Night Destiny

Night Destiny
Mencolok



Acara sudah berlangsung hampir satu jam, senyum bahagia terpatri jelas diwajah kedua mempelai. Ucapan selamat tak henti mereka dapatkan dari tamu undangan. Sambil menyalami para tamu, Azka dan Salsa sesekali memandang dengan penuh cinta. Acara berlangsung dengan sangat meriah. Suara merdu pengisi acara membuat para tamu semakin betah menikmati acara tersebut. Ditambah hidangan yang disediakan pun begitu memanjakan lidah para tamu yang datang. Pesta pernikahan pengusaha muda ini digadang-gadang menjadi pernikahan paling mewah ditahun ini.


Ketampanan Azka berpadu sempurna dengan kecantikan alami seorang Salsabila. Mereka bak pengeran dan putri dalam negeri dongeng. Tak sedikit yang merasa iri pada mereka, banyak pula hati wanita yang patah melihat Azka telah bersanding dengan pujaan hatinya.


Kebahagiaan mereka begitu jelas. Para tamu tak henti memandang ke arah mempelai yang memang tampak mempesona.


Pandangan tamu undangan kini tak lagi fokus ke pelaminan. Semua mata kini tertuju pada sosok yang baru memasuki gedung. Mereka tentu hafal siapa gadis tersebut. Salwa Adiaksa, adik dari mempelai wanita yang merupakan mantan kekasih mempelai pria. Bukan karena kagum akan pesona Salwa, mereka justru menatap gaun Salwa yang begitu mencolok ditengah pesta. Warna merah yang sangat kontras dengan tema acara membuat Salwa jadi pusat perhatian.


Banyak yang mencibir gadis itu, bahkan tidak sedikit yang membandingkannya dengan Salsa, istri Azka. Kalau dibandingkan, Salsa jauh lebih kalem dan anggun. Berbeda dengan Salwa yang posesif jika menyangkut Azka. Dan itu sudah menjadi rahasia umum.


"Kenapa Salwa tidak memakai gaunnya?," tanya Salsa bingung.


Azka hanya tersenyum, "Dia tidak sengaja merusak gaunnya sendiri."


Salsa menatap suaminya heran, "Bagaimana maksudnya?."


"Yang jelas, dia berniat jahat padamu. Tapi dia kena tulah akibat perbuatannya sendiri. Lihat wajahnya yang menahan malu. Bahkan dia menjadi pusat perhatian. Aku yakin sebentar lagi dia akan pergi dari sini!."


Salsa menatap ke arah adiknya. Terlihat sesekali Salwa menunduk. Jelas dia pasti merasa tidak nyaman karena terlihat mencolok.


"Tapi kasihan juga Salwa. Apa tidak ada gaun lain yang bisa dia pakai?."


Azka menatap ke arah istrinya, "Biarkan saja. Kamu memang kakaknya, tapi kamu belum tahu sifat aslinya. Jangan terlalu mengasihani orang yang bisa menusukmu dari belakang!," peringat Azka.


Salsa mengangguk paham, "Aku tahu apa yang harus aku lakukan, tuan Akza!."


Azka tertawa kecil, "Aku yakin kamu lebih pintar mengusir pelakor dan mempertahankan suami tampanmu ini!." Mereka sama - sama tertawa.


Salwa sendiri merasa risih, apalagi sebagian orang menatapnya dengan senyum mencemooh.


Sial, semua rencanaku gagal karena salah sasaran. Azka tidak bisa dianggap remeh. Dia pasti sudah mengawasi aku.


Merasa tidak nyaman, Salwa akhirnya memilih pergi dari pesta. Anya hanya mampu menghela nafas melihat kepergian putri bungsunya.


Azka melambaikan tangannya pada adiknya. Dengan malas Saga naik ke pelaminan,


"Kenapa?."


"Kamu tidak mau berfoto berdua dengan kami? Tadi kau hanya foto bersama keluarga. Itupun kau terlihat seperti robot, sangat kaku!."


Saga mencebik, "Baiklah, karena aku turut berbahagia, maka aku akan berfoto dengan kalian!."


Saga mengambil posisi ditengah dengan santainya. Azka akan protes namun pelototan Saga membuatnya hanya pasrah. Azka tidak rela jika sang istri berdekatan dengan pria lain sekalipun itu adiknya sendiri.


Setelah beberapa kali foto, Saga turun dan kembali duduk di mejanya.


"Dia jomblo sejati," ledek Azka


"Jangan begitu, dia hanya belum memikirkan tentang jodoh. Azka kan mulai sibuk meneruskan usaha Ayah!."


Azka mengangguk setuju, sama seperti dirinya dulu. Azka pun demikian, bahkan dia sempat akan menikahi Salwa tanpa memikirkan bagaimana masa depan rumah tangganya. Beruntung takdir berkata lain, dia malah bertemu wanita sempurna seperti Salsa.


"Salwa belum berfoto dengan kita," ucap Salsa


Azka hanya mengedikkan bahu, bagus bukan jika dalam foto mereka tidak ada Salwa. Bukannya kejam, tapi gadis itu sendiri yang memulai gara-gara.


"Aku tidak sabar menghabiskan malam pengantin kita," celetuk Azka


"Apa masih bisa dianggap malam pengantin? lalu yang tadi malam disebut apa?," sahut Salsa sedikit kesal.


Pria tampan itu terkekeh, "Pemanasan!."


Salsa melotot, "Mana ada pemanasan sampai pagi!."


Azka mencium pipi istrinya gemas, Salsa langsung tersenyum malu karena ditatap beberapa tamu yang melihat ke arah mereka. "Anggap itu latihan. Jadi untuk selanjutnya, kamu tahu sampai mana kalau aku sedang ingin!."


Wanita muda itu hanya berdecak kesal dalam hati, dia tidak boleh terlihat kesal karena harus selalu tersenyum.


"Terima kasih," ucap Salsa sambil menyalami tamu.


Seorang pria tampan terlihat memasuki ruangan, tatapannya begitu tajam. Garis wajahnya begitu tegas, kulitnya yang kecokelatan menambah kesan cool dalam dirinya. Pria itu langsung berjalan menuju pelaminan, dengan senyum lebar dia menyapa pengantin pria.


"Selamat atas pernikahanmu, Azka Ibrahim. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah!."


Azka menerima uluran tangan pria tersebut, "Terima kasih. Jarang-jarang seorang Seno Ardian menyempatkan waktunya untuk datang ke sebuah pesta. Ini suatu kehormatan karena kamu mau datang ke pernikahanku!."


Seno tersenyum, "Aku sebenarnya hanya tidak suka pesta. Tapi pengecualian untukmu," Azka mengangguk, "Oh ya, kamu tidak mau mengenalkan istrimu padaku? Aku belum mengenal yang ini!."


Salsa menatap keduanya heran, mereka seperti teman tapi juga seperti musuh.


"Sayang, kenalkan. Dia Seno, dia seorang dosen. Temanku sejak SMA. Em, tepatnya bukan teman, tapi mantan saingan!."


Salsa semakin menatap keduanya bingung, "Dia menyukai Salwa sejak SMA!," sambung Azka.


Akhirnya Salsa paham apa yang terjadi diantara mereka. Mereka mantan rival cinta.


Seno memerima uluran tangan Salsa dan berjabat sekilas, dia menatap Salsa lalu menatap Azka. "Kau menikahi kakaknya dan sekarang mantan kekasihmu jadi adik iparmu. Takdir cinta yang rumit!."


Azka tertawa, untung antrian tamu sudah lenggang, jadi mereka bisa berbincang cukup lama. "Bukankah ini jalan untukmu. Aku yakin kamu jodohnya!."


Seno tersenyum. "Sekali lagi selamat. Aku tidak bisa lama-lama. Oh ya, aku akan datang lagi saat kalian memiliki anak!."


Pria itu turun dari pelaminan, dia terlihat menyapa Dirga dan Danar. Kemudian setelahnya Seno keluar dari ruang pesta.


"Kalian mantan rival?," tanya Salsa.


"Itu dulu. Sekarang mungkin akan menjadi saudara!."


"Maksudnya?."


Azka menatap istrinya dengan lembut, tanpa Salsa sangka, suaminya itu mengecup bibirnya sekilas. "Kau akan tahu nanti!."


Pesta berlangsung hingga pukul satu siang. Perlahan tamu mulai meninggalkan acara. Dan kini hanya tersisa keluarga inti yang masih ada disana. Azka dan Salsa sudah turun dari pelaminan, mereka kini bergabung dengan para keluarga.


"Kamu lapar?," tanya Azka pada istrinya. Salsa mengangguk, "Baiklah, aku akan minta pelayan membawakan makanannya ke kamar kita!."


"Kenapa harus ke kamar? Makan disini saja, makanannya masih banyak!."


"Kamu pasti tidak nyaman dengan gaunnya. Sejak tadi aku melihatmu sedikit risih!."


Alasan yang masuk akal, Salsa memang sedikit tidak nyaman dengan gaunnya. Gaun pas bodi itu terkesan mengikat tubuhnya dengan erat. Ditambah sepatu hak tinggi yang membuat kakinya ngilu karena berdiri terlalu lama. Tapi dia juga paham alasan Akza sebenarnya.


"Baiklah, kita makan ke kamar saja," tutur Salsa.


Azka tersenyum sumringah, wajahnya terlihat sangat berbinar. "Kalau begitu, ayo kita ke kamar!."


"Ck ingat, masih siang. Nggak sabar banget nunggu malam!," celetuk Saga.


"Iya Bang, lagian masih banyak keluarga loh. Masa penggantinya mau ngilang!," imbuh Dirga. Dia sengaja menggoda putranya.


"Ayah seperti tidak pernah muda saja. Pengantin baru, pastinya ingin berduaan terus. Ayah ingin punya cucu segera kan? Jadi jangan protes!."


Wajah Salsa memerah malu, bisa - bisanya suaminya berkata demikian. "Mas!!."


"Memang benar kok. Ayah itu malah lebih parah. Walaupun sudah tua dia itu--!."


"Sudah-sudah, sana kalian istirahat," potong Gita. Bisa malu dia jika Azka membuka kartunya didepan Salsa.


Anya dan Danar hanya bisa tersenyum melihat tinggal menantunya.


Azka tersenyum menang, dengan mesra dia menggandeng Salsa menuju kamar pengantin mereka. Ah, sebenarnya basi kalau dibilang malam pengantin. Toh semalam mereka sudah mencobanya.


Ceklek


Salsa menatap suaminya yang baru saja mengunci pintu. Azka nampak tersenyum menyeringai, dia seperti harimau yang siap menerkam mangsa.


"Katanya mau istirahat!," ucap Salsa


"Tentu, tapi setelah kita melakukan hal yang sangat melelahkan!."


Pria itu membuka jasnya, kemudian kemeja yang dia gunakan. Salsa terhipnotis dengan tubuh tegap suaminya. Otot - ototnya terlihat kencang dan menggoda.


"Kamu terpesona, hm?," Azka berjalan semakin mendekat. Kini tangannya sudah merengkuh pinggang sang istri. Pria itu mengecup sekilas bibir yang menjadi candunya itu.


"Kita belum mandi, badanku terasa lengket dan gerah!," ucap Salsa beralasan. Sebenarnya dia takut tergoda duluan. Malu kan jadinya,


Sret


Tangan Akza berhasil menurunkan resleting dibagian belakang gaun istrinya. Dengan menurunkan lengan gaunnya sedikit, baju itu langsung luruh ke lantai.


Azka menatap takjub tubuh mulus sang istri. Meski bukan pertama kali, Azka tak pernah bosan disuguhi pemandangan cantik itu. Apalagi bagian favoritnya yang berisi, membuat istrinya terlihat seksi.


"Kamu selalu saja mesum!."


Azka terkekeh, "Mesum denganmu, aku malah dapat pahala."


Azka mematung kala tangan istrinya berinisiatif membuka ikat pinggang yang dia kenakan. Bahkan dengan berani, Salsa membuka celana yang Azka kenakan.


"Kamu sudah mulai nakal," ucap Azka dengan nada serak.


"Aku belajar darimu!."


Salsa melu*mat bibir Azka dengan lembut, tangannya menahan tengkuk pria itu agar ciuman mereka semakin dalam. Azka yang menerima perlakuan itu, tentu senang bukan kepalang. Tangannya sudah berada ditempat kesukaannya. Memberikan sentuhan yang semakin membuat istrinya terbang melayang.


Sesama insan dewasa, mereka hanya perlu mengikuti naluri. Bahkan dengan sendirinya saling memuaskan.


"Aku tidak tahan lagi, sayang. Bagaimana kalau kita bermain dikamar mandi? Bercinta dibawah guyuran air sepertinya akan menyenangkan."


"As you wish, honey!," sambut Salsa.