Night Destiny

Night Destiny
Kegundahan Salsa



Jangan tanya bagaimana perasaan Salsa sekarang? Tidak hanya kecewa, Salsa juga merasa dibohongi. Tidak, semua masih belum jelas. Alika memang nama seorang perempuan, tapi belum tentu dia kekasih atau wanita simpanan Azka.


Berusaha tenang, Salsa kembali melajukan mobilnya. Sudah setengah jalan, dia tetap melanjutkan perjalanannya menuju panti.


Mobilnya sudah masuk ke pekarangan panti, rumah yang dulu usang, kini sudah nampak sangat layak untuk ditinggali. Tidak hanya rumah, halaman dan semuanya juga berubah. Tentu saja semua karena Azka dan Salsa. Bahkan setiap bulan, sumbangan dari donatur melebihi cukup untuk memenuhi kebutuhan panti.


"Kak Salsa!."


Salsa merentangkan tangannya melihat Gabriel berlari ke arahnya. Pria cilik itu terlihat semakin berisi.


Hap


"Sayang, kamu semakin besar dan berat," kelakar Salsa.


Gab menyengir, "Heheh, aku selalu makan enak. Makanya aku sehat dan besar."


Salsa menggandeng tangan Gab memasuki rumah, "Loh, Nak. Kamu datang?." Maria langsung menghampiri putrinya. Dia melihat ke belakang, tidak ada Azka disana. "Kamu sendirian?," Salsa mengangguk sebagai jawaban.


"Gab kamu ganti baju dulu ya. Terus langsung keruang makan."


Pria kecil itu mengangguk antusias. Kini hanya ada Salsa dan Maria. Perempuan paruh baya itu langsung membawa sang putri ke kamarnya. Dia tahu Salsa sedang tidak baik-baik saja. Dia hafal betul dengan putrinya.


"Ada apa? Kamu bertengkar dengan Azka?," tanya Maria langsung.


Salsa menatap ibu asuhnya lalu menunduk, haruskah dia bercerita tentang dugaannya? Tapi semua masih belum jelas.


"Oh ya, Bunda sering lihat Azka didaerah sini. Tapi Bunda tidak berani menyapanya. Dia terlihat sibuk. Apa sedang ada proyek didaerah ini?," pertanyaan Maria membuat Salsa menatap wanita itu. Jadi benar, Azka memang sering ke kota ini?


"Bun ....!"


"Ada apa, Nak?."


"Mas Azka ... Aku merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku."


Maria menggenggam tangan Salsa, dia bisa melihat raut kegundahan diwajah cantik putrinya. "Kecurigaan tanpa bukti namanya su'udzon dan jatuhnya akan jadi fitnah. Sebaiknya kamu bertanya langsung pada suamimu. Mungkin dia sedang ada masalah yang dialami, berburuk sangka itu tidak baik."


Salsa menghela nafas, "Mas Azka bersikap baik-baik saja didepan ku. Dia tetap baik dan perhatian seperti biasa. Tapi sebagai seorang istri, aku tahu ada yang tidak beres dengannya. Bukankah feeling seorang istri selalu benar?."


"Tap - -!."


"Bunda, Kak Salsa, ayo makan. Semua sudah menunggu dimeja makan!," teriak Gab dari luar pintu. Maria mendesah pelan, "Baik Nak, kami akan segera menyusul."


Maria menatap Salsa, "Kita bicarakan nanti lagi, sekarang ayo kita makan dulu."


Walau malas, Salsa tetap mengikuti Maria menuju ruang makan. Dia sana anak-anak sudah berkumpul, dimeja oval itu semua anak sedang menunggu makanan masing-masing. Disebelah meja mereka ada meja khusus untuk pengasuh balita dan juga para pekerja. Salsa dan Maria bergabung disana, setelah membantu membagikan makan untuk semuanya.


Anak - anak makan dengan lahap, menu yang tersaji memang lebih baik daripada dulu, lihatlah wajah polos mereka. Perasaan Salsa menghangat, dia pernah berada diposisi ini. Dan beruntung, sekarang mereka semua bisa hidup dengan sangat layak.


"Jangan melamun, makan makananmu." ucapan Maria membuat Salsa menatapnya. Dia mengangguk lalu menyuap makanan itu kedalam mulutnya. Namun baru masuk, perut Salsa terasa dikocok lepas. Mual mulai menghampirinya. Dengan segera ia izin ke kamar mandi. Salsa sengaja menuju kamar mandi tengah agar tak mengganggu kamar mereka. Setibanya dikamar mandi, perempuan itu memuntahkan makanannya. Mulutnya terasa pahit dan tubuhnya perlahan lemas.


Ada apa denganku? Tadi aku baik - baik saja. Bathin Salsa.


"Wajah kamu terlihat pucat. Kamu baik-baik saja?," tanya Maria khawatir.


"Kak Salsa pasti sakit. Wajahnya kayak Dani kemarin, putih dan merah."


Yang Gab maksud adalah wajah pucat.


Maria membenarkan, "Benar kata Gab. Kamu sangat pucat. Kita kerumah sakit ya?."


"Tidak usah Bun, aku baik-baik saja kok," sahut Salsa tersenyum.


"Kak Salsa, kata Bunda, Gab tidak akan tinggal disini lagi."


Salsa menoleh pada pria kecil disampingnya. "Benarkah Bun?," tanya Salsa memastikan.


Mari mengangguk, "Kaluarga kandung Gab memintanya kembali."


Salsa membawa Gab dalam pelukannya. Beginilah suka duka berada dipanti asuhan. Kita harus siap berpisah jika ada yang akan mengadopsi salah satu anak disana. "Gab harus jadi anak yang baik ya. Jangan nakal. Turuti semua perintah ayah dan bundanya Gab. Dan jangan lupa sholat dan belajar."


"Siap kak. Gab akan selalu ingat pesan kakak."


Salsa mengacak rambut pria kecil berusia 7 tahun itu.


"Gab harus tidur siang. Sekarang kembali ke kamar ya sayang," perintah Maria langsung dilakukan oleh Gab.


Maria kembali memandang Salsa. "Mau lanjut yang tadi?."


Ingin sekali, tapi kepala Salsa tiba-tiba pening. Dan mood untuk bercerita pun sudah hilang. "Aku mau pulang, Bun. Mungkin lain kali aku akan cerita."


"Kamu yakin akan pulang. Wajahmu pucat sekali, apa tidak sebaiknya kamu menginap saja. Nanti Bunda akan kabari Azka."


"Aku baik-baik saja, Bun. Beneran deh, aku sehat. Lagipula perjalanan cuma dua jam. Nggak akan capek."


Mau tak mau Maria mengiyakan. Dia mengantar Salsa sampai ke teras. Salsa melambaikan tangannya ketika mobilnya mulai keluar dari pekarangan.


Melaju dengan kecepatan sedang, Salsa merasa kepalanya semakin pening. Tubuhnya juga tiba-tiba kembali lemas. Tak mau mengambil resiko, perempuan cantik itu mencari klinik ataupun tempat pemeriksaan yang ada disepanjang jalan.


Mobilnya berhenti disebuah klinik yang cukup besar. Salsa mengira itu klinik umum, dia tidak sadar jika yang dikunjunginya adalah klinik kandungan. Setelah membawa tasnya, perempuan itu masuk.


"Tolong dijaga kandungan istrinya ya, Pak."


"Baik, dok!."


Deg


Suara itu?


*


Hayo mikir apa?