
Salsa terdiam, dia sampai lupa tujuannya pulang. Dirinya yang masih merasa bersalah pada Azka belum berani pulang kerumahnya.
"Kak, jangan melakukan hal bodoh lagi dengan pergi meninggalkan Azka. Aku kenal Azka seperti apa. Dia bukan tipe pria yang suka membagi cinta. Dia mencintaimu, bahkan jika dia sudah mencintai, dia akan menomorsatukan cintanya dari urusan apapun. Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, begitupun dengan Azka. Dia memang salah, tapi aku rasa, kesalahannya masih bisa dimaafkan. Jangan mengedepankan emosi dan ego yang membuat kamu menyesal kalau sampai kehilangan dia."
Salsa tersenyum sendu, "Kamu benar, Wa. Seharusnya aku mendengarkan dulu penjelasannya. Bukan malah lari seperti ini."
"Kalau begitu pulanglah kak. Bukan aku tidak senang kamu berada disini. Tapi kamu harus segera memperbaiki kesalahpahamanmu dengan Azka."
"Kamu benar. Aku harus segera pulang dan menyelesaikan semuanya."
Salwa tersenyum melihat antusias Salsa. "Kak!."
"Ya," Salsa menoleh pada adiknya.
"Azka belum tahu tentang kehamilanmu kan?," Salsa mengangguk, "Kalau begitu, buat kejutan untuknya. Aku yakin, Azka akan sangat senang bertemu denganmu lagi. Ditambah dengan dia yang akan segera menjadi ayah."
Benar juga, Mas Azka pasti senang jika aku memberinya kejutan.
"Tapi aku belum mempersiapkan apapun. Aku juga tidak tahu harus memberinya kejutan seperti apa."
"Kalau itu, serahkan saja pada suamiku!."
Seno yang baru memasuki kamar melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan senyuman istrinya. "Kamu pasti merencanakan sesuatu kan?," tebak Seno
"Bantu kak Salsa memberi kejutan untuk Azka. Kalau urusan kejutan, aku jamin kamulah ahlinya."
Seno menatap Salsa sok tak suka, "Kamu mau aku membantu kak Salsa bukan karena kamu masih menyimpan rasa untuk Azka bukan?."
Salwa mendelik, "Kamu ini jangan ngawur. Mana ada. Aku sudah Move on. Memang salah membantu saudara sendiri? Ish, padahal aku mau kasih kamu hadiah kalau kamu mau membantu kakakku."
"Sudahlah Wa, aku akan pikirkan sendiri kejutan apa yang akan kuberikan untuk suamiku."
Salwa melirik Seno dengan tajam, padahal pria itu hanya ingin menggoda istrinya. "Apa hadiah yang akan kamu berikan kalau aku berhasil membuat kejutan untuk kakak iparmu."
Salwa menyeringai, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Seno. "69," bisik Salwa.
Seno mendelik, siapa yang tidak paham maksud kata 69. Otaknya mulai berselancar kemana - mana. "Kak Salsa, biar urusan kejutan menjadi bagianku. Kamu tunggulah disini, aku segera menyiapkan semuanya!."
"Aku tagih hadiahku malam ini. Cup." Seno pergi dengan wajah berbinar setelah mengecup sekilas bibir istrinya. Salwa terkekeh melihat sikap suaminya yang menggemaskan.
"Heheh, maafkan aku kak. Kamu jangan iri padaku. Nanti kamu bisa melakukannya juga dengan Azka. Serahkan semua pada suamiku."
"Baiklah, aku percaya pada Seno," ucap Salsa. "Apa kamu tidak mau menyuruhku makan. Aku dan anakku lapar sekali."
"Astaga, keasyikan mengobrol jadi lupa. Duh, kasihan keponakan aunty kelaparan," kata Salwa sambil mengelus perut Salsa yang mulai terlihat buncit. "Ya sudah, ayo kita makan. Bibi pasti sudah selesai masak."
Berbeda dengan dua wanita yang tengah menikmati makan siang mereka. Seno kini sibuk merangkai kejutan untuk kakak iparnya. Dia sudah menghubungi Saga dan meminta pria itu bertemu.
"Tumben minta aku datang. Ada apa, Bang?."
"Aku butuh bantuanmu, Ga. Urgent!."
Saga terkekeh, "Tumben pak dosen butuh bantuan. Biasanya semuanya serba dilakukan sendiri."
Seno menatap Saga sebal, "Bagaimana bisa aku lakukan sendiri kalau ini menyangkut Abangmu."
Dahi Saga mengernyit, "Memangnya ada apa dengan Bang Azka? Dia sedang tidak ada disini."
"Kamu yakin? Padahal aku ingin membuat kejutan untuk membantu kak Salsa."
"Kak Salsa? Bukankah dia masih ada di Jember?."
Seno menertawai Saga, "Kak Salsa sudah kembali. Aku yakin Azka juga sudah kembali. Pasti sekarang dia sedang meratapi nasibnya yang menyedihkan."
"Aku bahkan tidak tahu hal ini." Saga mengambil ponselnya dan menghubungi Azka. Sayangnya tidak diangkat. Bagaimana bisa kak Salsa sudah kembali. Apa yang membuatnya berubah pikiran begitu cepat
"Kalau begitu, bantu aku. Kak Salsa ingin memberikan kejutan pada Azka untuk menebus rasa bersalahnya. Dan istriku memintaku mengurus kejutan itu. Jadi, kamulah orang yang tepat yang bisa membantuku."
"Aku masih belum memahami situasinya. Tapi aku akan membantumu." Seno tersenyum, "Jadi, apa yang bisa aku bantu!."
*
*
*
Kira - kira, apa yang akan direncanakan dua pria itu ya? Kejutannya akan berhasil atau tidak ya?