Night Destiny

Night Destiny
Pertemuan Haru



"Bang, ayo bangun. Jangan hanya tidur begini. Kamu berangkat semangat empat lima. Kenapa sekarang malah loyo dan sembunyi dibalik selimut tebal itu." bujuk Saga. Setelah mendengar rencana dari Seno. Saga langsung melakukan bagiannya.


Azka tidak menyahut, harapan yang tumbuh subur langsung pupus begiru saja saat istrinya malah tidak ada dimana - mana.


"Bang!," sentak Saga gemas.


"Apa sih, Ga. Sana pulang! Nggak ada yang minta kamu datang!."


Saga menghela nafas, sesuai misi. Dia harus bisa membawa Azka keluar rumah. "Bang, kenapa kamu jadi patah semangat. Kalau kak Salsa tidak ada dikota itu. Artinya, mungkin saja dia ada di sini kan? Kamu tidak mau mencarinya?."


Bungkam, itulah yang Azka lakukan


"Ya sudah! Silahkan kamu bergelut dengan rasa galaumu. Tidak usah mencari kak Salsa lagi. Siapa tahu dia pulang karena sudah bertemu pria lain yang lebih baik dari kamu. Dan bersiaplah menjadi duda!."


Srek.


Selimut Azka lemparkan sembarangan. "Jangan berkata yang tidak - tidak. Ayo cari kakak iparmu. Dan kalau ucapanmu benar dia pulang bersama pria lain, aku akan patahkan tangan dan leher pria itu!."


Yes, berhasil. Bathin Saga senang.


"Ayo! Tujuan utama adalah rumah om Danar!."


Azka mengangguk, "Kalau tua bangka itu tidak memberi tahu dimana Salsa sekarang. Aku akan mencincangnya jadi bakwan!."


Dua pria itu akhirnya meninggalkan rumah. Setelah mobil Azka tak terlihat, mobil Seno masuk kedalam halaman rumah bertingkat dua tersebut.


"Loh, Mas Seno. Mas Azkanya baru saja keluar sama den Saga," ucap Bibi


"Justru karena Azka keluar bi. Sekarang bantu aku bawa ini ke kamar Azka."


Bibi mengernyit bingung, "Buat apa Mas?."


"Kejutan dong. Nyonyamu akan segera pulang."


"Benarkah nyonya Salsa akan segera pulang?," tanya bibi antusias.


"Tentu. Makanya dia ingin memberi kejutan untuk Azka. Sekarang, bantu aku membawa ini semua."


Ketika Saga dan Seno dalam misi masing-masing. Salsa kini tengah didandani oleh Salwa. Disana juga ada Anya dan Danar yang menemani kedua putrinya.


Gita dan Dirga juga sudah dihubungi oleh Saga. Mereka begitu antusias dan tidak sabar bertemu dengan Salsa.


*


Kamar Salsa dan Azka sudah disulap seperti kamar pengantin. Banyak lilin dan taburan bunga diatas ranjang. Bukan permintaan Salsa, tapi semua ini idenya Seno. Didapur, bibi menyiapkan makan malam spesial untuk menyambut kedatangan nyonya rumah.


Salsa yang sudah siap langsung meluncur menuju rumahnya dan Azka. Tentu ditemani Danar dan Anya juga Salwa. Perjalanan tidak memakan banyak waktu karena jarak rumah mereka lumayan dekat. Saat turun dari mobil, Salsa melihat mertuanya menghampiri dirinya.


"Sayang, kamu kemana saja? Bunda merindukanmu," Gita memeluk Salsa dengan erat. Meski Salsa hanya menantu, tapi rasa sayangnya pada Gita sama seperti rasa sayangnya pada anaknya sendiri. "Kamu sehat kan? Kenapa kamu pergi tidak pamit. Bunda dan ayah mencarimu kemana - mana."


Tangis Salsa pecah, dia sungguh merasa bersalah pada mertuanya. Mereka tidak tahu apa-apa, tapi malah kena imbas keegoisannya. "Maafkan aku, Bunda. Maaf karena pergi tanpa pamit. Aku salah."


Gita mengusap air mata Salsa, "Sudah. Yang penting kamu sudah kembali. Lupakan yang sudah berlalu. Sekarang lanjutkan masa depanmu dengan Azka. Kalian saling mencintai, jadi jangan saling menyakiti lagi."


Salsa hanya mengangguk, dia tak tahu harus berkata apa lagi. Padahal mertuanya begitu baik. Pandangan Salsa kini beralih pada Dirga. Mertua laki - laki yang juga sangat menyayanginya.


" Yah." Salsa memanggil Dirga yang sejak tadi hanya diam. Mata pria itu berkaca-kaca, "Maaf."


Dirga merentangkan tangannya, Salsa langsung menghambur kedalam pelukan pria itu. Dia kembali menangis karena menyesali keegoisannya dulu.


"Ayah sangat merindukanmu, Nak. Sangat. Jangan pernah pergi lagi tanpa pamit. Jangan buat ayah dan bundamu cemas. Kami menyayangimu. Kalau ada masalah dengan Azka, katakan pada kami. Biar kami yang menghukum anak itu."


"Maaf. Aku tidak bermaksud membuat kalian cemas. Aku ...."


Salsa kembali memeluk mertuanya, namun Dirga langsung melerai pelukan mereka saat merasakan sesuatu yang janggal. Pria itu memandang perut menantunya yang agak buncit. "K-kamu hamil?."


Gita yang tidak menyadari hal itu seketika juga memandang ke arah perut Salsa. Benar, perut menantunya terlihat seperti wanita hamil. "Nak, kamu hamil? Kamu sedang mengandung cucu bunda?."


Salsa mengangguk, Gita kembali memeluk menantunya, dia tak mampu membendung air mata yang jatuh begitu saja. "Alhamdulillah, Bunda senang sekali. Bunda akan menjadi seorang nenek."


Dirga mengusap sudut matanya. Dia juga terharu mendengar jika sang menantu tengah mengandung cucunya. Cucu yang selama ini mereka nantikan.


"Selamat, Nak. Kamu akan menjadi seorang ibu. Jaga baik-baik kandungan kamu. Kalau ada sesuatu yang kamu inginkan, katakan pada Ayah, ya." Salsa mengangguk dan tersenyum.


Pemandangan itu tak luput dari orang tua Salsa juga Salwa dan Seno. Mereka ikut terharu melihat kehangatan Salsa dan mertuanya.


"Sudah, sebaiknya kalian memainkan peran masing-masing karena sebentar lagi Azka akan datang," ucap Salwa.


Salsa mengangguk, dia segera menaiki tangga menuju kamarnya. Sementara Danar dan yang lain menunggu diteras belakang. Dirga dan Gita berada diruang tamu.


Dijalan, Azka menggerutu tidak jelas. Kedatangannya kerumah Danar nyatanya tidak membuahkan hasil. Tuan rumah pergi entah kemana, dan kini berakhir dengan Saga yang harus mendengar ocehan Abangnya.


"Bang, berhentilah mengomel. Sekarang tentukan tujuan kita akan kemana."


"Pulang!."


Saga tak menyahut, dia melajukan mobilnya menuju rumah Azka. Setibanya disana, suasana masih sama. Sepi dan ya ... Tidak terlihat adanya Salsa disana.


"Ka, kamu sudah pulang? Kenapa tidak mengabari kami?," tanya Gita yang melihat kedatangan kedua putranya.


Azka melangkah dengan gontai, dia mendudukkan bokongnya dengan lesu di sofa ruang tamu. "Salsa tidak ada disana, Bun. Dan dia juga tidak ada disini. Kemana lagi aku harus mencarinya? Kenapa dia menghukumku begitu berat. Bagaimana aku menjalani hidupku kedepannya kalau semangat hidupku sudah tidak ada."


Mereka saling lirik, "Bang. Percaya pada kekuatan cinta. Yakin kalau suatu saat Salsa akan kembali pada kamu. Jangan berkecil hati, kami akan terus membantumu mencari Salsa."


Azka mengangguk, dia berdiri lalu berjalan menaiki tangga. Tidak ada yang mereka katakan, mereka membiarkan Salsa dan Azka menyelesaikan masalah mereka sendiri.


Ceklek


Mata Azka terpanah, kamarnya berubah menjadi kamar pengantin baru. Apa dia bermimpi? Pria tampan itu mengucek matanya berkali-kali. Namun masih sama.


Dia berdecak kesal, "Siapa yang membuat kamarku jadi seperti ini. Apa dia tidak tahu kalau aku sedang patah hati!."


"Aku."


Deg


Azka menatap Salsa yang berada ditepi jendela. Pria itu masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Sekali lagi, Azka mengucek matanya.


"Apa kabar, Mas."


"S-sayang. Kamu pulang?."


Salsa tersenyum manis, hingga


Bruk


"Mas Azka!."


*


*


*


Lah, Mas Azka kenapa tuh?