
"Alika?," tanya Azka memastikan.
"Benar, beliau ada di lobi dan memaksa bertemu dengan Anda."
Azka menghela nafas, "Izinkan dia masuk!."
Saga, Redi dan Alvin saling lirik seolah bertanya lewat tatapan mata.
"Bos, kamu yakin mengizinkannya masuk?," tanya Alvin.
Azka menatap asistennya sejenak. "Bukankah Pak Darius akan datang? Masalah ini harus selesai sekarang juga."
Mereka tak ada yang membantah ucapan Azka. Pintu kembali diketuk dan tak lama Alika masuk kedalam ruangan.
"M-maaf mengganggu waktumu, tuan Azka. Saya hanya ingin - -!."
"Duduklah," Alika langsung menuruti titah Azka. Melihat banyak orang di sofa, Alika terlihat bingung mau duduk dimana. Saga dan Redi memutuskan pergi, sedangkan Alvin tetap disana untuk memastikan tidak akan terjadi apa-apa. Walau memang tidak akan terjadi apapun antara mereka. Sebagai asisten, dia memang harus berada disisi Azka bukan?.
"Maaf," lirih Alika membuka percakapan.
"Untuk apa?," tanya Azka datar.
Alika memandang pria didepannya. Pria yang merupakan atasan dari mertuanya. Pria yang tak memandang dirinya hina selain suaminya.
"Aku dengar, istrimu pergi karena kesalahpahaman antara kita. Aku merasa bersalah."
Azka tetap dengan wajah dinginnya. "Semua tidak ada sangkut pautnya denganmu."
"Tap ...."
"Masuk!," ucapan Alika terpotong karena ketukan pintu
Seorang pria paruh baya nampak memasuki ruangan. Wajahnya begitu jelas menampakkan keterkejutan.
"Mau apa kamu disini?," tanyanya sengit.
Alika hanya mampu menunduk, dia tidak menyangka akan bertemu mertuanya disini. Bagaimana bisa? Apakah ini kebetulan atau Azka sengaja mengundang pria ini kemari.
"Selama ini anda dikenal sebagai orang yang menjunjung tinggi kesopanan, tuan Darius. Tapi sepertinya hari ini, semua kabar itu terpatahkan oleh sikap anda."
Dairua membeku, dia hanya tidak menyangka bertemu menantunya dikantor bosnya sendiri. Darius memberikan tatapan tajam pada wanita itu. Hal itu tentu tak luput dari pandangan Azka.
"Maafkan saya tuan, Azka. Saya hanya terkejut melihatnya ada disini."
Azka menghentikan pekerjaannya, pria itu berdiri dan menghampiri Darius yang masih membeku ditempatnya.
"Duduklah dulu."
Darius mengikuti perintah bosnya. Dia duduk diseberang Alika, tentu tak lupa tatapan tajamnya yang terlihat begitu jelas. Alvin langsung keluar karena tidak memiliki hak untuk ikut campur masalah mereka.
Darius bungkam, rupanya kabar yang beredar tentang kepergian istri bosnya bukan gosip belaka. Dan semua ada sangkut pautnya dengan menantunya. Darius semakin menatap sinis wanita yang menjadi istri dari putranya itu.
"Sejak awal anda memang mengambil keputusan yang salah, tuan. Anda tidak seharusnya membantu wanita ini!."
Alika masih menunduk, bukan tak berani menatap sang mertua, namun dia sudah lelah terus - menerus dianggap hina olehnya.
"Bukankah sebagai manusia, kita diwajibkan saling membantu sesama?," perkataan Azka kembali membungkam mulut Darius.
"Kamu menolak Alika karena masa lalunya. Bukankah semua orang punya masa lalu? Dan setiap orang berhak memperbaiki hidupnya."
"Tapi dia adalah mantan wanita penghibur. Jelas tidak sepadan dengan putra saya, Dani."
Alika menggenggam erat roknya. Sedangkan Azka, dia menatap Darius dengan santai.
"Kenapa dengan wanita penghibur? Kalau kamu berfikir rasional, seorang perempuan tidak akan pernah mau menjual dirinya. Dia tentu punya alasan dibalik keputusannya tersebut. Lagipula selama mengenal Alika, aku lihat dia perempuan yang baik."
Hati Alika menghangat mendengar pujian Azka. Dia merasa dihargai sebagai seorang wanita.
"Anda sudah tertipu oleh wanita ini, tuan. Jangan percaya--!."
"Wanita yang selalu kau hina adalah menantu mu! Bahkan dia sedang mengandung cucumu!. Tidakkah kamu memiliki sedikit simpati padanya. Saat seorang istri hamil, tentu dia ingin didampingi suaminya. Tapi apa yang kamu dan keluargamu lakukan? Kamu melarangnya menemui suaminya. Kamu bahkan selalu berusaha mencelakai nya! Jika aku melaporkan perbuatanmu ke polisi, maka aku pastikan kau akan mendekam dipenjara.!."
Wajah Darius seketika pias, dia tidak menyangka jika Azka tahu semua perbuatannya.
"Orang yang terlihat buruk, tidak selamanya buruk. Dan orang yang terlihat sempurna, tidak selamanya sempurna. Kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja. Begitupun dengan menantu mu Alika. Kita bahkan tidak tahu, seberapa kerasa dia meminta ampunan pada Allah dan memperbaiki dirinya,"
Deg
Darius menatap menantunya yang masih menunduk. Benar apa yang Azka ucapkan, dia memang tidak tahu seberapa keras perempuan itu berusaha memperbaiki diri.
"Lagipula, seharusnya kamu berterima kasih, berkat Alika, putramu sembuh dari kecanduan narkoba. Mereka memang bukan pasangan sempurna, tapi mereka berusaha memperbaiki diri bersama. Menjadi manusia yang lebih baik lagi dan memiliki keluarga bahagia seperti orang pada umumnya. Aku sangat hancur karena kehilangan istriku. Hidupku seketika runtuh. Bahkan rasanya aku tidak mampu lagi menjalani kehidupanku sekarang. Jika saja tidak ada keluarga yang mendukungku untuk tetap kuat, mungkin aku akan berakhir ke rumah sakit jiwa. Apa kau mau putramu bernasib demikian?."
"M-maaf menyela ucapan kalian," Alika memberanikan diri berbicara. "Saya tahu, saya bukanlah wanita sempurna. Dan benar, saya memang tidak pantas bersanding dengan Mas Dani. Saya mencintai dia tanpa memandang dia siapa. Jadi, kalaupun saya harus pergi, saya tidak masalah."
Darius kembali memandang menantunya,
"Mas Dani berhak bahagia walau bukan dengan saya. Dia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Dan saya tidak khawatir jika meninggalkannya sekarang."
Azka menatap Darius yang tampak bimbang,
"Saya rasa masalah ini sudah selesai. Terima kasih, tuan Azka karena sudah membantu saya. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Selesai sudah semuanya. Harapan yang Alika bawa tadi seolah sirna begitu saja. Dirinya kembali ditakdirkan hidup seorang diri. Ah tidak, dia akan hidup berdua dengan anaknya kelak.
Wanita itu melangkahkan kaki menuju pintu,
"Tunggu ...," Alika berbalik dan menatap mertuanya, Darius menghela nafas panjang. "Aku ... Merestui hubungan kalian!."