
"Kamu tidak akan meninggalkan Bang Azka kan?."
Deg
Berhadapan dengan Saga bukanlah hal mudah. Pria satu ini sangat sulit dikelabuhi. Salsa hanya bisa menghela nafas lelah.
"Kamu tahu sesuatu?."
Diamnya Saga membuat Salsa yakin jika adiknya itu mengetahui sesuatu tentang Azka.
Salsa tersenyum getir, dia bak orang bodoh yang tidak peka dan tahu apa - apa tentang suaminya.
"Jangan terlalu lelah bekerja, Ga. Kamu juga harus meluangkan waktu untuk kencan. Cari pasangan hidup yang benar-benar memahami dan mengerti kamu luar dalam. Jaga Ayah dan Bunda juga."
Saga menatap kakak iparnya, ucapan Salsa sangat sarat akan sebuah kalimat perpisahan.
Kamu sudah melakukan kesalahan besar, Bang. Dan aku yakin, kamu akan menyesali semuanya nanti setelah orang yang kamu sayangi pergi.
Perjalanan selanjutnya hanya diisi keheningan. Saga menghargai apapun keputusan Salsa. Dan sekali - kali, Azka memenga perlu diberi pelajaran agar lebih peka.
"Terima kasih, kamu tidak mau mampir?."
Saga menggeleng, "Aku harus mengurus sesuatu."
Salsa tersenyum, "Tolong jangan cari tahu tentang aku ya, Ga. Aku yakin, kamu bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain."
Saga membeku, ia sangat paham dengan kalimat yang Salsa ucapkan.
"Jaga diri baik-baik, kak. Kalau ada apa-apa dan kamu butuh bantuan, aku selalu siap membantumu kapanpun itu."
"Terima kasih sekali lagi. Kalau begitu, aku masuk dulu."
"Kak!."
Salsa kembali menoleh ke arah Saga, "Jaga keponakanku dengan baik."
Perempuan itu mengulas senyum tipis, "Pasti."
Salsa benar-benar turun dari mobil Saga. Perempuan itu masuk kedalam rumah. Dan Saga segera meninggalkan kediaman kakaknya.
Wanita cantik itu memandangi setiap inci rumahnya. Senyuman miris menghiasi sudut bibirnya. Tanpa sadar, Salsa menitikkan air mata.
Hatinya perih kala mengingat bagaimana perhatiannya Azka pada wanita bernama Alika tersebut.
Jangan menangis, Sal. Bukan saatnya untuk bersedih. Kamu kuat, dan kamu pasti bisa melewati semuanya. Gumam Salsa menyemangati dirinya sendiri.
Dengan langkah pelan, Salsa memasuki kamarnya. Dia kembali menatap ruangan yang dimana menjadi saksi kebahagiaannya bersama sang suami. Namun apa mau dikata, ketidakjujuran Azka merusak semua kepercayaannya.
Salsa segera mengambil barang - barang yang menurutnya penting. Dia tidak mengambil pakaian sama sekali, Danar sudah menyiapkan semuanya. Dan malam ini juga dia akan pergi.
Ting
Salsa membuka ponselnya, dia menatap layar datar itu dan terlihat pesan masuk dari Papanya. Danar sudah ada didepan, itu artinya, audha waktunya dia pergi.
Selamat Tinggal, Mas. Semoga kamu menjadi pribadi yang lebih baik setelah ini.
Salsa berjalan keluar rumah. Dia memasuki mobil sang Papa dan sekali lagi, dia memandang rumah yang hampir setahun dia tinggali bersama Azka.
Salsa mengangguk, "Ayo pergi."
*
*
Alvin berjalan mondar mandir seperti setrika rusak. Ana yang melihat tingkah putranya dibuat geleng-geleng kepala.
"Vin, berhentilah mondar mandir, Bunda lelah melihatmu seperti itu!."
"Ck, bunda tidak paham situasinya. Ini gawat darurat!."
"Terserah lah. Dasar anak muda!."
Alvin kembali menghubungi bosnya, namun kembali tidak dijawab. Hingga entah panggilan yang keberapa puluh kalinya, akhirnya Azka mengangkat teleponnya.
[Hallo Bos],
[Kamu kenapa menelponku puluhan kali. Ada masalah dikantor?]
[Bukan masalah kantor, Bos.]
[Lalu?]
[A-aku tidak sengaja mengatakan soal Alika pada nona Salsa]
Tut
Panggilan dimatikan sepihak. Alvin hanya mampu berdoa semoga rumah tangga bosnya baik - baik saja.
Sementara di kota B, Akza langsung mengumpat.
"Bagaimana bisa Alvin secerobih ini! Sial, Salsa pasti salah paham."
"Ada apa?," tanya wanita muda disamping Azka.
"Istriku tahu tentangmu. Dan aku yakin, dia sudah salah paham terhadap kita!."
"Pulanglah. Selesaikan masalahmu, aku bisa menjaga diri."
"Tapi - -!."
"Pergilah. Jangan sampai kamu kehilangan orang yang kamu cintai!."
Azka segera masuk kedalam mobil. Dia menghubungi Salsa namun tidak satupun panggilannya yang dijawab.
"Sayang, angkat teleponnya!."
Namun sayang, puluhan panggilan sama sekali tidak terjawab. Azka mengemudi dengan kecepatan tinggi. Pikirannya hanya tertuju pada Salsa.
Sesampainya dirumah, Azka langsung naik ke kamar mereka. Namun sayang, istrinya tidak ada disana. Dengan langkah lebar, Azka menuruni tangga.
"Kak Salsa sudah pergi!."
Deg