
Azka menelan ludah kasar. Memanjat pohon mangga dan mengambil buahnya yang paling atas. Astaga, apakah harus sampai begini derita suami yang istrinya sedang ngidam.
"Sayang. Kamu beneran mau aku memanjat?," Salsa mengangguk, "Terus kamu mau aku jatuh?."
"Ya nggak mau lah. Gimana sih, kalau kamu jatuh kan aku yang repot. Katanya tadi janji bakal melayani apapun kebutuhan aku. Belum apa-apa udah berdoa jatuh begitu. Jangan - jangan kamu nggak niat ngomong kayak tadi."
Azka gelagapan, "Bukan gitu, sayang. Kamu sayang sama aku kan?," Salsa hanya menatap datar suaminya. "Kamu juga tahu kan, kalau aku nggak bisa manjat. Bukannya dapat mangga yang ada aku malah jatuh, sayang."
Salsa menatap wajah Azka yang terlihat memelas. Benar juga, suaminya tidak bisa memanjat, kalau malah jatuh, bagaimana nasib dia dan bayinya.
"Ya sudah. Mas nggak usah manjat. Tapi kamu harus buatkan rujak mangga yang enak buat aku."
Seketika senyum Azka mengembang. "Kalau cuma buat rujak, serahkan pada suamimu yang tampan ini."
Salsa tersenyum, dia memeluk suaminya lagi. Rasanya, belum selesai melepas rindu dengan pria tampan itu. Entah pukul berapa akhirnya keduanya sama-sama masuk kedalam alam mimpi.
*
*
Pasangan calon Ayah dan Ibu itu terlihat begitu bahagia. Azka tak melepaskan gandengan tangannya bahkan ketika dirinya menyetir mobil. Senyuman pria itu terus terbit mengiringi kebahagiaan yang kini dia rasakan.
"Anak Bunda, datang!," teriak Gita yang langsung menghampiri anak dan menantunya yang bahkan belum turun dari mobil.
"Bunda senang kalian datang kemari," ucap Gita yang langsung memeluk Salsa begitu menantunya itu keluar dari dalam mobil.
"Kamu tidak kerja, Ka?," sapa Dirga yang masih duduk sambil menikmati teh hangatnya.
"Ibu hamil sedang ngidam. Lagipula, kami baru bertemu lagi, tentu aku tidak akan menyia - nyiakan waktu untuk terus bersama Salsa."
Dirga tersenyum, "Ya sudah, ayo kita masuk. Kalian pasti belum sarapan kan? Kita makan bersama."
Azka mengangguk, sementara Gita lebih dulu membawa menantunya masuk dan menuju meja makan.
"Bunda melupakan anaknya sendiri," celetuk Azka
"Ck, jangan iri pada istri sendiri."
"Tentu tidak, Yah. Tidak masalah Bunda lebih menyayangi Salsa daripada aku. Yang penting, Salsa mencintaiku!."
"Bucin!."
Ayah dan anak itu menyusul istri - istri mereka menuju meja makan. Salsa dan Gita terlihat duduk manis, menunggu makanan disajikan.
"Ayah, Azka, ayo duduk. Kita makan bersama."
Dua pria beda generasi itu menempati kursi masing-masing. "Saga mana, Bun. Dia tidak dipanggil?," tanya Azka.
"Saga sudah berangkat kerja pagi-pagi. Katanya ada meeting penting."
"Ya sudah, sekarang ayo kita makan."
Mereka menikmati sarapan masing-masing. Azka menepati janjinya, dia melayani sang istri dan memberikan apa yang wanita itu mau.
"Sudah, Mas. Kan sebentar lagi mau makan rujak. Jadi nggak boleh kenyang - kenyang."
"Kamu pengen rujak?," tanya Dirga
"Iya, Yah. Lagi pengen yang seger - seger. Dibelakang rumah ada mangga kan? Aku pengen makan rujak mangga."
Gita tersenyum, "Nanti minta mang Udin ambilkan mangganya. Biar Bunda yang buatkan bumbunya."
Salsa menggeleng, "Bayinya lagi pengen makan rujak mangga buatan papa Azka."
Gita dan Dirga saling pandang lalu tersenyum, "Ya sudah. Sekarang selesaikan makannya dulu. Agak siangan, nanti kamu minta buatkan rujak sama suamimu."
Mereka kembali melanjutkan memakan sarapan masing-masing. Setelah sarapan, Gita mengajak menantu mengobrol. Begitupun dengan Azka yang ikut nimbrung seolah tak ingin jauh dari Salsa. Padahal yang wanita - wanita itu bahas masalah kehamilan.
" Mas, pengen rujaknya sekarang."
Azka tersenyum, "Ya sudah. Aku kedapur dulu ya, buatin kamu rujak. Mang Udin udah ngambil mangganya tadi."
Salsa tersenyum senang, "Ya udah cepetan."
Azka berdiri dan hendak melangkah,
"Mas. Aku mau mangganya di parut kasar. Jangan lupa ditambah irisan cabe dan jeruk. Tambahin gula sedikit aja."
"Baik tuan putri!."
Salsa sudah tak sabar memakan rujak mangga itu. Sesekali dia menelan ludah membayangkan betapa segarnya kuah mangga muda tersebut.
Tak lama Azka datang membawa mangkok yang tentunya berisi pesanan istrinya.
"Silahkan."
Salsa tersenyum lebar melihat pesanannya sudah jadi. Gita meringis melihatnya, warna kuahnya sedikit memerah bercampur hijau. Tentu perpaduan cabe dan jeruk nipisnya.
Salsa mengambil sendok dan langsung menyuap mangga kedalam mulutnya.
"Bagaimana, enak?," tanya Azka penasaran.
"Enak!."
Azka tersenyum lega, setidaknya dia tidak mengecewakan istrinya yang sedang ngidam. Tapi baru beberapa suap, Salsa sudah menghentikan makannya.
"Kenapa sudah, kan baru beberapa suap."
"Yang penting udah makan yang aku inginkan."
"Sisanya mau aku taruh kulkas nggak? Nanti kalau peng--!".
"Sisanya kamu yang makan! Sampai habis!."
Glek