Night Destiny

Night Destiny
Hancurnya Salwa



"Salwa, jaga ucapanmu. Yang kamu hina itu adalah anakku!."


Deg


Salwa membeku, dia menoleh pada Mamanya yang baru saja datang.


"A-apa maksud Mama. Dia anak Mama? Bukankah hanya aku anak Mama. Bagaimana bisa dia juga anak Mama?."


"D-dia, putri Mama yang hilang sejak bayi!."


Salwa kembali membeku, dia tersenyum miris. "Jadi, istri dari kekasihku adalah kakakku sendiri. Takdir macam apa ini?."


Salwa tak mampu membendung air matanya. Ia mulai terisak. Kenapa takdir begitu menyakitkan seperti ini. Dia menatap Salsa dengan nanar, "Kamu? Orang yang merebut Azka dariku. Kamu juga merebut semua kebahagiaanku. Dan sekarang, kamu juga akan merebut orang tuaku? Hahahah, hebat bukan. Kamu menghancurkan hidupku sehancur - hancurnya!," lirih Salwa


Salsa sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Sebagai sesama wanita dia iba melihat adiknya terluka. Tapi dia juga tidak bisa menolak takdir. Azka - pun tidak mau kembali pada Salwa. Wanita 26 tahun itu beralih menatap ibu kandungnya. Ah, benarkah dia ibu kandungnya? Rasanya masih sulit mempercayai semuanya. Ini pertemuan pertamanya dengan wanita itu. Wanita yang melahirkannya, wanita yang disebut ibu. Orang yang sangat ingin Salsa temui selama ini. Namun rasanya berat walau hanya sekedar untuk melangkahkan kaki pada wanita itu. Anya sendiri hanya mampu menatap putri kandungnya dengan perasaan rindu. Ingin sekali dia memeluk Salsa. Tapi sepertinya Salsa belum bisa menerimanya, dan ia sadar akan hal itu.


"Sal, Ayo pulang. Mama minta lupakan Azka, ya. Dia sudah bahagia bersama kakakmu!."


Salwa menggeleng, air matanya masih saja turun dari pipi. "Aku tidak bisa. Aku hanya mau Azka. Mama sudah pilih kasih, Mama sudah tidak menyayangi aku sejak dia kembali. Mama sudah berubah. Bahkan Mama memintaku mengalah demi dia. Bukankah seharusnya, seorang kakak yang harus mengalah pada adiknya. Kenapa harus aku yang mengalah?!."


"Itu karena aku mencintai Salsa. Kami tidak mungkin berpisah hanya karena kamu, Sal. Tolong mengertilah. Kita sudah tidak bisa bersama lagi!," ucap Azka


"Maafkan aku, Sal. Maaf karena aku menyakitimu. Tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Pernikahanku dengan Azka awalnya memang karena kesalahan. Tapi pernikahan bukankah permainan yang bisa dimulai dan di akhiri begitu saja. Dan kami memutuskan untuk tetap bersama!."


Salwa tersenyum getir, "Itu karena kamu serakah, Salsa. Jelas kamu tidak mau melepaskan Azka. Dia tampan, mapan dan kaya. Kamu tidak mungkin melepaskan tambang emas yang sudah kamu raih dengan susah payah, bukan?."


"Salwa, kenapa kamu berbicara begitu pada kakakmu. Jaga sopan santun kamu, Mama tidak pernah mengajarkanmu berbicara kasar pada orang yang lebih tua!."


Salwa menatap Mamanya sekilas, "Mama jahat. Mama sudah tidak memikirkan perasaanku. Hanya Salsa, Salsa dan Salsa. Semua orang meng-elu elukan Salsa tanpa melihat kehancuran hatiku. Kalian semua jahat!."


"Salwa!!."


Anya memanggil putrinya yang keluar begitu saja. Sebagai seorang ibu, dia paham bagaimana perasaan Salwa. Tapi dia tidak bisa memaksakan perasaan bukan.


"Azka ... Boleh tante berbicara dengan istrimu sebentar?."


Salsa menatap Azka, seolah bertanya apa yang harus dia lakukan. Azka mengangguk, dia membiarkan istrinya berbicara dengan Anya. Orang yang paling Salsa nanti kehadirannya sejak lama.


"Tapi, apa tidak sebaiknya tante mengejar Salwa dulu? Dia terlihat kacau!," ucap Salsa.


Anya menggeleng dan tersenyum miris, dia ingin dipanggil ibu, bukan tante apalagi oleh anak kandungnya sendiri, "Dia hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan ini!."


"Jadi, apa boleh aku berbuat denganmu? Sebentar saja."


Azka menatap Salsa lalu mengangguk.


Kini mereka duduk di sofa ruang tamu. Keduanya tampak diam tanpa suara. Dengan perasaan campur aduk, Salsa melirik sekilas ibu kandungnya. Wanita paruh baya itu terlihat masih segar dan cantik. Setelah Salsa amati, wajahnya memang cukup mirip dengan dirinya.


"Maafkan, Mama!."


Deg


"Maafkan Mama yang baru bisa menemukanmu. Maafkan Mama yang tidak pernah ada dalam hidupmu selama ini. Maafkan atas ketidakberdayaan Mama, Maaf atas semuanya. Maaf ....!," Anya tergugu. Salsa sendiri tidak tega melihat ibunya yang menangis tersedu. Tapi langkah kakinya begitu berat,


"K-kamu pasti sulit memaafkan kami, kan? Mama maklum, kesalahan kami padamu begitu besar. Bahkan hanya sekedar mencarimu kami tak mampu!."


Salsa kembali teringat hidupnya di panti asuhan. Sejak kecil dirinya sakit-sakitan itulah kenapa tidak ada yang mau mengadopsinya. Maria dengan berbesar hati merawatnya seperti anak kandungnya sendiri. Walau kasih sayang wanita itu harus terbagi untuk anak-anak lainnya. Bahkan saat tidak ada donatur yang menyambangi mereka, Salsa harus mengalah untuk adik-adiknya. Kekurangan makan, uang jajan, sudah hal lumrah yang Salsa alami. Dia bahkan turut bekerja paruh waktu untuk membantu keuangan panti. Hingga tabungan yang ia miliki cukup untuk membuat handcraft, dan penghasilan Salsa mulai stabil setelahnya. Dia mengira orang tuanya sudah tiada. Selama belasan tahun, dia berharap akan ada yang datang membawanya pulang. Tapi semua hanyalah asa. Nyatanya hingga dia dewasa tidak ada yang mencarinya. Tapi rupanya, dia punya keluarga. Bahkan keluarganya hidup dengan sangat nyaman. Bolehkan dia marah pada takdir?


"Tolong katakan sesuatu, Nak. Mama ingin tahu apa yang kamu rasakan."


Salsa mengusap sudut matanya, "Aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Aku bingung, aku bimbang, sedih dan juga kecewa. Aku mungkin bisa memaafkan semuanya. Tapi untuk melupakannya, aku belum bisa. Maaf, aku hanya manusia biasa. Aku juga punya sisi rapuh dan luka. Aku harap tante mengerti!."


Anya kembali meneteskan air mata, tapi dia tidak mau terlihat lemah dihadapan putri kandungnya. Sebisa mungkin Anya menahan semua gejolak di hatinya. Dia tidak akan menyerah sampai Salsa menerimanya.


"Mama paham, Mama tidak akan memaksa kamu menerima Mama sekarang. Tapi ... bolehkan Mama memelukmu sekali saja!."


Salsa terdiam, dia juga ingin. Melihat wajah memelas ibunya, akhirnya Salsa mengangguk.


"Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah mengizinkan Mama memelukmu. Mama bahagia bisa memeluk kamu. Mama selalu menantikan saat-saat ini tiba. Mama bahagia!."


Salsa ikut terharu, dia juga meneteskan air mata. Ada perasaan hangat yang menjalar ke seluruh hatinya. Perasaannya yang selama ini ia inginkan. Pelukan seorang ibu.


*


*


"Kenapa takdirku begitu menyedihkan, Ya Allah. Tidakkah aku boleh bahagia. Kenapa dia datang dan merebut semuanya. Aku membencinya, aku membencimu, Salsa. Aku akan merebut semuanya kembali. Aku akan merebutnya darimu!!."


Salwa melajukan mobilnya ke kantor Danar. Karena hanya Papanya-lah yang selalu menenangkannya ketika dirinya marah. Hanya Dana yang akan membelanya. Jika Mamanya sudah tidak mendukungnya, maka Salwa akan meminta dukungan Papanya. Sebagai anak kesayangan, Salwa yakin Danar akan memihak dirinya.


Salwa langsung masuk kedalam kantor Papanya. Banyak karyawan yang menyapanya, namun Salwa abaikan. Dia memasuki lift dan naik ke lantai 5.


Ting


Salwa langsung berjalan menuju ruangan Dnaar berada,


"Papa ada, Mbak Ratih?," tanya Salwa pada sekertaris Papanya.


"Ada, Mbak. Tapi beliau masih ada tamu. Mau saya buatkan minum sambil menunggu?."


"Beleh. Minta minuman dingin ya Mbak!."


"Iya Mbak!."


Setelah sekertaris Danar pergi, Salwa berjalan mendekati pintu. Biasanya dia akan mengintip di celah kaca. Namun ternyata pintunya tidak ditutup rapat.


Siapa sih, tamu Papa.


"Aku setuju dengan idemu. Aku yakin Salwa akan bahagia. Aku selalu menyayanginya walau dia bukan putri kandungku!."


Deg