
"Aku mengantar istriku kemari karena aku menghargai perasaannya. Aku juga menghargai kalian sebagai orang tuanya. Tapi aku tidak akan pernah lupa, bagaimana kau membuat bayi kami mati!!!."
Deg
Danar menatap menantunya dengan sendu. Raut bersalah jelas tergambar diwajah sayunya.
"A-aku minta maaf Ka, aku tidak bermaksud membuatnya pergi. Aku--!."
"Maafmu tidak akan mengembalikan dia lagi!," potong Azka cepat, "Jika saja kau tidak bertindak ceroboh. Saat ini kami masih berbahagia menanti kehadiran anak kami. Tapi semua harapan kami hancur karena perbuatanmu. Kau bahkan tidak tahu betapa hancurnya istriku. Bagaimana sedihnya dia kehilangan buah hatinya. Kau tidak akan tahu semua itu, tidak. Heh," Azka tertawa sumbang, "Kau tega membunuh cucu kandungmu sendiri hanya demi membela anak angkat kesayanganmu itu!."
Deg
Danar kembali membeku, ucapan Azka memang pelan, bahkan Anya dan Salsa tak mungkin mendengarnya. Darimana Azka tahu Salwa adalah anak angkatnya, selama ini Danar tidak pernah membahas hal ini pada Azka.
"Mas, kamu tidak mau memeluk putri kita?," Danar mendekati Anya dan Salsa, sebelum Azka berbisik sesuatu padanya.
"Kalau sampai istriku menderita karena Salwa. Aku pastikan kalian tidak akan melihat Salsa lagi!."
Danar tetap berjalan ke arah anak dan istrinya. Berusaha menghilangkan perasaan gelisah atas perkataan Azka.
Danar menatap putri kandungnya dengan sendu. Rasa bersalah kembali bercokol dihatinya.
"Mas ....!"
Anya dan Salsa terperanjat saat Danar berlutut didepan putri kandungannya.
"A-apa yang anda lakukan, bangunlah," Salsa membantu Danar berdiri. Pria itu terlihat menangis tanpa suara.
"Maaf ... Maafkan Papa, Nak. Maafkan semua kesalahan Papa. Papa begitu berdosa padamu, Papa juga telah menghancurkan hidupmu. Papa bahkan membuat bayimu pergi. Semua salah Papa, salah Papa!."
Salsa tergugu, jujur dia belum bisa melupakan bayinya. Tapi melihat Papanya begitu bersalah, membuatnya tak tega.
"Aku sudah memaafkan Papa. Aku sudah ikhlas atas kepergiannya. Aku sudah memaafkan semua yang terjadi. Aku ingin memulai hidup baru dengan tenang. Jadi, mari lupakan semua yang sudah berlalu."
"Katakan apa yang harus Papa lakukan untuk menebus kesalahan Papa padamu. Katakan, Nak. Katakan agar Papa menjadi lega."
Salsa menggeleng, "Tidak perlu, Pa. Aku tidak mau Papa melakukan apapun. Kita hanya perlu saling memaafkan dan memulai hidup dengan damai kedepannya."
Danar memeluk putri kandungnya, putrinya yang hilang beberapa jam setelah dilahirkan dua puluh enam tahun yang lalu.
"Terima kasih sudah memaafkan Papa. Papa janji akan menebus semua waktumu yang hilang."
Anya ikut terharu, dia memeluk suami dan anaknya. Keluarga kecil itu akhirnya berkumpul setelah puluhan tahun terpisah.
"Ka, terima kasih sudah membawa putriku kemari. Terima kasih sudah menjaganya untuk kami. Kami percayakan Salsa padamu. Kami yakin, kamu bisa membuatnya bahagia."
Azka hanya mengangguk, dia enggan terlibat dengan keharuan keluarga sang istri.
Tanpa mereka sadari, Salwa melihat semuanya. Dia melihat bagaimana sayangnya Akza pada kakaknya. Juga bagaimana bahagianya Danar dan Anya bertemu kembali dengan putri kandung mereka. Perempuan itu hanya mampu menangis tertahan.
"Nak, Mama beritu merindukanmu. Bagaimana kalau kalian tinggal dirumah kami?."
"Tidak bisa," sahut Azka tegas, "Maaf sebelumnya. Tapi aku dan Salsa sudah memutuskan untuk hidup mandiri. Kami juga sudah memiliki rumah sendiri. Lagipula, kalian bisa mengunjungi kami ataupun sebaliknya. Tapi kalau untuk tinggal bersama, aku tidak setuju!," tolak Azka.
"Mas Azka benar, Ma. Kami memutuskan untuk hidup mandiri. Jadi maaf, kami tidak bisa memenuhi permintaan Mama untuk tinggal bersama."
"Sudahlah, Ma. Biarkan mereka hidup mandiri kita bisa sering-sering mengunjungi mereka jika rindu," timpal Danar.
Anya hanya mengangguk pasrah. Sebenarnya dia ingin menebus waktunya yang hilang bersama Salsa. Tapi apalah daya, benar juga ucapan suaminya. Dia bisa mengunjungi Salsa kapanpun dia mau.
"Ma ... Pa ....!"
"Salwa!."