memburu, ha*srat dan ga*irah sudah menguasai jiwa dua insan tersebut.
Azka membungkam mulut sang istri dengan ciumannya secara tubuh bawahnya terus berusaha menyatukan diri. Susah, sempit bahkan rasanya seperti belum pernah dimasuki. Padahal dulu, dirinyalah orang yang pertama kali merasakan nikmat tubuhnya istrinya.
"Sayang, sulit sekali. Bisakah kamu menahan sakitnya sebentar?," tanya Azka dengan suara seraknya. Dia tak mampu lagi menahan diri, karena itu dia meminta izin pada Salsa untuk bergerak dengan sedikit keras.
"Lakukan, sayang. Aku milikmu seutuhnya," jawab Salsa yang juga sudah sangat ber*gairah.
Azka menuntun tubuhnya untuk menyatu dengan tubuh Salsa. Merasa sudah tepat sasaran, Azka menghentak dengan keras. Salsa memekik ditengah ciuman mereka. Rasanya masih sama seperti pertama kali mereka melakukannya. Sakit dan sedikit nyeri.
Salsa menatap wajah suaminya yang terlihat lega, walau belum bergerak, Salsa tahu jika Azka sudah berhasil meredam sedikit ha*sratnya. Tanpa diminta, Salsa mencium bibir suaminya lebih dulu, Azka yang terpancing langsung membalas ciuman menuntut dari istrinya. Perlahan tubuhnya juga ikut bergerak. Rasanya luar biasa, seperti ada ribuan kuouoyang terbang dalam dirinya. Azka terus bergerak dengan ritme pelan, menikmati penyatuan mereka yang membuatnya melayang.
"Faster baby," bisik Salsa
Tak menyia-nyiakan kesempatan, tubuh Azka bergerak semakin cepat. Bahkan Salsa turut menggerakkan pinggulnya. Dia mampu mengimbangi permainan Azka yang sangat ber*gairah dan menuntut.
"Ah ... Aku akan sampai."
"Bersama, sayang. Tahan sebentar."
Pria itu bergerak semakin cepat, hingga erangan panjang terdengar dari mulut Azka. Keringat membanjiri tubuh suami istri itu, bahkan setelah menanamkan bibirnya, Azka masih enggan melepaskan diri.
"Kau luar biasa, sayang. Rasanya sungguh membuatku melayang."
Salsa tersenyum, tidak ada malu lagi diantara mereka. Lagipula, Salsa dan Azka bukan pasangan remaja yang baru mengenal s*eks. Jadi wajar jika melihat tubuh pasangan tanpa busana.
"Kenapa kamu masih disitu? Kamu belum puas?," tanya Salsa dengan nada menggoda.
"Tentu saja belum, ini kedua kalinya kita bersama. Apalagi aku sudah puasa sangat lama. Tentu aku tidak mau hanya sekali main."
Salsa terkekeh geli, "Aku sudah menduga kalau kamu itu hiper."
Tawa Azka menguar, "Tapi kamu bisa mengimbanginya. Aku senang karena kamu turut andil dalam permainan tadi. Kamu tidak mau memimpin permainan? Bukankah kamu sudah belajar?."
Salsa menatap suaminya dengan wajah cukup terkejut, darimana Azka tahu hal itu.
"Tidak usah malu. Aku tahu apapun yang kamu lakukan. Aku tidak akan marah, justru aku senang karena kamu berinisiatif sendiri."
Salsa menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Tidak usah menutupi wajahmu," Azka menarik tangan Salsa. Membuat istrinya itu menatapnya juga. "Jadi? Kamu mau memimpin permainan, Nyonya Ibrahim?."
Salsa menggigit bibir bawahnya, dia menatap Azka sekilas, "Baiklah tuan Ibrahim, seperti yang kamu minta."
Perempuan itu berbalik dan kini sudah berada diatas. Azka tersenyum menyeringai, dia suka Salsa yang pemberani, "Okay baby, let's play again."
Mereka kembali menghabiskan malam dengan permainan indah. Suara keduanya mengalun seperti nada merdu yang menggema ke seluruh kamar.
Sedangkan diluar kamar mereka,
"Kamu mau menguping suami istri yang sedang bercinta?."
Salwa terperanjat kaget karena Saga tiba-tiba didepannya. Entah sejak kapan pria itu ad disana, yang jelas, Salwa ketahuan sedang menguping kegiatan kakak dan kakak iparnya.
"A-aku hanya sedang lewat," kilah Salwa
Saga menatap Salwa dengan sinis, "Kamu bisa membohongi orang lain, tapi tidak denganku. Aku tahu semua yang kamu lakukan, Salwa. Bahkan Bang Azka juga mengetahuinya. Saranku, berhentilah sebelum kamu semakin sakit hati. Atau kamu mau hidupmu hancur ditangan orang yang kamu cintai?," Salwa memandang Saga dalam diam, "Kamu kenal betul Bang Azka seperti apa. Jadi, berhentilah sebelum kamu menyesal."
Saga melangkah meninggalkan Salwa yang masih mematung didepan kamar Kakaknya, "Kamu masih mau mendengar des*ahan mereka? Menyedihkan!."