
"Jangan ditekuk terus wajahnya. Coba mana senyumnya?," tanya Salsa pada sang suami. Dirinya baru saja selesai mengemas baju Azka kedalam koper kecil.
Azka menghela nafas kecil, "Berat banget ninggalin kamu sendirian!."
"Kan aku mau kerumah Mama, Mas. Jadi nggak sendirian."
Azka menatap istrinya dengan lembut, "Iya sih. Tapi tetap saja, aku pasti akan merindukanmu."
"Kamu ini Mas, cuma dua hari saja kayak dua tahun."
Pria itu mendekat lalu memeluk wanita yang sangat dia cintai. "Mau dua hari atau dua tahun, tetap saja aku berpisah denganmu. Sungguh sebenarnya aku tidak rela. Tapi apa mau dikata."
Salsa membelai lembut rambut Azka, "Kamu punya tanggung jawab lain selain aku. Jadi, lakukan tanggung jawabmu dengan baik."
"Tentu saja nyonya Ibrahim. Aku ini pria yang bertanggung jawab. Pasti aku tidak akan melupakan semua tugas-tugasku. Termasuk ....!"
"Termasuk apa?," tanya Salsa dengan alis terangkat.
"Memuaskanmu. Aku minta jatahku sekarang untuk dua hari kedepan," bisik Azka dengan suara setaknya.
Tanpa menunggu lama, Azka membawa Salsa menuju kamar mereka. Lalu menghabiskan malam panjang dengan penuh kenikmatan.
*
*
*
"Semua sudah siap?," Salsa bertanya sekali lagi pada suaminya.
Azka mengangguk, "Siap."
Wanita dua puluh enam tahun itu mendekati suaminya, menatapnya lamat lalu tersenyum. "Tampan sekali suamiku ini."
Azka tersenyum, "Itu sudah dari dulu."
Salsa membelitkan tangannya ke pinggang sang suami. "Tentu saja, aku tahu jika kamu memang tampan. Selain tampan kamu juga baik dan perhatian plus hiper."
Azka terkekeh, dia mencium bibir Salsa dengan gemas. "Kamu selalu bisa memuji lalu menjatuhkan!."
"Itulah kelebihan seorang Salsa."
Mereka berpelukan sebelum sesudahnya Azka mengantar istrinya menuju rumah Danar. Sebenarnya, Azka ingin Salsa berada dirumah Bundanya. Namun Anya lebih dulu memintanya datang.
Mobil Azka melaju dengan kecepatan sedang, jarak rumahnya kerumah mertua tidak terlalu jauh, hanya ditempuh kurang dari setengah jam perjalanan.
Kini mobil yang dikendarainya sudah memasuki gerbang ruang Danar. Terlihat Anya berada diteras menyambut kedatangan mereka.
"Kalian sudah sampai?," Anya menghampiri anak dan menantunya.
Salsa tersenyum lalu memeluk Mamanya, "Apa kabar, Ma?."
"Baik sayang. Ayo masuk dulu."
"Aku langsung saja, Ma. Penerbangannya 40 menit lagi," ucap Azka.
"Baiklah, kamu hati - hati dijalan ya, Ka."
Azka mengangguk, dia mencium tangan ibu mertuanya untuk berpamitan. Lalu mencium kening Salsa dengan lembut.
"Aku jalan ya. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku!."
"Pasti."
Azka segera masuk kedalam mobilnya, kemudian melaju menuju Bandara.
"Ayo masuk, Mama sudah tidak sabar menghabiskan banyak waktu denganmu."
Salsa mengangguk, mereka berjalan memasuki rumah sambil bergandengan tangan.
"Sepi sekali, Ma. Papa dan Salwa kemana?."
"Kalau Papa pasti meninjau bisnisnya. Salwa, katanya mau Heling sama teman-temannya. Tadi pagi-pagi sekali dia berangkat."
Salsa dan Anya akan menghabiskan waktu mereka berdua. Perempuan paruh baya itu bahkan sudah membuat list kegiatan yang akan mereka lakukan hari ini dan besok. Mulai dari memasak bersama, berkebun, membuat kue dan bercerita.
Disisi lain, Azka sudah sampai di Bandara. Dengan langkah tegapnya, pria tampan itu menuju ke tampat dimana Saga telah menunggunya.
"Kenapa lama sekali, waktu kita sudah mepet," gerutu sang adik.
"Macet!," jawab Azka santai.
Dua pria tampan itu bergegas masuk kedalam. Setelah melakukan beberapa hal, mereka akhirnya memasuki pesawat yang akan membawa keduanya menuju kota S.
Azka memejamkan mata, dia merindukan Salsa meski baru beberapa menit lalu mereka bertemu.
"Wajahnya jangan ditekuk seperti itu Bang. Senyum. Senyum itu adalah ibadah."
"Ck, jomblo mana tahu yang namanya kangen. Sudah ah, aku mau tidur saja."
Saga hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah abangnya. Dia menatap kedepan karena perjalanan akan segera dimulai. Namun matanya menangkap sosok yang familiar dimatanya.
Dia nekat juga. Baiklah, mari kita lihat apa yang akan terjadi," Saga menyeringai
Saga juga memejamkan setelah mengetik pesan yang entah dia tujukan pada siapa.
Setelah beberapa jam melakukan penerbangan. Akhirnya mereka tiba di kota S. Azka dan Saga langsung menuju hotel untuk istirahat sejenak.
"Selamat datang, tuan Azka!," sapa karyawannya. Mereka memang menginap di hotel milik Azka.
"Sudah disiapkan yang aku minta?."
"Sudah tuan, silahkan!."
Azka mengekori karyawan yang akan membawa mereka ke kamar. Setibanya dikamar, Azka langsung merebahkan dirinya diranjang. Sementara Saga, dia sibuk mengamati interior hotel yang menurutnya sangat menarik.
"Hotelmu bagus juga."
Azka membuka mata, "Apapun yang menyangkut kenyaman pelanggan harus diperhatikan dengan detail, termasuk dekorasi ruangan. Selain itu, keramahan, sigap dan cepat tanggap merupakan salah satu faktor keberhasilan sebuah usaha."
"Kamu memang pengusaha yang berbakat, Bang. Semoga nanti aku menjadi sepertimu!."
"Setiap orang punya keunikan tersendiri. Dan aku yakin, kau akan berhasil menjalankan usahamu dengan caramu sendiri. Satu hal yang perlu kamu ingat, kejujuran, ketekunan, kerja keras dan ketegasan akan mengantarkanmu pada sebuah keberhasilan."
Saga tersenyum, inilah yang dia suka dari Abangnya, Akza memang dewasa dalam pemikiran non cinta. Dia cerdas, pekerja keras dan pantang menyerah. Kalau jujur, jangan ditanya lagi. Tegas, sudah pasti. Azka bukan tipe orang yang suka mentolerir kecurangan. Dia juga disiplin dalam hal apapun.
"Bang, kamu tahu siapa yang aku lihat tadi di pesawat?."
"Siapa?," tanya Azka menaikkan sebelah alisnya.
"Salwa!."