
Salwa perlahan membuka mata, setelah sadar sepenuhnya, dia terperanjat karena berada ditempat asing. Matanya menoleh kesekeliling tempatnya kini berada. Dengan segera dia beranjak bangun dari ranjang.
"Kamu sudah bangun?," suara Seno membuat Salwa menghentikan langkahnya. Kini perempuan itu menatap Seno dengan tatapan dinginnya.
"Keluarkan aku dari tempat ini!."
Seno tersenyum tipis, "Itu tidak akan terjadi. Sekarang rumah ini adalah rumahmu. Kamu adalah nyonya Seno. Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu akan tetap tinggal disini."
Salwa berjalan mendekati Seno, dia menatap suaminya dengan tatapan yang penuh kebencian. "Aku tidak peduli kamu mau mengurungku disini atau tidak. Yang jelas, aku akan pergi dari sini!."
Salwa melangkahkan kakinya, dia berusaha membuka pintu sayangnya pintunya terkunci. "Breng*sek! Buka pintunya!."
Seno berjalan mendekati istrinya, dia terlihat begitu santai dengan gaya cool nya. "Aku akan mengizinkan kamu keluar tapi hanya dalam rumah ini. Kalau untuk keluar rumah, maaf, aku tidak akan memberikan izin!."
"Siapa kamu berani mengatur hidupku. Pokoknya aku mau pulang!."
"Aku suamimu kalau kamu lupa dan kamu juga sudah pulang!."
"Tidak! Ini bukan rumahku! Aku mau pulang kerumahku!," kekeh Salwa
Seno kembali tersenyum tipis, "Ini rumahmu, lagipula Papa dan Mamamu sudah menyerahkanmu padaku. Jadi, mulai sekarang kamu akan tinggal disini bersamaku, selamanya!."
"Pria gila! Aku tidak sudi tinggal bersama pria sepertimu! Aku mau pulang!."
Seno mencengkram lengan Salwa dengan cukup keras, wanita itu terlihat meringis. Namun dia tetap memberikan tatapan tajamnya pada Seno tanpa rasa takut. "Dengarkan aku baik-baik, Salwa! Sekarang kamu adalah istriku. Kamu, akan tinggal disini bersamaku. Kamu akan hidup nyaman dirumah ini. Fasilitas yang kamu dapat dari orang tuamu juga akan kamu dapatkan dariku. Kenapa kamu begitu keras kepala!."
"Aku tidak memintamu memilih dan menikahiku. Aku juga tidak butuh hidup mewah darimu. Lepaskan aku, aku mau pulang!."
Seno melepaskan tangannya dari lengan Salwa, dia sedikit frustasi karena ke keras - kepalaan Salwa. "Sal, tidak bisakah kamu menerima semuanya? Tolong jangan egois dan keras kepala!," ucap Seno menatap Salwa lekat.
Salwa tertawa sinis, "Menerimamu? ... Itu tidak akan pernah terjadi. Karena apa?," Salwa kembali menatap Seno dengan tajam, "Karena aku membencimu! Karena kamu masa depanku hancur. Karena kamu aku tidak bisa bersama pria yang aku cintai. Semuanya berantakan karena kehadiranmu."
"Azka tidak akan pernah menjadi milikmu lagi. Dia sudah bahagia dengan kakakmu!."
"Ya, kamu benar. Kalian bukan saudara. Kamu dan Salsa memang tidak memiliki hubungan darah. Bahkan kamu dengan Papa, Mamamu juga demikian! Tapi mereka menyayangimu, mereka membesarkanmu dan merawatmu seperti anak kandung mereka sendiri. Tidakkah kamu keterlaluan jika mengusik rumah tangga putri kandung mereka?."
"Aku yang lebih dulu bersama Azka. Kami bahkan akan menikah tapi semua hancur karena kehadirannya. Apa salah kalau aku ingin merebut kembali apa yang menjadi milikku?!," tanya Salwa dengan angkuh.
"Tidak salah, itupun kalau kamu ingin menjadi anak yang tidak tahu balas budi. Sama seperti anjing yang dipungut dari jalanan. Setelah dirawat dan diberi makan, mungkinkah dia akan menggigit penolongnya?."
"Breng*sek! Beraninya kamu menyamakan aku dengan anjing!."
"Itu hanya perumpamaan Sal. Kamu sudah dirawat dan dibesarkan dengan kasih sayang penuh. Bahkan Salsa tidak mendapat kasih sayang Om Danar dan Tante Anya sejak bayi. Sudah seharusnya kamu membalas kebaikan mereka dengan tidak mengusik rumah tangga Salsa!," Seno menghela nafas, "Cobalah terima pernikahan kita. Lupakan masa lalu dan mari memulai semuanya dari awal. Kita! Aku, kamu dan calon anak kita!."
"Sudah aku katakan, aku tidak mau hidup bersamamu. Aku juga tidak menginginkan anak sialan ini!."
Seno menatap Salwa dengan tatapan dinginnya. "Jangan pernah berkata seperti itu. Bagaimanapun anak itu anak kita!."
"Tidak ada anak kita! Dia hanya anakmu, dan sebentar lagi, aku akan mengirimnya ke neraka!."
Deg
Wajah Seno langsung berubah merah, tatapannya begitu dingin. Dia mendekati Salwa, membuat wanita itu perlahan mundur.
"Ahk ....!"
Punggung Salwa membentur dinding, kini dia tidak bisa menghindar karena Seno tepat berada didepannya dengan jarak yang sangat dekat. "Bagaimana bisa seorang calon ibu ingin melenyapkan anaknya sendiri? Apa kamu tidak punya rasa kemanusiaan sedikit saja? Dia tidak berdosa, dia bahkan berhak melihat dunia. Kenapa kamu bersikap seolah dirimu Tuhan yang bisa menentukan nasibnya? Bagaimana kalau kamu yang berada di posisinya? Bagaimana kalau ibumu sendiri ingin membunuhmu? Bagaimana perasaanmu?."
Deg
Salwa membeku, bibirnya terasa kelu bahkan dia tak mampu menjawab pertanyaan yang Seno berikan.
"Dia berhak hidup. Dia berhak melihat dunia. Kalau kamu tidak menginginkannya, aku yang akan merawat dan membesarkannya! Tapi tolong, jangan lenyapkan dia," lirih Seno, pria itu perlahan mundur, dia melangkah meninggalkan Salwa yang masih terdiam. "Aku tidak akan meminta apapun darimu, aku hanya minta, jaga dan pertahankan dia sampai dia lahir ke dunia. Setelah itu, kamu boleh pergi meninggalkan kami."
Seno berjalan menuju pintu, namun sebelum benar-benar pergi dia kembali menoleh ke arah Salwa yang masih terpaku ditempat, "Dia punya orang tua lengkap. Setidaknya, dia akan mendapat kasih sayang tulus dari orang tua kandungnya, walau pada akhirnya, aku akan merangkap menjadi ayah dan bunda untuk anak kita!."