
"Ma, aku akan pergi bersama bayiku."
Deg
Jantung Anya berdetak tak karuan, pergi? Pergi kemana? Bahkan mereka belum setahun bertemu kembali.
"M-mau pergi kemana, sayang? Kamu mau meninggalkan Mama dan Papa lagi? Kita belum setahun bersama," lirih Anya.
Salsa menggenggam tangan sang ibu, ia tahu bagaimana perasaan Anya sekarang. Namun Salsa juga harus mengambil sebuah keputusan. Terlepas dari benar atau tidak anak perempuan itu anak Azka atau bukan. Yang jelas Azka sudah membohonginya dan Azka mengingkari janjinya untuk selalu jujur dan terbuka.
"Ma, aku butuh waktu menenangkan diri. A-aku harus menenangkan diriku sendiri. Apalagi sekarang kondisiku yang sedang hamil. Mama pasti paham betul, aku butuh suasana nyaman, tentram dan yang pasti bisa membuatku bahagia. Jika aku tetap disini, aku tidak yakin bisa bertahan."
Jawaban Salsa seakan jadi tamparan bagi Anya. Ia hampir saja bersikap egois karena memikirkan dirinya sendiri. Padahal Salsa benar, dia harus bahagia dan tidak boleh stres, karena ada calon cucunya di rahim Salsa.
"Baiklah, Nak. Tapi Mama minta, kamu memberitahu dimana kamu akan pergi. Biarkan kami yang mengantarkanmu."
"Papa juga setuju," ucap Danar memasuki kamar, pria paruh baya itu duduk disamping istri dan anaknya. "Kamu boleh pergi untuk menenangkan diri tapi kami harus tahu dimana kamu akan tinggal nanti."
Salsa memeluk kedua orang tuanya, "Terima kasih karena kalian mendukung keputusanku. Aku minta, jangan beritahu siapapun soal kepergian juga tentang kehamilanku. Jika waktunya tiba, aku pasti akan kembali."
"Baiklah, sayang. Kami akan mendukung apapun keputusan kamu," ucap Anya sambil membelai lembut kepala putrinya. "Apa rencanamu sekarang dan kapan kamu akan pergi?."
"A-aku ....!"
*
*
*
*
Wajah Danar terlihat dingin, sebenarnya dia enggan mengantar Salsa kerumah Dirga. Namun Danar sadar, Dirga dan Gita mungkin tidak tahu apa - apa tentang kelakuan putra mereka.
"Papa tidak mau ikut masuk?," tanya Salsa sekali lagi.
Danar menghela nafas dalam, "Papa tidak mau sampai emosi dan menggagalkan semua rencanamu. Papa akan langsung pulang dan menyiapkan semuanya."
Salsa mengangguk, wanita itu turun dari mobil. Tangannya melambai ketika mobil Papanya berjalan semakin menjauh. Salsa menghela nafas, mungkin ini terakhir kalinya dia akan datang kerumah ini.
"Kak, kamu datang sendirian?," tanya Saga yang kebetulan berada diteras.
Salsa mengulum senyum, "Kamu lihatnya bagaimana?."
Saga tidak berkata lagi. Dia mengikuti kakak iparnya yang memasuki rumah.
"Eh, anak Bunda sayang. Sayang, Bunda kangen banget loh," heboh Gita. Dia langsung memeluk dan mencium pipi Salsa. "Azkanya mana? Dia nggak ikut?."
Salsa hanya memberikan gelengen.
Gita langsung membawa menantunya ke ruang makan. Dia juga memerintahkan bibi untuk memanggil Dirga.
Tak lama Dirga pun datang. Pria itu tersenyum melihat menantunya datang. Tapi sama seperti Gita, Dirga celingak - celinguk mencari keberadaan putra pertamanya.
"Abang nggak ikut!.", ucapan Saga sudah menjawab pertanyaan Dirga.
Pria paruh baya itu duduk didepan menantunya. Sementara Salsa dan Gita duduk bersebelahan.
"Bunda kebetulan masak makanan kesukaan kamu. Bunda kayak punya feeling kalau kamu mau datang. Ayo makan yang banyak."
Jika biasanya Salsa langsung makan dengan lahap. Berbeda dengan sekarang. Menatap semua makanan itu, air mata Salsa justru berlomba ingin keluar. Namun sebisa mungkin dia menahannya.
"Bun ....!"
"Iya sayang, kenapa?."
"Aku boleh minta suapi Bunda?."
Gita tersenyum, ia mengangguk dengan antusias. Berbeda dengan Saga yang merasakan keanehan. Tidak biasanya Salsa makan minta di suapi Bunda.
"Menantu Ayah manja sekali. Apa sudah ada kabar baik?," pertanyaan Dirga membuat Salsa menatap sang mertua. Mungkin sebagai kakek, Dirga bisa merasakan kehadiran cucunya.
"Doakan saja, Yah."
Dirga hanya membalas senyuman sang menantu. Dia kembali melanjutkan makannya. Sementara Saga, dia sama sekali tidak melepaskan tatapan dari sang kakak ipar. Sebagai orang yang memiliki kepekaan tinggi, Saga sangat yakin jika ada yang Salsa sembunyikan.
"Mau nambah, sayang?."
"Tidak Bunda. Aku sudah kenyang. Senang sekali bisa makan masakan Bunda. Entah kapan lagi aku bisa makan semua makanan ini."
"Kamu ini ngomong apa sih? Kalau kamu mau makan masakan Bunda, tinggal kabari saja. Dengan senang hati Bunda akan masak buat kamu."
Makan malam terasa hangat. Mereka mengobrol sesekali tertawa ringan.
Usai makan malam, Salsa berpamitan pulang. Karena tidak membawa mobil, Saga berinisiatif mengantar kakak iparnya tersebut.
Awalnya, suasana terasa hening. Salsa dan Saga sama - sama dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kak ....!"
"Ya?," sahut Salsa sembari menoleh ke arah adik dari suaminya itu.
"Kamu tidak akan meninggalkan Bang Azka kan?."
Deg