
Sudah sebulan berlalu, namun Azka belum juga menemukan keberadaan istrinya. Menemui Danar setiap hari, tak membuat pria itu merasa iba. Danar masih kekeh dengan pendiriannya. Azka juga mendatangi panti asuhan dan menemui Maria, sayangnya, wanita yang mengasuh istrinya sejak bayi itu juga tak tahu keberadaan Salsa.
"Kemana lagi aku harus mencarimu, Sayang," lirih Azka
Kehidupannya tanpa Salsa sungguh berantakan. Makan tidak teratur, tidur tidak teratur bahkan seringkali Azka tidak tidur hanya demi mencari keberadaan Salsa.
Melihat tubuh putranya yang semakin kurus dan tak terurus, Gita memutuskan tunggal dirumah sang putra.
"Bang, makanlah yang banyak. Badanmu semakin kurus belakangan ini."
Azka hanya melirik ibunya sekilas, jangankan makan banyak. Menyentuh makanannya saja paling banyak dua sendok.
"Bagaimana aku bisa makan, Bun. Aku sendiri tidak tahu apa istrinya makan atau tidak."
Gita hanya mampu menghela nafas, ia merasa iba melihat kondisi sang putra. Dirga turut membantu mencari keberadaan Salsa, sayangnya belum juga membuahkan hasil.
"Bang, kalau kamu begini terus, bagaimana kamu akan mencari istrimu? Kamu harus tetap sehat agar bisa mencari Salsa. Ayahmu juga akan terus membantu mencari Salsa."
Azka beranjak dari duduknya, "Aku berangkat dulu, Bun."
Gita tak mampu menahan air matanya. Hatinya ******* melihat kehidupan putra sulungnya yang berantakan. Tidak ada senyuman, tidak ada raut kebahagiaan. Bahkan Azka berubah menjadi sosok dingin yang irit bicara dan pemarah.
*
*
Azka baru menginjakkan kakinya dihotel. Dia harus memeriksa keuangan hotel dan mengadakan rapat dengan para manajer. Namun kakinya berhenti saat melihat genangan air didepan lobi tanpa ada tanda peringatan.
"Siapa OB yang membersihkan lobi?," suara menggelegar Azka membuat semua karyawan menatapnya. Seorang pria berlari dari arah belakang. Kemudian dia menghadap Azka dengan wajah menunduk.
"Darimana saja kamu, hah!! Kenapa ceroboh sekali meninggalkan pekerjaanmu tanpa memberi tanda jika lantai ini licin?!! Kau sengaja ingin mencelakai pengunjung hotel ini?!!."
"M-maaf tuan, perut saya tiba-tiba sakit. Jadi saya ke kamar mandi sebentar."
Azka tertawa sinis, "Kau dipecat! Aku tidak butuh karyawan teledor sepertimu!."
"Selamat siang, Pak Azka," sapa salah satu karyawannya.
Azka kembali menghentikan langkah, perempuan itu terlihat menyunggingkan senyum.
"Rubah cara berpakaianmu. Hotelku tidak mempekerjakan karyawan yang berpenampilan seperti wanita penggoda!."
Perempuan itu mematung, usahanya memikat Azka tidak berhasil sama sekali. Yang ada, dia justru dipermalukan dan ditertawakan beberapa orang.
"Jangan terlalu ngayal pengen dapetin pak Azka. Dia sangat mencintai istrinya!."
Perempuan tadi memberenggut, "Tapi pak Azka calon duda. Apa salahnya aku berusaha."
"Kalau kamu masih ingin bekerja disini. Sebaiknya jangan cari masalah. Atau nasibmu akan berujung seperti OB tadi!."
Diruangannya Azka kembali menghela nafas, hidupnya sungguh terasa hampa. Dulu, kadang Salsa tiba-tiba datang membawakannya makan siang. Sekarang jangankan datang, keberadaannya saja Azka tak tahu.
"Kamu berhasil memberiku hukuman yang paling menyakitkan, sayang."
Azka kembali menatap foto pernikahannya dengan Salsa. Hatinya kembali pilu karena merindukan istri tercinta.
"Aku mohon kembalilah, sayang. Aku sangat merindukanmu. Tidak cukupkah hukuman yang kamu berikan? Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku benar-benar butuh kamu."
Alvin yang melihat kesedihan bosnya turut merasa bersalah. Dialah yang membeberkan masalah Alika pada Salsa.
"Bos, sudah waktunya meeting."
Dengan langkah tegas Azka menuju ruang meeting. Azka yang sekarang terlihat sangat menakutkan dimata semua karyawan. Selain tak lagi memberikan senyum, Azka juga dikenal temperamen dan kasar.
"Baik, rapat kita mulai. Namun sebelumnya, aku ingin kalian jujur," wajah para direktur nampak tegang. Mereka seperti memiliki firasat tidak enak. "Siapa saja orang yang berani menggelapkan Dana Hotelku?."
Glek