
Hubungan Azka dan Salsa semakin terlihat harmonis. Bahkan keduanya akan mengadakan resepsi pernikahan tiga minggu lagi. Azka menyerahkan semua pada Bundanya, Gita, juga pada WO terbaik untuk mengurus pesta pernikahannya bersama sang istri. Kabar bahagia itu tentu disambut baik oleh keluarga Ibrahim. Dan rencananya, hari ini Salsa juga akan memberitahukan kabar ini pada orang tuanya. Hari ini Salwa sudah diizinkan pulang, dan Salsa akan ikut menjemput Salwa pulang dari rumah sakit.
Azka tidak bisa menemani istrinya karena harus metting bersama klien. Jadi Salsa kerumah sakit diantar oleh sopir mertunya.
Setelah tiba dirumah sakit, perempuan berusia 26 tahun itu berjalan dengan anggun menuju ruangan adiknya dirawat. Banyak pasang mata yang terpesona akan kecantikan Salsa. Tentu saja, selain cantik wanita itu juga ramah. Salsa sesekali tersenyum ketika berpapasan dengan seseorang yang memandangnya.
Ceklek
Salsa masuk kedalam ruangan adiknya, disana dia melihat beberapa tas sudah siap. Salwa sendiri sedang diperiksa Dokter.
Anya yang melihat kedatangan putrinya langsung menghampiri wanita tersebut. "Kamu akhirnya datang, sayang!."
"Iya, Ma. Maaf agak lama, tadi dijalan macet sekali!."
"Tidak masalah, Salwa juga baru diperiksa Dokter. Papa sedang mengurus administrasi dibawah. Kamu sendirian?," tanya Anya yang tidak melihat menantunya.
"Mas Azka ada metting jadi tidak bisa ikut."
Jawaban Salsa membuat Salwa sedikit kecewa. Padahal dia ingin sekali melihat Azka.
"Kondisinya sudah semakin baik. Jangan lupa obatnya rutin diminum dan kontrolnya setiap minggu ya."
"Baik, terima kasih dokter."
"Sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu."
Setelah kepergian dokter yang memeriksa Salwa, Danar juga datang setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit. Tak lupa diikuti seorang suster yang membawa kursi roda.
"Kamu sudah datang, Nak?."
"Sudah Pa. Baru saja."
"Semuanya sudah selesai kan?," Anya mengangguk. "Kalau begitu ayo kita pulang."
Danar dibantu suster membawa Salwa untuk didudukkan di kursi roda. Kemudian pria paruh baya itu mendorong kursi roda putri keduanya keluar dari ruangan. Diikuti Anya dan Salsa membawa tas milik Salwa.
Setibanya di lobi rumah sakit, sopir Danar segera membukakan pintu. Danar kembali membopong putrinya memasuki mobil dan mendudukannya di kursi tengah. Salsa dan Anya juga menyusul dan duduk disamping Salwa. Dan Danar sendiri duduk didepan bersama sopirnya.
Perjalanan dari rumah sakit menuju rumah terasa begitu lama karena macet yang berkepanjangan. Setelah hampir satu jam, merekapun tiba diperumahan mewah yang menjadi tempat tinggal Danar.
Ini kedua kalinya Salsa datang ke rumah ini. Jika yang pertama dia tidak sempat masuk kedalam. Kali ini dia akan masuk dan mengetahui seperti apa rumah yang menjadi tempat tinggal kedua orang tua dan adiknya.
"Hati-hati, Pa," Danar mengangguk, dengan langkah pelan namun pasti, dia menggendong Salwa menuju kamar gadis itu.
Salsa menatap sekeliling, kamar Salwa begitu mewah seperti kamar putri di kerajaan dongeng. Luasnya mungkin 6x luas kamarnya yang ada di panti. Ranjang besar, lemari berjejer rapi, meja hias bahkan semua yang ada dalam kamar adiknya serba mewah.
"Kamu istirahat dulu ya, sayang. Mama dan kakak mau kebawa dulu."
"Kalian tidak mau menemaniku disini? Kita baru saja pulang, dan kalian akan meninggalkanku sendirian?," tanya Salwa.
"Bukan kami tidak mau menemani kalian. Tapi kamu harus banyak istirahat supaya cepat pulih. Kamu mau segera beraktivitas seperti biasanya kan," Salwa mengangguk, "Makanya kamu harus banyak istirahat. Nanti Mama akan kemari lagi."
Anya membawa Salsa ke ruang tengah. Disana sudah ada Danar yang sepertinya memang menunggu mereka.
"Duduk dulu, sayang."
Salsa mengangguk, dia duduk disamping Mamanya, sedangkan Papanya ada di seberang mereka.
"Ini pertama kalinya kamu kerumah ini kan? Kamu mau melihat-lihat rumahmu?."
"Rumahku?," tanya Salsa heran
"Iya, rumah ini kan juga rumahmu. Bahkan ada kamarmu juga disini. Kamu mau melihatnya?."
"Maaf Ma, sebenarnya aku tidak bisa lama-lama disini. Aku akan kantor Mas Azka mengantar makan siang."
Raut wajah Anya berubah kecewa, Salsa yang menyadari hal itu langsung membujuk ibunya. "Besok-besok aku akan sering datang kemari. Mama jangan sedih, ya!."
Anya tersenyum, "Ya sudah. Kamu kan sudah bersuami, jadi kamu bukan cuma milik Mama. Kamu punya tanggung jawab terhadap suamimu."
"Terima kasih karena Mama sangat pengertian. Oh ya, Ma, Pa. Sebenarnya aku kemari juga ingin memberi tahu jika aku dan Mas Azka akan mengadakan resepsi pernikahan kami."
Danar menatap putrinya, "Benarkah? Kapan?."
"Tiga minggu lagi."
"Kenapa mendadak sekali, apa tiga minggu cukup untuk mempersiapkan semuanya?," kini Anya yang bertanya.
"Semua sudah di urus sama Bunda Gita dan WO. Jadi Mama tidak perlu khawatir. Aku hanya meminta restu kalian."
Anya sebersit rasa kecewa dihati Anya. Sebagai seorang ibu, dia juga ingin ikut mempersiapkannya pernikahan putrinya. Namun apa mau dikata, mereka baru saja bertemu. Sikap Salsa juga masih sedikit canggung padanya dan suaminya. Jadi Anya hanya bisa pasrah. Lagipula Gita sudah pasti bisa menyiapkan semuanya dengan sangat baik.
"Ya sudah. Mama dan Papa hanya bisa mendukung apapun yang kalian lakukan. Papa doakan semoga kamu selalu bahagia. Azka adalah pria yang baik, Papa yakin kamu bisa bahagia bersamanya!."
"Benar, Mama juga sangat yakin, Azka mampu membahagiakanmu. Sebagai orang tua, kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu dan keluarga kecilmu."
"Terima kasih doanya, Ma, Pa. Aku juga berharap rumah tanggaku dengan Mas Azka akan selalu bahagia."
Anya memeluk putrinya, "Pasti, kalian pasti bahagia. Kalian saling mencintai. Mama yakin, sekuat apapun badai yang mengantam rumah tangga kalian nanti, dengan cinta yang kuat, semua pasti mampu kalian lewati. Kepercayaan dan komunikasi adalah kunci dari sebuah kebahagiaan. Jangan pernah mengambil keputusan apapun disaat diri sedang emosi. Bicarakan semua dengan baik dari hati ke hati. Semua masalah akan selesai jika dibicarakan dengan baik. Azka tidak akan tahu apa isi pikiran kamu begitupun sebaliknya, jadi komunikasi sangat penting. Tidak ada rumah tangga yang luput dari masalah. Pertengkaran akan menjadi bumbu yang semakin mengeratkan cinta kalian.
"Terima kasih, Ma. Aku akan selaku mendengar nasehat Mama."
"Sama-sama, sayang. Sebagai seorang ibu, tentu Mama ingin melihat putri Mama bahagia."
Salsa mengangguk dan tersenyum, "Kalau begitu, aku pulang dulu ya Ma, Pa. Sopirnya Bunda sudah ada didepan."
"Sering-seringlah main kemari. Mama ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu."
"Pasti, kalau begitu aku pulang dulu."