
Seno tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bro, kamu kejar setoran?," sindir Azka
"Masih kecil, Isyabel sudah mau punya adik," tambah Salsa.
Seno tersenyum, "Isya sudah besar, hampir setahun. Lagipula, banyak anak banyak rejeki," sahut Seno.
"Sudah, tidak apa-apa. Yang penting Salwa sehat. Mama dan Papa sangat senang karena cucu kami akan ada tiga," timpal Anya
Danar tersenyum, "Mama benar, kita akan punya tiga cucu."
"Selamat ya Sen, kamu akan memiliki anak lagi. Jaga dengan baik, kalau perlu, sediakan baby sister biar Salwa tidak kerepotan." ucap Gita
"Tidak perlu, biar Mama tinggal sementara dirumah kamu. Atau kalian yang pindah kerumah Mama."
"Loh, Ma. Kalau Mama kerumah Salwa, papa dirumah sama siapa?," protes Danar.
"Papa ikutlah. Atau Papa tunggal dirumah Salsa. Jadi pas, satu - satu."
Salsa terkekeh melihat Papanya menghela nafas pelan. "Sudah deh. Lebih baik Seno dan Salwa yang tinggal sementara dirumah Mama. Nggak masalah kan, Sen?," tanya Salsa.
Seno mengangguk, "Nanti aku tanyakan ke Salwa dulu. Memang sebaiknya kami tinggal dengan Mama dan Papa sementara, karena kehamilan Salwa kali ini berbeda dengan kehamilan Isya."
"Ya sudah, kalian rembuk dulu bagaimana baiknya."
Acara telah selesai, sebagian anak panti sudah pulang. Hanya tertinggal beberapa keluarga inti. Tak lama, Anya dan Danar juga berpamitan pulang. Begitupun dengan Maria yang juga akan kembali ke panti.
"Sebaiknya kamu istirahat, pasti capek kan setelah acara tadi," ucap Maria
Salsa mengangguk, "Maaf tidak bisa mengantar Bunda. Kalau ada waktu, kami akan mengunjungi Panti."
Maria tersenyum lalu membelai rambut putrinya, "Biar nanti Bunda yang kemari, kehamilanmu sudah besar. Jangan menempuh perjalanan jauh. Bisa - bisa, kamu kontraksi dijalan."
"Heheh, aku ngerepotin Bunda dong ya."
Suasana rumah sudah sepi, Gita dan Dirga juga sudah pulang. Jam menunjukkan pukul 2 siang. Salsa dan Azka sudah berada dikamar. Keduanya tengah beristirahat setelah menjalani serangkaian acara tujuh bulanan anak mereka.
Azka memperhatikan wajah cantik istrinya, sungguh, dia bahagia karena bisa kembali bersama istrinya. Apalagi sebentar lagi mereka akan memiliki anak.
Aku sungguh beruntung dipertemukan dan Berjodoh dengan kamu, sayang. Kamu melengkapi semua kekurangan yang aku punya.
"Mas, kamu belum tidur?," tanya Salsa yang kini membuka mata.
"Aku lebih suka menikmati wajah cantikmu daripada tidur."
Salsa tersenyum, "Kamu semakin hari semakin bisa saja menggombalnya."
"Siapa yang gombal. Aku serius sayang. Kamu terlihat cantik waktu tidur."
Salsa memeluk perut suaminya. "Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua. Aku akan menjadi ibu dan kamu akan menjadi ayah. Tugas kita baru akan dimulai. Dan aku ingin, kita menjalani semuanya bersama-sama. Manjaga, melindungi dan menyayangi anak-anak kita dengan penuh cinta dan kasih sayang. "
Azka tersenyum, "Tentu, kita akan menjadi orang tua yang menyayangi anak - anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dan aku akan belajar menjadi suami juga ayah yang baik untuk kamu dan anak-anak kita."
Salsa mengulas senyum, "Aku percaya kamu akan menjadi suami juga ayah yang baik. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, sayang."
Azka mencium kening Salsa dengan lembut. Tangannya terulur mengambil sesuatu dibawah bantal.
"Apa itu?," tanya Salsa penasaran.
"Ini hadiah istimewa untuk istriku tercinta." Azka membuka kota bludru berwarna merah tersebut. Salsa menutup mulut melihat apa isi dalam kota itu.
Sebuah kalung berlian dengan liontin huruf S yang terlihat begitu cantik. "Sayang, ini ...."
"Ini hadiah dariku untuk istriku tercinta. Kamu wanita pertama yang membuatku jatuh cinta. Kamu juga wanita pertama yang mengisi hati dan jiwaku. Kamulah wanita yang menemani disetiap langkahku disaat susah dan senang. Dan kamu juga wanita yang menjadi ibu dari anak-anakku. Kamu separuh nafasku. Kamu belahan jiwaku dan kamu adalah cintaku. Aku menyayangi dan mencintai kamu, Salsabila Safitri Adiaksa."