
Salsa masing termenung ditempat. Ingatannya kembali berputar dimana beberapa menit yang lalu, dia melihat suaminya terbaring tak berdaya. Samar - samar dia mendengar gumamam Azka. Sungguh, Salsa dilanda cemas yang teramat sangat, bahkan perutnya terasa kram, anaknya seolah tahu jika telah terjadi sesuatu pada Ayahnya.
"Maafkan Bunda, Nak. Maaf karena belum bisa mempertemukanmu dengan Ayah. Tapi Bunda janji, suatu saat nanti Bunda akan mempertemukan kalian diwaktu yang tepat. Kamu baik-baik didalam perut Bunda ya. Tumbuh sehat sampai lahir kedunia. Bunda menyayangimu."
Mungkin terkesan egois, namun untuk kembali sekarang, rasanya hukuman untuk Azka kurang banyak.
Sementara Dirga kini tengah mengendarai mobilnya menuju rumah besannya, Danar. Dengan perasaan yang memendam kesal, Dirga berusaha menahan emosinya. Tak peduli dini hari, pria itu tetap harus menenuo Danar.
Tak butuh waktu lama, akhirnya dia tiba dirumah bertingkat dua tersebut.
"Saya mau bertemu dengan Danar," ucap Dirga tanpa basa basi.
"Maaf, Pak. Walau anda besan tuan Danar. Tapi saya tidak bisa mengizinkan anda masuk. Sekarang jam setengah tiga pagi. Tuan Danar pasti sedang beristirahat."
Dirga menatap satpam dengan tajam. "Tidak peduli sekarang jam berapa! Cepat izinkan aku masuk. Kalau tidak, aku akan menabrak gerbang ini!."
Satpam nampak berfikir, tapi Dirga tak bisa menunggu. Dia menyalakan kembali mesin mobilnya dan hendak menabrak gerbang. Namun buru - buru satpam membukakan pintu gerbang.
Dirga memarkirkan mobilnya tepat didepan teras. Tanpa menunggu lama, pria itu segera turun dari mobil lalu menggedor pintu.
"Pak, tolong jangan buat keributan dini hari begini," pinta Satpam. Tentu saja, karena Dirga menggedor pintu dengan sangat keras.
Pintu terbuka, menampakkan wajah Danar yang terlihat baru saja bangun.
Bug
"ASTAGA, APA YANG KAMU LAKUKAN, MAS DIRGA?," teriak Anya
Danar tersungkur, Anya dan Satpam segera membantu Danar berdiri.
Pria itu menatap besannya dengan tajam, "Ada apa datang - datang kau langsung memukulku?," tanya Danar dingin.
"Cih, kau masih bertanya? Katakan dimana Salsa berada!."
Danar tertawa sumbang, "Aku tidak akan pernah mengatakannya!."
"Mas Dirga, tolong jangan buat keributan. Kita bisa bicara baik-baik," pinta Anya
"Aku tidak bisa bicara baik-baik pada pria egois seperti suamimu!."
"Aku egois demi kebaikan putriku!," bantahnya
Dirga tertawa sinis, "Kebaikan? Kebaikan seperti apa?."
"Tentu saja kebaikan untuk kebahagiaan putriku!."
"Itu hanya alasan. Semua yang kau lakukan hanya keegoisanmu semata. Kenapa kau begitu angkuh? Bukankah kesalahan Azka sebenarnya bisa diselesaikan. Caranya saja yang salah."
"Kebohongan tetaplah kesalahan. Dan kebohongan menghilangkan kepercayaan!."
Dirga kembali tertawa sinis, "Putraku sudah jujur! Dia mengakui semua perbuatannya. Bukankah terkesan kejam kau masih menyembunyikan istrinya. Dia tidak selingkuh, dan dia tidak menyakiti Salsa seperti kamu menyakiti Gita!."
Anya terlihat berkaca - kaca, sementara Danar menatap besannya tak suka, "Kenapa kau selalu mengungkit masa lalu!."
"Karena itulah kenyataannya! Kesalahanmu pada Gita begitu besar. Kamu tidak hanya menyakiti fisik dan bathinnya. Kamu juga membunuh anaknya! Tapi Gita tetap memaafkanmu!! Jadi, setidaknya balas kebaikan Gita dengan tidak menjadi manusia egois!."
Danar membeku, perkataan Dirga tentu membuatnya kembali pada kejadian lampau. Dan tentu saja penyesalan itu masih ada.
"Mereka saling mencintai. Kenapa kita harus memisahkan mereka. Jangan mengedepankan ego yang bisa merusak semuanya. Jika kalian masih belum memberi tahu dimana Salsa berada, jangan salahkan putraku jika dia berpaling pada wanita lain!."
Deg
Ucapan Dirga membuat kedua orang tua Salsa membeku. Mereka berdua tahu, seberapa cintanya Salsa pada Azka begitupun sebaliknya.
"Temui kami dirumah sakit kalau kalian berubah pikiran," ucap Dirga seraya melangkahkan kakinya keluar.
"Tunggu, Mas. Siapa yang sakit?," tanya Anya penasaran.
Dirga menghentikan langkahnya, "Mencari keberadaan istrinya setiap hari, ditambah harus melakukan tanggung jawabnya dihotel. Kurang istirahat dan makan tidak teratur. Apa menurut kalian tubuh anakku tidak bisa tumbang?."