Night Destiny

Night Destiny
Ingkar Kesekian Kalinya



Bulan berlalu begitu cepat. Usia kandungan Salwa sudah memasuki bulan ke delapan. Sedangkan Salsa, perempuan itu sampai saat ini belum juga mengandung. Kesedihan tentu selalu menyelimutinya apalagi Azka semakin sibuk dari hari ke hari. Dia bahkan sering keluar kota untuk mengurus cabang hotelnya.


"Mas, nanti sore bisa kan, ketemu dr. Melanie. Aku ingin kita program hamil dengan benar," pinta Salsa.


Azka tersenyum, "Kita hanya perlu terus berusaha, sayang. Lagipula kita berdua baik - baik saja."


"Tapi aku ingin punya anak, Mas. Salwa sebulan lagi akan melahirkan. Sedangkan aku, hamil saja belum."


Azka memeluk istrinya, dia juga ingin segera punya anak. Tapi mau bagaimana lagi kalau memang belum diberi oleh Allah.


"Sabar, kita usaha lagi ya. Aku usahakan nanti sore bisa pulang cepat."


"Janji ya?,"


"Janji."


Salsa tersenyum, memiliki suami seperti Akza adalah sebuah keberuntungan. Selain tampan dan mapan. Azka juga sabar dan pengertian.


"Makasih ya, Mas. Makin sayang deh sama kamu."


"Aku juga sayang sama kamu, sayang banget," Azka mengecup kening Salsa dengan lembut.


Usai mengantar suaminya ke depan. Salsa kembali masuk kedalam rumah. Dia mengambil tas dan ponselnya. Usaha milik Salsa sudah semakin berkembang. Bahkan sudah memiliki empat cabang. Meski demikian, Salsa tetaplah menjadi Salsa yang dulu. Penghasilan dari galerynya ia berikan untuk panti. Kini, panti asuhan milik Qomariah semakin besar. Fasilitasnya juga lengkap dan pekerja disana semakin bertambah. Semua tak lepas dari campur tangan Azka dan Salsa. Bahkan banyak rekan kerja Azka yang menjadi donatur tetap untuk panti asuhan itu.


Mengendarai mobilnya, Salsa membelah jalanan padat ibukota. Hampir satu jam, dirinyapun sampai didepan galery miliknya.


"Selamat pagi Bu."


"Pagi, semuanya lancar kan?."


"Lancar, Bu."


Salsa tersenyum, setelah menyapa beberapa pegawainya. Salsa langsung menuju ruangannya. Dia kembali menatap kotak hampers yang sudah lama ada diatas meja.


Baju bayi, sepasang sepatu kain lucu, juga topi dengan warna senada adalah isi kotak tersebut.


"Segeralah hadir, sayang. Bunda mengharapkan kehadiranmu." Salsa mengelus perutnya yang datar. Sebagai seorang wanita, dia juga merasakan rasanya mengandung dan melahirkan.


Anya menatap putrinya yang terlihat sedih. Dirinya sengaja datang kemari karena ingin menemani Salsa. Sebagai seorang ibu, Anya tahu jika kini putrinya sangat mengharapkan hadirnya buah hati dalam rumah tangganya.


"Sayang."


Salsa menatap kedatangan ibunya, "Ma, kenapa nggak bilang kalau mau datang?."


Anya tersenyum lalu menghampiri putrinya, "Memang nggak boleh kalau Mama langsung datang?."


"Ya bukan begitu. Aku kaget saja."


Anya duduk didepan Salsa, dia menaruh kresek berisi brownies kesukaannya diatas meja. "Kesukaan kamu."


Salsa tersenyum, dengan cepat tangannya membuka kresek tersebut. "Mama tahu saja aku lagi pengen ini."


"Mama pasti tahu, makanlah. Habiskan kalau perlu."


"Jangan dong. Nanti Mas Azka kabur kalau aku gendut."


Ibu dan anak itu tertawa. Mereka bercerita banyak hal.


"Kamu jadi menemui dr Melanie sore ini?."


Salsa mengangguk, "Jadi Ma, Mas Azka sudah janji akan datang."


"Apa perlu Mama temani?."


"Tidak usah. Mama kerumah Salwa saja. Dia lebih butuh Mama. Jangan sampai dia merasa diabaikan."


Anya mengangguk, hubungannya dengan Salwa sempat tidak baik karena putri bungsunya itu mengira dia sudah melupakannya. Namun karena rasa sayang dan cintanya pada Salwa, akhirnya Salwa luluh. Dan hubungan mereka kembali hangat.


Hubungan Salwa dengan Salsa, baik namun tidak bisa dikatakan sangat baik. Mereka hanya bertegur sapa biasa jika bertemu. Sementara hubungan Salwa dengan Seno, masih sama. Datar.


"Kalau begitu, Mama pulang dulu ya. Salwa lagi pengen makan masakan Mama. Nanti dia ngembek kalau mama telat datang."


Salsa mengangguk, "Loh, ini sudah lewat makan siang, Ma. Apa masih keburu, kalau Mama masak?."


"Masih kok. Dia minta Mama bawakan buat makan malam."


Salsa ber oh ria. "Ya sudah kalau begitu. Hati - hati dijalan, Ma. Sampaikan salamku untuk Salwa."


Selepas kepergian ibunya. Salsa kembali mengecek keuangan galery. Sesekali dia melirik ke arah jam diatas meja.


"Sebaiknya aku telpon Mas Azka saja. Dia suka lupa kalau lagi kerja."


Salsa menghubungi suaminya, namun panggilannya tidak diangkat.


"Mas Azka kemana sih, sering banget deh ngabaikan aku kayak gini."


Sekali, dua kali bahkan tiga kali. Sama saja. Azka tidak menjawab panggilannya.


"Aku kirim pesan saja."


Setelah mengirim pesan pada suaminya, Salsa segera beranjak menuju klinik dr Melanie. Tidak lama waktu yang Salsa tempuh menuju klinik dr kandungan itu.


Karena sudah membuat janji terlebih dahulu. Maka Salsa tidak perlu menunggu lama. Sayangnya, Azka tak juga datang. Ponselnya bahkan tidak bisa dihubungi sekarang.


"Bu, ibu mau masuk atau masih menunggu suami ibu?," tanya perawat padanya entah yang keberapa kalinya.


Salsa tersenyum getir, ini sudah kesekian kalinya Azka tak menepati janjinya.


Lagi - lagi kamu membuatku kecewa, Mas.


"Saya masuk sekarang saja, sus."


*


*


Apa kabar semua kakak, semoga baik ya.


Oh ya, terima kasih yang masih nunggu dan setia sama cerita ini. Untuk kisah Salwa, aku buat singkat karena disini kan ceritanya Salsa dan Azka. Jadi fokusnya pada mereka.


Jangan lupa komen dan like nya ya.


Makasih