
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa besok adalah hari dimana Azka dan Salsa akan mengadakan resepsi pernikahan mereka. Balroom hotel milik Azka sudah di dekor dengan sangat apik. Nuansa putih kental sekali dengan tema yang mereka pilih. Tidak main - main dengan acara tersebut, Azka bahkan tidak peduli berapa banyak biaya yang harus dia keluarkan.
"Kamu suka dengan dekorasinya kan?."
Salsa mengangguk, dia terharu bahkan matanya berkaca - kaca. Salsa memang pernah memimpikan sebuah pernikahan yang meriah. Tapi yang sekarang terjadi malah jauh lebih meriah dari impiannya. Tidak pernah terbayang seorang Salsa yang berasal dari panti asuhan akan bersanding dengan Azka Ibrahim, pengusaha muda, tampan dan mapan yang menjadi idola kaum hawa.
Pelaminan yang mempesona, dekorasi yang sangat megah. Siapa yang tidak menyukainya. Apalagi dia akan duduk bersanding disana besok.
"Ini bahkan sangat mempesona, Mas. Aku sendiri tidak pernah membayangkan akan menikah di tempat dan dekorasi semewah ini."
Azka merengkuh tubuh sang istri, "Ini tidak seberapa dibanding aku yang mendapatkan wanita sempurna seperti dirimu, sayang."
"Aku tidak sempurna, Mas. Tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Aku hanyalah wanita biasa yang beruntung bisa bersanding denganmu. Menjadi istrimu dan dicintai olehmu adalah sebuah anugerah yang Allah berikan."
Azka tersenyum kecil, "Aku menganggapmu keberuntungan, kamu pun sebaliknya. Artinya kita adalah dua insan yang saling mensyukuri pasangan masing-masing. Aku harap kedepannya selalu demikian. Kehidupan rumah tangga kita baru saja akan dimulai. Akan banyak halangi yang menanti dan harus kita hadapi. Seperti yang pernah aku ucapkan, aku tidak butuh apapun, aku hanya butuh kepercayaan darimu."
Salsa mengangguk, dia menatap suaminya dengan senyum yang lembut. "Aku akan berusaha menjadi istri yang selalu mendukungmu dalam suka dan duka. Menjadi tempat kamu berkeluh kesah dan menjadi tempatmu pulang. Aku akan memberikan kamu kepercayaan seperti yang kamu minta, Mas. Dan aku berharap kamu tidak akan pernah menyia-nyiakan kepercayaan yang aku berikan."
"Aku janji, apapun yang terjadi, aku akan selalu menjaga kepercayaan darimu. Akan selalu ada saat kamu membutuhkanku dan akan selalu menemanimu dalam susah dan senang."
Berbeda dengan kebahagiaan yang mereka rasakan. Seseorang mengepalkan tangan melihat pemandangan romantis tersebut. Dia segera melangkahkan kaki menjauh dari mereka.
Kita lihat, apakah kebahagiaan akan bertahan lama. Ucapnya menyeringai
*
*
Semua keluarga besar sudah berkumpul di hotel milik Azka. Azka sendiri menyediakan kamar khusus untuk keluarga dan tamu undangan.
Azka juga sudah menyiapkan hidangan mewah untuk tamunya yang sudah datang dari luar kota. Malam ini akan diadakan makan malam bersama. Azka sengaja mengadakan acara ini untuk mempererat keakraban dengan semua keluarga besarnya. Bunda Qomariah, Pak Ali dan juga anak-anak panti juga sudah bergabung bersama mereka.
Berbagai menu lezat sudah tersaji diatas meja.
Dirga tampak berbincang bersama beberapa rekan kerjanya. Sedangkan yang lain sudah menunggu di meja makan.
Para keluarga langsung menatap kedatangan sang pengantin. Azka terlihat gagah dengan setelah kemeja dan celana santainya. Salsa pun terlihat begitu anggun dengan dress lengan selutut yang memperlihatkan sebelah bahunya.
"Ini dia yang ditunggu sudah datang," celetuk Gita.
"Benar. Padahal kami sudah menunggu sejak tadi, eh penggantinya malah baru keluar kamar," sahut Anya bercanda.
Azka tersenyum memandang istrinya, "Harap maklum, kalian tahu sendiri kan? Pengantin baru pasti ingin berduaan terus." Salsa hanya tersenyum malu,
"Jomblo tahu apa. Makanya cari pasangan," balas Azka.
"Sudah-sudah, jangan berdebat. Ka, ajak Salsa duduk."
Ada dua kursi kosong disamping Salwa dan Anya. Azka melirik raut wajah adik iparnya.
"Bolehkan, kami duduk bersama Bunda Maria?," tanya Azka.
"Tentu saja boleh, Ka. Ya sudah temani Bunda Maria saja," jawab Gita.
Azka tersenyum puas dalam hati melihat raut wajah kesal Salwa. Dia segera menggandeng tangan istrinya menuju meja Bunda Maria berada.
"Selamat malam, Bunda," sapa Azka.
"Malam, Nak. Kalian mau duduk disini?," tanya Maria agak sungkan. Pasalnya dimeja sebelah adalah keluarga ini Azka dan Salsa.
"Bunda kan juga keluarga kami. Jadi wajar kalau kami duduk bersama Bunda," ucap Salsa.
"Ya sudah, silahkan duduk," Pak Ali menyahut.
Salwa mengepalkan tangannya, dia merasa dongkol karena Azka menolak duduk disampingnya. Acara makan malam sudah dimulai. Berbagai hidangan lezat yang dimasak khusus koki terkenal sudah tersaji diatas meja.
Dengan perasaan bahagia, mereka menikmati hidangan yang telah tersaji. Salsa yang melihat anak-anak begitu lahap memakan makanan mereka merasa terharu.
Azka menggenggam tangan sang istri, dia paham dengan apa yang Salsa rasakan.
"Terima kasih sudah memberi mereka kebahagian, ya Nak Azka."
Azka tersenyum, "Mereka juga keluargaku Bun, merek adik - adik Salsa, yang artinya juga adik-adikku juga."
Maria mengusap sudut matanya. Dia ikut bahagia karena Salsa menemukan pria yang baik. Selain baik, Azka juga perhatian pada keluarga Salsa.
Salwa tidak tahan melihat kebahagiaan Azka dan Salsa. Dia memilih keluar dari ruang makan.
"Ma, aku mau ke toilet sebentar," pamit Salwa pada Anya. Perempuan paruh baya itu mengangguk, lalu melanjutkan makan malamnya.
Salwa menyusuri lorong menuju toilet. Namun langkahnya berhenti dan dia justru memutar arah. Kakinya tak lagi melangkah kesana, melainkan ke ruangan lain.
Suasana begitu sepi, dia membuka engsel pintu dengan pelan. Memperhatikan sekitar dan memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Perempuan itu tersenyum menyeringai, dia melangkah kedepan.
"Aku pastikan acara kalian akan batal!."
*
*
Kira-kira apa yang dilakukan Salwa ya?