
Setelah menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah menceraikan Salsa. Azka benar-benar membuktikan ucapannya. Dia mencari Salsa tak kenal waktu. Pekerjaan juga pencarian sang istri adalah prioritasnya sekarang. Azka tak patah semangat mencari dimana keberadaan istrinya.
Setiap hari dia menyempatkan diri mengunjungi rumah sang mertua walau selalu nihil hasil yang di dapatnya.
"Kamu tidak bosan setiap hari kemari?," tanya Danar dengan sinis. Setiap pagi dia selalu disuguhi kehadiran sang menantu yang tak pernah menyerah untuk mencari tahu keberadaan putrinya.
"Saya belum menyerah. Tidak mau menyerah dan tidak akan pernah menyerah!," jawab Azka dengan tegas.
"Cih, mau sebesar dan sekuat apapun kegigihan kamu sekarang. Saya tegaskan, saya tidak akan pernah memberitahu dimana keberadaan Salsa."
Azka hanya mampu menghela nafas, pria itu segera berdiri dan berpamitan pada mertuanya.
"Aku permisi dulu, Pa. Besok aku akan datang lagi."
Danar hanya menatap biasa kepergian menantunya. Berbeda dengan Anya yang menatap Azka iba.
"Mas, tidakkah kita beritahukan saja dimana keberadaan Salsa."
Danar menoleh pada sang istri. "Tidak. Biarkan dia menderita dulu. Lagipula, tiga hari belum cukup untuk membuktikan kesungguhannya."
Anya hanya bisa menghela nafas. "Terserah kamu saja. Kamu kalau sudah mengambil keputusan mana mau mendengarkan orang lain."
Danar hanya mengedikkan bahu melihat kepergian istrinya.
"Biar saja. Biar pria bodoh itu tahu rasa! Yang penting anakku aman dan nyaman."
Di Jember,
Sudah tiga hari Salsa berada dikota pelajar ini. Dia begitu menikmati suasana desa dirumah Aryanto dan Sarmila, teman Mamanya. Berada di desa, membuat dirinya begitu tenang. Walau sudah lebih sedikit sawah yang ada karena pembangunan perumahan. Namun Jember menurutnya masih cukup asri.
"Kamu belum mau keluar?," tanya Bu Karmila.
Salsa tersenyum seraya menggeleng, "Aku ingin menikmati suasana disini dulu, Bi. Lagipula, aku malas untuk jalan-jalan kemanapun."
Sarmila tersenyum, wanita berusia 52 tahun itu membelai kepala Salsa dengan lembut. "Apapun yang ingin kamu lakukan, lakukan saja. Jaga kondisi dan suasana hati kamu agar selalu bahagia. Dengan begitu anakmu juga akan bahagia."
Salsa kembali tersenyum, walau dia terlihat nyaman dan tenang berada disini. Tapi tidak dengan hatinya. Jujur, dia merindukan Azka. Apalagi setelah Anya menceritakan semuanya. Namun nasi sudah menjadi bubur, Salsa sudah terlanjur kecewa pada suaminya. Seandainya Azka mau terbuka dan jujur sejak awal, maka mereka dipastikan masih bisa bersama.
"Nanti malam ada kereta kelinci. Banyak warga sini yang naik sambil membawa anak-anak mereka. Rutenya dari sini sampai alun - alun Rambipuji. Lumayan untuk sekedar refreshing. Kamu tidak mau mencobanya?," tanya Pak Aryanto yang bergabung dengan mereka.
"Pasti ramai sekali ya Paman?."
Yanto mengangguk, "Tentu saja. Sampai di alun - alun, biasanya nanti kereta akan berhenti sejenak. Kamu bisa membeli cemilan yang jual disana. Banyak sekali makanan atau cemilan yang bisa kamu beli. Dan Paman yakin, kamu pasti akan menyukainya."
Salsa mengangguk antusias, kapan lagi dia bisa merasakan mormn seperti itu.
"Nduk, Mamamu memberitahu kami yang sebenarnya. Kamu tahu kan? Kami menerimamu dengan tangan terbuka. Kami juga senang kamu mau tinggal disini. Tapi menurut Paman, apa tidak sebaiknya kamu pulang. Masalahmu dengan suamimu sebenarnya bisa diselesaikan. Semua terjadi hanya karena kesalahpahaman."
Salsa menatap Yanto sekilas, yang dikatakan Yanto memang benar. Tapi keputusan Salsa sudah bulat.
"Saya sudah terlanjur kecewa dengan ketidakjujurannya, Paman. Saya masih belum bisa melupakan bagaimana perhatiannya suami saya pada wanita itu. Walau semua yang dia lakukan hanyalah sebuah bentuk tanggung jawab. Tetap saja dia bersalah karena menutupi hal ini dariku."
Yanto dan Mila saling berpandangan, "Kami tidak bisa memaksamu. Semua keputusan ada ditanganmu. Kamu pasti tahu apa yang terbaik untuk rumah tanggamu. Tapi kalau bisa, jangan mengedepankan ego. Semua bisa rusak karena keegoisan"
Salsa terdiam, apakah dirinya egois? Tidak. Dia sudah mengambil keputusan yang benar. Anggap saja ini hukuman yang Salsa berikan pada suaminya agar dilain waktu, Azka tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Aku hanya memberikan hukuman kecil padanya sekarang. Tapi aku akan memberinya hadiah saat pulang nanti."