Night Destiny

Night Destiny
Makan Siang Bersama



Salwa membuka mata, dia melihat sisi ranjangnya kosong. Seulas senyum langsung terbit dari bibirnya.


Dia pasti terkejut dan langsung pergi setelah sadar apa yang kami lakukan semalam. Ah, rasanya sungguh luar biasa. Kami bahkan mengulanginya hingga pagi. Semoga saja aku akan mengandung anak Azka. Dengan begitu, aku bisa menikah dengannya.


Salwa mengambil rekaman video dari kamera yang dia pasang di sudut meja. Rekaman yang menjadi bukti kalau dirinya dan Azka sudah melakukan hubungan badan.


Salwa langsung masuk kedalam kamar mandi. Dia menatap pantulan dirinya didepan cermin dengan senyum lebar. Banyak sekali tanpa merah yang bertengger dileher dan dadanya.


"Azka sungguh luar biasa. Aku yakin aku akan segera mengandung anaknya!."


*


*


Azka memandang istrinya dengan senyum lebar. Salsa masih terlelap meski hari sudah siang. Untung saja sekarang hari sabtu. Azka tidak harus ke kantor dan masih bisa memandang wajah cantik istrinya.


"Sudah bangun?," tanya Azka dengan lembut.


Salsa tersenyum tipis, "Kamu sudah bangun daritadi?."


Azka mengangguk, "Lumayan lama untuk menatap wajah cantikmu saat tidur."


Salsa menatap suaminya dengan lekat, "Kalau sudah bangun daritadi, kenapa belum mandi?."


"Aku menunggumu, sayang. Lagipula masih pagi. Masih jam sembilan."


Salsa melebarkan mata, "Kenapa aku tidak dibangunkan? Hari ini kita akan kerumah Ayah dan Bunda," ucapnya panik.


"Masih banyak waktu, sayang. Kita kan janjian makan siang dengan mereka. Ini masih pagi!," jawab Azka yang malah mengeratkan pelukannya.


"Tapi aku sudah janji sama Bunda mau masak bersama!."


Azka tak menghiraukan, dia malah asyik membenamkan wajahnya kedada sang istri.


"Bangun, ih!."


"Iya, dia bangun lagi. Tuh, liat!," ucap Azka sambil menunjuk King dibawah sana.


Salsa mendelik, ya ... King sudah bangun lagi. Padahal sejak semalam sudah dia manjakan.


"Kebiasaan, ga ada puasnya!."


Salsa menyentil King yang langsung mendapat ringisan dari si pemilik. "Sayang, jangan kdrt sama King. Dia masa depan kita. Sakit nih!."


"Uluh - Uluh, King sakit ya? Sini, aku elusin!."


Azka menyeringai. Dia membalik tubuh istrinya dan langsung melakukan penyatuan.


"Kebiasaan, ga pemanasan dulu!," gerutu Salsa.


"King suka yang spontan. Lebih menggigit!."


Dua insan itu kembali menikmati indahnya memadu kasih di pagi hari.


Entah yang keberapa kali akhirnya mereka sudah menuntaskan kegiatannya. Keduanya bersiap menuju rumah Dirga karena akan makan siang disana.


"Bi, Bibi ikut kami kerumah Bunda saja ya daripada makan siang sendiri disini," ajak Salsa.


Salsa memang memanggap pembantunya seperti neneknya sendiri. Bahkan mereka selalu makan bersama dimeja makan yang sama.


"Saya disini saja, Non. Kalian pergi saja."


"Ya sudah, jangan lupa makan ya Bi. Kami pergi dulu!."


Azka segera melajukan mobilnya ke rumah Dirga. Senyuman manis selalu terulas dari wajah keduanya. Walau usia pernikahan mereka baru seumur jagung. Tapi keduanya selalu tampak bahagia.


"Loh, ada mobil Papa juga!," ucap Salsa yang melihat mobil Danar terparkir di garasi rumah Dirga.


Keduanya turun lalu melangkah masuk kedalam rumah.


"Ini dia yang ditunggu sudah datang."


Gita menghampiri anak dan menantunya, disana juga ada Dirga, Danar, Anya dan Salwa. Gadis itu terlihat berbeda, lebih berbinar dan selalu menampilkan senyum manisnya.


Ada apa dengannya, bathin Azka.


"Karena menantu kesayanganku sudah datang. Jadi para perempuan akan pergi ke dapur. Bapak - bapak silahkan mengobrol disini!."


Para wanita langsung menuju dapur. Salsa dengan sigap membantu Gita menyiapkan bahan masakannya. Anya membantu mengupas bahan sedangkan Salwa hanya duduk manis dimeja makan.


"Salwa, bantuin Mama sini, daripada kamu diam saja disitu," perintah Anya


"Kan sudah ada kak Salsa, Ma. Lagipula aku tidak bisa memasak," tolak Salwa


Anya hanya menghela nafas,


Salwa langsung beranjak dari duduknya Setelah mendapat perintah tak langsung dari Gita, dia keluar dari dapur dan hendak menuju taman disamping rumah. Namun saat tidak melihat Azka diruang tamu, Salwa mengurungkan niatnya kedepan. Dia menoleh kanan kiri, memastikan tidak ada orang, Salwa naik ke lantai atas menuju kamar Azka.


Dengan perlahan Salwa membuka pintu kamar, dia melihat Azka sedang memejamkan mata diatas ranjang.


Dia pasti kelelahan karena semalam, ucap Salwa dalam hati.


Dengan langkah begitu pelan, Salwa merebahkan diri disamping Azka. Menatap pria itu dengan lembut.


Kita akan segera bersama, Ka. Seperti impian kita dulu.


Salwa memejamkan mata, entah berapa lama akhirnya dia terlelap.


"Bang, bangun!," ucap Saga pelan.


Azka mengusap matanya kemudian menatap adiknya dengan kesal, "Kamu mengganggu saja!."


"Lihat siapa yang tidur disampingmu!."


Azka terbelalak, bagaimana bisa Salwa tidur dikamarnya dan sejak kapan.


"Sial, dia benar-benar nekat!."


Azka segera beranjak keluar kamar. Dia dan Saga langsung masuk kedalam kamar di bungsu.


"Kamu harus lebih peka dan hati-hati, Bang. Dia lebih licik dari yang kamu kira. Untung aku datang, bagaimana kalau kakak ipar yang datang! Dia bisa salah paham!."


Azka mengusap rambutnya kasar, "Aku tidak menyangka dia akan senekad ini, Ga!."


"Berhati-hatilah mulai sekarang, jangan memberinya celah sekecil apapun itu!."


"Tentu, terima kasih sudah mengingatkanku!."


Aku tidak boleh tinggal diam, aku harus melakukan sesuatu. Bathin Azka


"Mas, aku cari kamu dikamar tidak ada. Rupanya kamu disini," ucap Salsa.


Azka dan Saga saling tatap, jantung keduanya berdetak begitu cepat.


"K-kamu dari kamar?," tanya Azka


Salsa mengernyit, "Iya, memangnya kenapa? Kamu seperti suami yang baru menyembunyikan selingkuhan saja!."


"Kakak ipar mencari kami, apa makan siangnya sudah siap?," tanya Saga mengalihkan pembicaraan. Apalagi melihat wajah Azka yang sempat menegang.


"Sudah dari tadi. Semua sudah berkumpul di meja makan."


"Semua?," cicit Azka


"Ya semua! Ayah, Bunda, Papa, Mama dan Salwa!."


Azka bernafas lega, dari ucapan Salsa, artinya dia tidak melihat Salwa tidur dikamarnya.


"Ayo, semua sudah menunggu kalian."


Azka menggandeng lengan istrinya menuju dapur. Sedangkan Saga mengekor dibelakangnya. Rupanya benar, dimeja makan sudah ada semua orang termasuk Salwa yang tersenyum ke arah Azka dengan penuh arti.


"Darimana saja sih kalian? kami sudah menunggu lama," keluh Dirga.


"Biasa Yah, aku dan Abang ngobrol santai dikamar."


"Ya sudah, ayo makan. Silahkan dinikmati makanannya, semua Salsa yang masak loh!," ucap Gita


"Dibantu Bunda dan Mama juga," sahut wanita cantik itu.


Mereka makan siang dengan nikmat. Sesekali Salwa melirik ke arah Azka yang selalu tersenyum dengan istrinya. Tanpa sadar tangannya mengepal dan hal itu tak luput dari pandangan Saga.


"Apa Kak Salwa belum ada calon?," celetuk Saga


Salwa menatap Saga tidak suka, lalu melanjutkan makannya.


"Sepertinya belum ada," sahut Anya


"Cepatlah Move on kak. Cari jodoh, jangan mau kalah dengan Bang Azka," tambah Saga


"Tunggu saja. Nanti aku kirim undangan khusus untukmu!," jawab Salwa dengan nada jengkel.


"Kamu sudah punya pacar?," tanya Anya penasaran.


"Lebih tepatnya mantan pacar. Dan sepertinya, kami akan CLBK," jawab Salwa dengan percaya diri.


Saga melirik mantan calon kakak iparnya, "Bagus itu. Asal jangan suami orang saja!."